Haedar Nashir | Daan Yahya | Republika
26 Jun 2021, 03:50 WIB

Jakarta

Kekuatan Jakarta justru pada identitas yang menyejarah, bukan pada kemetropolitanannya yang ragawi.

OLEH PROF HAEDAR NASHIR

Ketika kecil, anak-anak di penjuru negeri bermimpi ke Jakarta. Ibu Kota Negara Republik Indonesia yang bersejarah. Rasanya tidak lengkap hidup ini kalau belum ke Jakarta.

Terbayang Istana Negara, Tugu Monas, Museum Nasional, Stasiun Gambir, Bundaran Hotel Indonesia, serta tempat-tempat bersejarah yang selalu diceritakan guru di sekolah. Mungkin masih banyak anak negeri, termasuk guru sejarah, tidak berkesempatan ke Jakarta sampai akhir hayatnya.

Tahun 1971 penulis masih kelas enam Sekolah Dasar. Pertama kali ke Jakarta, senang sekali. Meski Bandung-Jakarta tidak terlalu jauh, bisa ke Jakarta sungguh pengalaman luar biasa. Melihat Istana Merdeka dan Tugu Monas terasa mempesona.

Terkait

Lapangan Banteng saat itu masih terminal bus dan kawasan terbuka. Tahun itu menjadi ajang kampanye meriah Pemilu pertama di era Orde Baru. Manggarai banyak kebun dan pepohonan rindang. Dua minggu di Jakarta merupakan pengalaman yang membekas hingga kini.

Bagi anak-anak Indonesia, Jakarta bukan hanya kota besar. Jakarta adalah Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ibu Kota saksi utama sejarah perjuangan bangsa. Di Jakarta itulah, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Soekarno-Hatta membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

 
Bagi anak-anak Indonesia, Jakarta bukan hanya kota besar. Jakarta adalah Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ibu Kota saksi utama sejarah perjuangan bangsa. 
 
 

Boleh jadi suatu saat akan hadir kota baru supermodern di negeri ini. Namun Jakarta tak tergantikan sebagai Ibukota Bersejarah. Hanya Jakarta yang menyimpan jejak perjalanan Indonesia terlengkap sejak era Sunda Kelapa, Jayakarta, dan Batavia yang melegenda!

Ibu Kota bersejarah

Beragam orang memandang Jakarta saat ini dengan kacamata stigma. Kota ini dianggap sarat beban. Meminjam istilah WS Rendra, menjadi “kasur tua”. Banjir dan kemacetan jadi kambing hitam utama. Jakarta yang metropolitan dianggap kejam.

Modernisme, tulis Anthony Giddens, memang Juggernaut. Seperti kereta raksasa yang menggilas siapa saja. Namun, tidak sedikit orang sukses di Jakarta, sebagian mungkin melupakan Jakarta.

Ebiet G Ade bersenandung pilu tentang “Jakarta”: “Selamat pagi padamu, Jakarta / Di pintumu kau tak sambut tanganku / Hanya suara tawamu kudengar parau, Jakarta / Dan nafasmu gemuruh gemerlapan....../ Inikah Jakarta / Hanya beginikah kiranya Jakarta / Kau cambuk punggung siapa saja / Yang kalah atau yang tetap bertahan / