Cek kesehatan mata Anda (ilustrasi) | freepik
28 Jun 2021, 09:48 WIB

Penglihatan Bermasalah? Waspadai Glaukoma

Glaukoma merupakan penyebab kebutaan tertinggi kedua di dunia setelah katarak.

Glaukoma merupakan penyebab kebutaan tertinggi kedua di dunia setelah katarak. Ironisnya, penderita glaukoma seringkali tak menyadari kondisi mereka sampai akhirnya terlambat dan penglihatan mereka terenggut.

"Kenapa kita sebut glaukoma ini si pencuri penglihatan, karena banyak sekali penderita glaukoma yang tidak sadar bahwa dia menderita glaukoma," jelas dokter subspesialis glaukoma Jakarta Eye Center (JEC) dr Iwan Soebijantoro SpM(K) dalam ajang virtual yang berlangsung pada Mei lalu.

Glaukoma merupakan kerusakan saraf mata yang ditandai dengan adanya gangguan lapang pandang. Kerusakan saraf mata tersebut disebabkan oleh tekanan bola mata yang tinggi. Pada kasus glaukoma, tekanan bola mata bisa mencapai di atas 21 mmHg. "Tekanan bola mata (yang tinggi) merupakan faktor risiko utama terjadinya glaukoma," ujar dr Iwan.

photo
Periksa mata (ilustrasi) (dok Republika)

Di dalam mata, terdapat cairan yang dikenal sebagai aqueous humor. Dilansir dari Brightfocus Foundation, cairan ini menyediakan nutrisi bagi mata sekaligus menjaga tetap berada dalam keadaan yang bertekanan.

Dalam kasus glaukoma, aliran aqueous humor di dalam mata ini bermasalah sehingga tertimbun di dalam bola mata. Akibatnya, tekanan bola mata menjadi tinggi. Tekanan yang sangat tinggi dapat memicu terjadinya ekskavasi atau cupping dari saraf optik, yang kemudian berujung pada glaukoma. "Ada juga karena terjadinya penurunan suplai darah ke saraf optik atau saraf mata sehingga terjadi kerusakan glaukoma," ujar Iwan.

Glaukoma sebenarnya bisa dideteksi dengan melakukan pemeriksaan secara berkala. Ada beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk mendeteksi glaukoma.

Pemeriksaan yang pertama adalah pemeriksaan tekanan bola mata. Pemeriksaan lain yang bisa dilakukan adalah pemeriksaan sudut bilik mata atau gonioskopi. Ini merupakan prosedur diagnostik rutin yang membantu mengevaluasi kondisi saluran drainase untuk menentukan tipe glaukoma sudut terbuka atau tertutup.

Ada pula pemeriksaan saraf optik. Pemeriksaan ini bisa dilakukan dengan evaluasi struktur mata menggunakan Optical Coherence Tomography (OCT) Glaucoma, retina mata atau foto fundus, dan Heidelberg Retina Tomography (HRT).

Untuk pengobatan, dr Iwan mengatakan terapi glaukoma bisa dilakukan dengan sejumlah cara berupa penggunaan obat-obatan atau medikamentosa, laser, dan operasi. Jenis terapi yang dipilih akan sangat bergantung pada kondisi masing-masing pasien.

Penanganan glaukoma juga perlu disertai dengan pemeriksaan yang teratur. Akan tetapi, sebagian pasien glaukoma mungkin tidak melakukan pemeriksaan rutin di masa pandemi Covid-19 karena berbagai alasan. Dokter subspesialis glaukoma dan Ketua Layanan Glaukoma JEC Eye Hospitals & Clinics Prof Dr dr Widya Artini Wiygo SpM(K) mengatakan penanganan glaukoma tanpa pemeriksaan teratur pada dasarnya berbahaya.

"Sebelum pandemi, pada pasien yang berkunjung rutin pun masih didapati adanya peningkatan tekanan bola mata atau kerusakan saraf optik," papar Prof Widya.

