Persiapan menjelang | Oana Cristina Unsplash
05 Jul 2021, 09:20 WIB

Si Putri Kecil Mulai Besar? Infokan Hal Ini

Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) sangat penting dikuasai oleh anak perempuan.

Winda Sari ingat ketika dulu mengalami menstruasi pertamanya. ‘’Saya kaget banget. Langsung panik ketika pertama kali mens,’’ ujar perempuan berusia 42 tahun ini.

Kekalutan itu baru mereda saat ibunya menjelaskan bahwa proses tersebut normal untuk tiap perempuan. Dia pun saat ini maklum jika kaget luar biasa saat itu. Ini lantaran sang ibu dulu tidak pernah menceritakan apa pun tentang menstruasi atau  tindakan untuk menghadapi menstruasi pertama.

Agar kejadian serupa tidak dialami oleh putri semata wayangnya, dia pun sudah mengenalkan tentang proses menstruasi sejak awal. ‘’Saya sudah menceritakan proses mens itu ketika putri saya berusia 10 tahun,’’ katanya.

Bagi dia, lebih awal menceritakan hal ini akan lebih baik ketimbang harus mengalami kekalutan yang dialaminya. Maka, ketika sang putri mendapatkan menstruasi pertama saat sudah duduk di bangku SMP, dia tetap merasa langkahnya ini cukup tepat. ‘’Lebih baik antisipatif sejak awal, bukan?’’ ujarnya saat ditemui akhir Juni lalu.

Terkait

Menstruasi merupakan proses biologis yang normal dialami setiap perempuan. Setiap anak perempuan idealnya mendapat pengetahuan mengenai menstruasi sebelum mengalami menarke (menstruasi untuk pertama kalinya).

Pengetahuan ini sangat penting agar anak perempuan dapat menjaga kebersihan dan kesehatan organ intim kewanitaan selama masa menstruasi, serta tetap bisa beraktivitas dengan nyaman. Hal tersebut diungkapkan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dr Dwi Oktavia Handayani, M. Epid.

Namun sayangnya, dokter Dwi mengungkapkan data dari UNICEF Indonesia, satu dari empat anak di Indonesia tidak pernah mendapatkan informasi tentang menstruasi sebelum mereka mendapatkan menstruasi pertama. Selain itu, data UNICEF tahun 2019 juga menunjukkan hanya satu dari dua anak perempuan yang mengetahui bahwa menstruasi itu adalah tanda fisik perempuan bisa hamil.

Anggota Pengurus Besar Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Prof Dr dr Dwiana Ocviyanti, Sp.OG(K), MPH menjelaskan mentsruasi adalah kondisi yang normal terjadi pada seorang perempuan. Ini adalah proses keluarnya‘darah’ selama beberapa hari (3 sampai 7 hari) dari organ intimnya, satu periode setiap bulannya (setiap 21, 28, atau 35 hari).

Mentsruasi pada awalnya menandakan seorang perempuan sudah siap untuk bereproduksi (memiliki anak), karena haid didahului oleh proses matangnya sel telur yang siap dibuahi. Darah yang dikeluarkan sebetulnya merupakan lapisan dalam rongga rahim yang dipersiapkan sebagai tempat menempelnya sel telur yang sudah dibuahi, yang selanjutnya akan berkembang menjadi janin.

Ia mengatakan pada saat menstruasi, risiko infeksi meningkat karena bertambahnya jumlah bakteri buruk di vagina akibat turunnya tingkat keasaman vagina karena keberadaan darah haid. Infeksi yang mungkin terjadi di antaranya infeksi saluran reproduksi, infeksi saluran kemih, infeksi jamur dan peningkatan risiko kanker serviks.

“Oleh karena itu, penting untuk menerapkan Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) di antaranya membersihkan vagina secara benar, teliti dan berkala,” ujarnya dalam pertemuan virtual ‘Sehat dan Bersih Saat Menstruasi’.

 

 

 

Penting untuk menerapkan Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) di antaranya membersihkan vagina secara benar, teliti dan berkala.

 

 Prof Dr dr Dwiana Ocviyanti, Sp.OG(K), MPH
 

 

Dwiana menerangkan tidak hanya pada saat menstruasi, perawatan area vagina juga harus diperhatikan setiap hari. Hal ini untuk menjaga kesehatan dan menghindari masalah seperti keputihan, gatal, bau tidak sedap, peradangan, hingga pencegahan penyakit serius seperti kanker serviks. Merawat vagina sangatlah mudah, yaitu dengan membasuh vagina dengan air mengalir setelah buang air kecil dan besar. Ia juga mengingatkan untuk menghindari membersihkan vagina dengan sabun mandi, melainkan gunakan pembersih kewanitaan yang sesuai dengan pH vagina dan mendukung flora normal di area kewanitaan.

Ia juga menyarankan untuk menggunakan tisu berbahan lembut untuk mengeringkan vagina. Jangan lupa cuci tangan sebelum dan sesudah membersihkan vagina, gunakan celana dalam berbahan katun serta ganti celana dalam saat terasa lembab atau basah. “Bagi perempuan yang sudah kontak seksual dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan pap smear atau IVA secara teratur.”

Malu saat menarke

Ketua Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia Wilayah Jakarta, Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psi., memaparkan satu dari empat anak di Indonesia tidak pernah menerima informasi tentang menstruasi sebelum menarke.

Menurutnya, anak perempuan yang tak pernah diajak bicara soal menstruasi cenderung merasa takut, malu dan bingung saat menarke. Padahal jika ibu meluangkan waktu untuk membicarakan hal ini dengan putrinya, banyak manfaat yang didapat, antara lain kesehatan reproduksi yang lebih baik serta kedekatan ibu dan anak.

Ia mengungkapkan tidak sedikit anak perempuan yang mencari informasi sendiri dari teman atau internet, dan mendapatkan info yang tidak tepat. Padahal dia berharap bisa membicarakan hal ini dengan ibunya. Oleh karena itu, ibu perlu membekali diri dengan pengetahuan tentang cara membicarakan menstruasi.

Ada beberapa faktor yang membuat bicara soal menstruasi itu sulit, misalnya pembicaraan menstruasi dinilai tabu. Selain itu, kadang ibu bingung mau memulai pembicaraan menstruasi dari mana. Pengetahuan ibu juga kurang untuk bicara menstruasi. Selain itu, remaja juga meragukan kemampuan ibu untuk menjelaskan menstruasi.

Untuk itu, Anna menyarankan agar masalah menstruasi sebaiknya dibicarakan karena akan memberikan efek baik yaitu kesehatan reproduksi remaja lebih baik, menunda hubungan seksual pertama, mengurangi risiko masalah kesehatan mental terkait seksualitas dan relasi ibu-remaja lebih dekat.

"Sebaliknya jika tidak dibicarakan maka akan muncul emosi negatif seperti takut, cemas, malu, marah, dan lainnya. Anak juga akan tidak siap menghadapi menarke dan terjadi kesalahpahaman tentang menstruasi," ujarnya.

 

photo
Carilah momen yang tepat untuk menjelaskan soal menstruasi pada anak perempuan (ilustrasi) - (master1305 Freepik)

Bukan Hal Tabu

Agar anak perempuan bisa memperoleh informasi yang cukup tentang menstruasi, tampaknya ini menjadi tugas seorang ibu meski tak menutup kemungkinan ayah pun dapat turut mendukung. Lantas, bagaimanakah langkah-langkah yang tepat untuk mendiskusikan menstruasi dengan anak? Berikut di antaranya:

1.Ingat bahwa ibu adalah sosok yang diharapkan membicarakan menstruasi.

Ibu perlu membekali diri dengan pemahaman yang tepat tentang menstruasi. Ibu perlu paham mitos atau fakta tentang menstruasi.

2.Buang pemikiran bahwa bicara menstruasi itu tabu.

Pembicaraan tentang menstruasi penting untuk meningkatkan kesehatan reproduksi perempuan generasi penerus bangsa.

3.Jangan berpikir bahwa topik menstruasi bisa dibicarakan dalam satu kali pertemuan. Lakukan berulang kali secara bertahap. Topik ‘menstruasi’ dapat dibicarakan sejak ada tanda-tanda awal pubertas, atau sebelumnya. Sesuaikan pembicaraan dengan usianya.

4.Bersikap positif karena isu menstruasi bisa sensitif buat anak perempuan.

5.Lebih baik banyak bertanya dan mendengarkan jawaban remaja.

Ibu bisa berbagi pengalaman pribadi secara positif. Jika tak siap menjawab pertanyaan anak, katakan butuh waktu berpikir dulu. Setelahnya cari informasi dan jawablah.

6.Jelaskan secara konkret dengan gambar dan benda yang digunakan.

Gunakan gambar anatomi tubuh sederhana sembari menjelaskan. Tunjukkan pembalut dan ajari cara menggunakannya.

7.Jelaskan pula kepada anak laki-laki, supaya mereka dapat menghormati perempuan yang sedang menstruasi.

Tujuannya agar anak laki-laki dapat lebih menghargai dan memahami perempuan. Anak laki-laki diharapkan tidak mengejek atau mempermalukan anak perempuan yang sedang menstruasi, namun dapat membantu.

 


×