Tenaga kesehatan keluar dari tenda darurat Poli Covid-19 RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta, Senin (28/6/2021). | Wihdan Hidayat / Republika

Nasional

29 Jun 2021, 03:45 WIB

Nakes Terus Bertumbangan

Nakes di berbagai daerah terus bertumbangan terpapar Covid-19.

YOGYAKARTA – Tenaga kesehatan (nakes) di berbagai daerah terus bertumbangan terpapar Covid-19 meski telah menerima dua dosis vaksin. Jumlah sumber daya untuk penanganan Covid-19 menjadi kian terbatas. Berbagai pihak menyerukan ada upaya luar biasa untuk menghentikan laju penularan yang sudah sangat mengkhawatirkan.

Nakes di DI Yogyakarta yang menangani pasien Covid-19 terus berkurang jumlahnya dalam dua pekan terakhir karena ikut terpapar. Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes DIY, Yuli Kusumastuti mengatakan, rumah sakit harus mencari jalan keluar untuk mencukupi kebutuhan nakes agar pelayanan berjalan dengan baik.

“SDM (sumber daya manusia) yang terbatas kemudian ditambah beberapa terkonfirmasi, sesuai prosedur (menjalani) isolasi mandiri dan ini yang semakin memperberat (beban nakes),” kata dia dalam konferensi virtual, Senin (28/6).

Dari 27 rumah sakit rujukan penanganan Covid-19 yang ada di DIY, seluruhnya sudah pernah melaporkan bahwa ada nakes yang terpapar Covid-19. Dia menyebut, sekitar 40 sampai 45 nakes terkonfirmasi positif di RSUD Kota Yogyakarta. “Ini cukup mengganggu stabilitas pelayanan,” ujar Yuli.

photo
Tenaga kesehatan memeriksa jenazah pasien di tenda darurat RSUD Chasbullah Abdulmajid Kota Bekasi, Jawa Barat, Ahad (27/6/2021). - (Republika/Thoudy Badai)

Di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta setidaknya sudah 20 persen SDM-nya yang terkonfirmasi positif Covid-19. Sebagian besar SDM yang terkonfirmasi merupakan perawat dan dokter yang menangani langsung pasien Covid-19.

Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah, Mohammad Komarudin mengatakan, penambahan kapasitas bed penanganan Covid-19 bisa saja ditambah. Namun, penambahan kapasitas ini tetap harus mempertimbangkan kemampuan SDM yang ada.

“Dokter jaga IGD setelah (jumlahnya) berkurang, kemarin tujuh dokter (juga terpapar) dan dokter lain sudah bergejala, sudah melakukan isolasi mandiri. Ruangan masih bisa bisa manfaatkan, tapi sekali lagi SDM sangat terbatas,” ujar dia.

RS Panti Rapih juga mengeluhkan hal yang sama. SDM yang terpapar Covid-19 sudah mencapai 31 orang sejak Mei hingga Juni 2021 ini. SDM ini terdiri dari enam dokter, petugas administrasi dan perawat.

RSUP Dr Sardjito Yogyakarta juga melaporkan ada 204 SDM-nya yang terpapar Covid-19. Saat ini, 185 SDM melakukan isolasi mandiri, 15 SDM isolasi di tempat yang sudah disediakan Sardjito dan empat SDM lainnya tengah mendapatkan perawatan intensif karena positif dengan kondisi yang berat.

“Ada peningkatan (SDM yang terpapar) di Februari sampai Mei, rata-rata terpapar sebulan 30-an orang,” kata Direktur Utama RSUP Dr Sardjito, Rukmono Siswishanto.

Di Puskesmas I Purwokerto Timur, Jawa Tengah, sebagian besar karyawannya terpapar Covid 19. Menyusul kejadian itu, Puskesmas Purwokerto Timur ditutup sementara selama sepekan hingga 5 Juli 2021.

“Dari 40 karyawan dan nakes yang bertugas di puskesmas tersebut, ada 32 orang yang terpapar Covid-19,” kata Bupati Purwokerto, Achmad Husein. Tidak hanya dokter dan perawatnya, tenaga staf puskesmas lainnya juga terkonfirmasi positif Covid-19.

photo
Sejumlah tenaga kesehatan memeriksa kesehatan pasien Covid-19 yang sedang menjalani isolasi mandiri di Hotel Grand Asrilia, Jalan Pelajar Pejuang, Kota Bandung, Senin (28/6/2021).  - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Sebanyak 55 nakes di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA) Kota Bandung terkonfirmasi positif Covid-19. Direktur RSKIA, Taat Tagore menuturkan, jumlah nakes yang terpapar Covid-19 merangkak naik signifikan sejak dua pekan lalu hingga akhirnya mencapai 55 orang. “Mulai naik dua pekan lalu. Nambah terus,” ujar dia.

Sementara di Bogor, Jawa Barat, sebanyak 336 nakes dinyatakan positif Covid-19. Sebagian besar kesehariannya, mereka bertugas menangani pasien Covid-19. Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto mengatakan, ratusan kasus tersebut merupakan kasus aktif. “Dan presentasenya terus naik,” kata Bima Arya.

Bima Arya mengatakan, sebagian besar nakes terpapar dari rumah sakit dan keluarganya. Agar rumah sakit tidak lumpuh karena banyaknya nakes yang terpapar, kata Bima, pemerintah harus melakukan langkah pencegahan Covid-19 yang lebih strategis.

“Ini artinya mungkin saat ini masih bisa, tapi kalau tidak ada langkah-langkah yang lebih strategis lagi, maka rumah sakit kita bisa lumpuh. Itu yang sangat kita khawatirkan,” ujar dia.

‘Sudah Nyaris Melampaui Kapasitas Kita Semua’

Laju kenaikan kasus aktif masih berlanjut dan semakin mengkhawatirkan. Pada Senin (28/6), Satgas Penanganan Covid-19 melaporkan ada tambahan 10.791 kasus aktif baru, sehingga jumlah kasus aktif Covid-19 di Indonesia saat ini mencapai 218.476 orang. Kenaikan kasus aktif, selalu berbanding lurus dengan beban nakes.

photo
Tenaga kesehatan beristirahat sejenak disela menangani pasien Covid-19 di RSUD Kota Bogor, Jawa Barat, Ahad (20/6/2021). Tercatat sekitar 90 persen tingkat keterisian tempat tidur di RSUD Kota Bogor telah terisi oleh pasien positif Covid-19 dengan total pasien sebanyak 115 orang. -- Republika/Putra M. Akbar - (Republika/Putra M. Akbar)

Ahli epidemiologi hingga kepala daerah pun menyerukan adanya kebijakan luar biasa untuk menghentikan laju penularan yang kian tak terkendali ini. Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, mengusulkan agar gedung perkantoran perlu tutup untuk sementara dan mempekerjakan para pegawainya dari rumah.

“Tidak PSBB (pembatasan sosial berskala besar) tidak apa-apa. Asal gedung perkantoran ditutup sampai dua pekan dalam kondisi seperti ini. Kan bisa semua pakai digital di rumah. Yang ke kantor kalau bisa hanya satu persen, itu juga kalau ada yang urgent,” kata dia saat dihubungi Republika, Senin (28/6).

Menurut Dicky, masa kritis ini masih panjang, bahkan bisa sampai akhir Juli. Dia mengimbau semua orang untuk mengurangi kegiatan di luar rumah. “Kalau semua taat akan makin cepat kasus ini menurun,” kata dia.

Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto, mengusulkan pemerintah pusat agar kembali menerapkan pembatasan ketat di wilayah Jabodetabek seperti pada PSBB tahap pertama. “Situasi Covid-19 sudah sangat mengkhawatirkan. Sudah nyaris melampaui kapasitas kita semua untuk menangani,” ujar dia.

Dia menilai, pemerintah pusat harus berani mengambil langkah-langkah kebijakan yang lebih ketat. Mungkin tidak dipukul rata secara nasional, kata dia, tapi bisa diberlakukan sesuai dengan kedaruratan di wilayahnya. Di sisi lain, kata Bima, nakes terus bertumbangan.

Sementara di sisi lain, kebijakan reaktif, insidental, seperti pelarangan mudik, pembatasan mobilitas, realitanya memang sulit dijalankan dengan maksimal di lapangan. “Jadi PPKM yang kita terapkan sekarang ini terlihat belum maksimal untuk mengatasi persoalan yang semakin berat,” ujar Bima.


×