Tenaga kesehatan menyiapkan bed untuk pasien Covid-19 di tenda darurat khusus Covid-19 di RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta, Kamis (1/7/2021). (ilustrasi) | Wihdan Hidayat / Republika
05 Jul 2021, 03:45 WIB

‘Infeksi Pertama Saya tidak Merasakan Semua Itu’

Usahakan punya oximeter untuk mengukur saturasi oksigen.

Banyaknya tenaga kesehatan (nakes) yang terinfeksi Covid-19 meski telah menerima dua dosis vaksin memunculkan pertanyaan sekaligus kekhawatiran. Seberapa kuat sebenarnya ‘pertahanan’ dari nakes kita saat ini.

Berikut wawancara wartawati Republika Rr Laeny Sulistyawati dengan Sri Janatun (48 tahun), laborat di Rumah Sakit Islam Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, yang telah divaksin dua dosis dan mengalami reinfeksi.

Kapan pertama kali terinfeksi Covid-19?

Saya terinfeksi virus yang pertama kali November 2020. Saat itu terasa menggigil. Tiga hari kemudian, teman saya yang sama-sama bekerja di rumah sakit masuk ruang isolasi. Kemudian saya kena pelacakan dan saat dites PCR hasilnya positif.

Terkait

Saat itu saya tidak merasakan gejala Covid-19 seperti batuk, anosmia. Setelah itu, saya isolasi mandiri di rumah. Saat itu saya tidak minum obat, hanya konsumsi vitamin-vitamin dari rumah sakit. Saya melakukan isolasi mandiri selama 14 hari.

Lalu, Anda reinfeksi kapan?

Saya isolasi mandiri reinfeksi ini sejak tanggal 23 Juni 2021. Seharusnya memang baru selesai tanggal 7 Juli, tetapi saya sudah ada jadwal kerja besok. Teman ada yang terkonfirmasi positif, jadi kurang tenaga kesehatannya. Jadi, mau tidak mau harus masuk. Kini, saya sudah fit, saya terus minum obat dan vitamin

Bisa Anda ceritakan kronologi reinfeksi?

Awalnya suami saya pilek. Kemudian saya menggigil lagi saat akan ambil air wudhu, sama seperti gejala infeksi pertama tahun lalu. Kemudian saya melakukan tes antigen dan difasilitasi rumah sakit untuk tes swab PCR. Hasilnya saya positif reinfeksi. Kemudian saya pulang ke rumah dan pindah tempat tidur. Kemudian saya isolasi mandiri di atas.

Bedanya di infeksi kali ini adalah saya mengalami batuk dan pilek, kemudian anosmia yaitu kehilangan penciuman. Awalnya saya berpikir karena pilek, tetapi lama-lama sudah tidak ada ingus. Saya kok tidak bisa mencium bau minyak kayu putih, kemudian nyeri tulang belakang sendi, mual, sakit kepala. Padahal, saat infeksi pertama tidak merasakan semua gejala itu.

 
Bedanya di infeksi kali ini adalah saya mengalami batuk dan pilek, kemudian anosmia yaitu kehilangan penciuman.
 
 

Apa yang membuat Anda reinfeksi padahal sudah divaksin dua dosis?

Wallahu a’lam saya tidak tahu. Saya sudah berusaha memakai alat pelindung diri, masker dobel. Bahkan, baju dan seragam dari rumah sakit sudah ditinggal. Mungkin karena saya juga punya risiko tinggi karena ambil sampel pasien yang baru datang.

Tetapi memang saat ada teman yang akan dimakamkan karena Covid-19, saya jadi tidak sarapan. Kondisi tubuh seperti ini yang mungkin mudah dimasuki virus karena posisi imunnya turun.

Saya harus ikhlas. Saya malah menikmati terinfeksi lagi. Sebab, kalau tidak tertular lagi, saya tidak libur. Saya jadi bisa menikmati waktu di rumah karena saya biasanya jarang di rumah.

Apakah banyak nakes yang reinfeksi?

Kalau sering sih tidak, tetapi ada. Misalnya di bagian yang sama seperti saya di laboratorium, dari 10 orang petugas laborat, tinggal dua orang yang belum tertular. Lainnya sudah terinfeksi, bahkan saya sudah reinfeksi.

Apa yang membuat Anda memilih isoman meski gejalanya sedang?

Karena rumah sakit penuh. Selain itu, mungkin ada yang kondisinya lebih berat dari saya. Meski kondisi saya bergejala sedang, saya memikirkan masyarakat yang kondisinya lebih berat dari kondisi saya dan butuh kamar perawatan.

 
Jadi, selama isoman saya tidak ingin seperti orang sakit, saya ingin tetap aktif. Saya justru malah malu kalau sampai didatangi ke rumah.
 
 

Apa yang dilakukan selama isolasi mandiri?

Saya biasa aktif, banyak kegiatan. Jadi, di rumah malah jenuh kalau tidak diisi kegiatan. Selama isolasi mandiri, saya bersih-bersih, mandi, berjemur. Saya juga mengaji sampai menyelesaikan 30 juz.

Jadi, selama isoman saya tidak ingin seperti orang sakit, saya ingin tetap aktif. Saya justru malah malu kalau sampai didatangi ke rumah.

Apa imbauan Anda untuk masyarakat yang isoman?

Usahakan punya oximeter untuk mengukur saturasi oksigen. Kalau di bawah 95, segera konsultasi pada dokter. Kemudian kalau tidur usahakan tidak telentang karena bisa sesak napas. Kalau bisa tidur dengan posisi tengkurap atau tidur sambil duduk bersandar bantal.


×