Menteri Luar Negeri Retno Marsudi berjalan saat akan mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (26/1/2021). Menlu RI menyinggung masih banyak negara yang membangun tembok-tembok pemisah jelan | ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
30 Jun 2021, 03:45 WIB

Menlul RI Kembali Tekankan Multilateralisme Jelang G-20

Menlu RI menyinggung masih banyak negara yang membangun tembok-tembok pemisah.

ROMA – Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menekankan pentingnya multilateralisme dalam menangani serta menghadapi tantangan global. Dia menyoroti masih adanya negara-negara yang membangun tembok pemisah.

“Dunia hadapi banyak tantangan, mulai dari Covid-19, pemulihan ekonomi, sampai ketahanan pangan. Untuk menghadapi hal tersebut, tidak terdapat pilihan kecuali membuat multilateralisme dan global governance bekerja dengan baik,” kata Retno dalam konferensi virtual sesaat setelah menghadiri pertemuan fisik perdana para menlu G-20 di Matera, Italia, Selasa (29/6).

Dalam pertemuan yang mengangkat tema “People, Planet, and Prosperity” itu, Retno menyinggung tentang masih banyaknya negara yang membangun tembok-tembok pemisah. Padahal saat ini dunia memerlukan jembatan untuk mengatasi perbedaan. “Saya dorong seluruh negara G-20 untuk atasi perbedaan, bangun kesatuan. Build bridges, not wall,” ujarnya.

Terkait

Retno menekankan, G-20 harus berfungsi sebagai katalis untuk memperkuat multilateralisme serta mengirim pesan tunggal bahwa dunia harus maju bersama. Vaksin adalah contoh yang diangkat Retno dalam pertemuan tersebut.

“Banyak negara mengatakan vaksin merupakan barang publik global, maka yang diperlukan adalah meningkatkan komitmen multilateralisme,” ucapnya.

Menurut Retno, terkait vaksin, komitmen multilateral yang perlu ditingkatkan adalah untuk tiga hal. Pertama melakukan pembagian dosis lebih banyak melalui Covax. Kedua mendukung TRIPS waiver melalui Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Terakhir, menyediakan pendanaan untuk menutup kekurangan dana ACT-A.

Retno pun memberi contoh lain, yakni di bidang perdagangan. “Pada saat kita berbicara perdagangan untuk pertumbuhan ekonomi, maka pertumbuhan yang harus dicapai adalah pertumbuhan yang inklusif, yang dinikmati semua negara,” katanya. 

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, kesenjangan vaksin di antara negara kaya dan miskin terjadi. Negara-negara kaya memvaksinasi kaum muda yang tidak berisiko besar Covid-19, sementara negara-negara miskin sangat kekurangan dosis.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengkhawatirkan situasi di Afrika yang menurutnya sangat berbahaya oleh karena varian baru Covid-19, Delta menyebar secara global. Dia mencatat infeksi baru dan kematian di Afrika melonjak hampir 40 persen. "Dunia kita gagal, sebagai komunitas global kita gagal," ujarnya.

Tedros mengecam negara-negara yang tidak disebutkan namanya karena enggan berbagi dosis dengan negara-negara berpenghasilan rendah. Dia membandingkannya dengan krisis HIV/AIDS, ketika beberapa orang berpendapat bahwa negara-negara Afrika tidak dapat menggunakan perawatan yang rumit.

"Perbedaannya adalah antara si kaya dan si miskin yang sekarang benar-benar mengekspos ketidakadilan dunia kita, ketidakadilan, ketidaksetaraan, mari kita hadapi itu," ujarnya menambahkan.


×