Mengingat glaukoma bisa terjadi tanpa gejala, Prof Widya mengatakan sangat mungkin penderita tidak menyadari adanya penurunan pada fungsi penglihatan mereka. Menunda-nunda pemeriksaan berkala dalam jangka waktu yang panjang bisa berdampak pada perburukan kondisi glaukoma pasien.

"Ingat, kerusakan saraf mata karena glaukoma tidak dapat disembuhkan, dan kebutaan akibat penyakit ini berlangsung permanen," jelas Prof Widya.

 

 

 Ingat, kerusakan saraf mata karena glaukoma tidak dapat disembuhkan, dan kebutaan akibat penyakit ini berlangsung permanen.

 

Prof Dr dr Widya Artini Wiyogo 
 

 

 Beragam Jenis Glaukoma

Secara umum, glaukoma dapat dibedakan menjadi empat jenis. Apa sajakah? Berikut pemaparan dokter subspesialis glaukoma Jakarta Eye Center (JEC) dr Iwan Soebijantoro SpM(K).

1. Glaukoma primer sudut terbuka

Ini merupakan jenis glaukoma yang paling sering terjadi. Jenis glaukoma ini tidak bergejala dan berjalan kronik progresif. Pada kasus glaukoma primer sudut terbuka, sudut bilik mata depan terbuka lebar.

2. Glaukoma primer sudut tertutup

Jenis ini dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kronik yang tidak bergejala dan yang akut atau tiba-tiba. Glaukoma primer sudut tertutup akut bisa disertai dengan gejala seperti nyeri hebat, melihat halo atau pandangan kabur, hingga pusing, mual, dan muntah.

Kasus akut ini ditandai dengan tekanan bola mata atau tekanan intraocular (TIO) yang tinggi mendadak, edema atau pembengkakan pada kornea, bilik mata depan dangkal, atropi atau kematian iris, glaukomflecken atau katarak karena TIO meningkat, dan mid dilatasi pupil.

3. Glaukoma sekunder

Ini merupakan glaukoma yang dipicu oleh masalah lain yang menyebabkan peningkatan tekanan bola mata. Beberapa contoh masalah yang dapat memicu glaukoma sekunder adalah perdarahan di dalam bola amta atau hifema, penggunaan obat-obatan kortikosteroid baik tetes atau minum, diabetes mellitus yang tidak terkontrol, dan radang atau infalamasi. "Radang atau inflamasi dari bola mata itu sendiri kita sebut dengan uveitis, gigi yang berlubang saja bisa menyebabkan peradangan pada bola mata," jelas dr Iwan.

Glaukoma sekunder juga dapat dipicu oleh katarak yang dibiarkan hingga menjadi terlalu "matang" atau hipermatur. Yang cukup disayangkan, banyak pasien katarak di Indonesia yang menunda dan baru mau menjalani operasi bila katarak mereka sudah mencapai tahap terlalu "matang" ini.

4. Glaukoma kongenital

Ini merupakan glaukoma yang terjadi pada bayi baru lahir. Bayi-bayi baru lahir ini bisa mengalami glaukoma karena memiliki gangguan pada aliran aqueous humor.

Waspadai Faktor Risiko Ini

Ada sejumlah faktor risiko yang bisa memicu kehadiran glaukoma. Berikut di antaranya:

-Ada tekanan bola mata yang tinggi.

-Berusia 40 tahun ke atas.

-Menderita myopia atau minus dan plus atau hipermetropia yang tinggi.

-Mengidap penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus atau hipertensi dan kelainan kardiovaskular.

-Pernah cedera mata.

-Menggunakan steroid dalam jangka panjang seperti yang biasa dilakukan oleh penderita asma, alergi, autoimun, atau rematik.

-Riwayat keluarga karena individu yang memiliki anggota keluarga penderita glaukoma berisiko sembilan kali lebih besar untuk mengalami glaukoma.

 

 


×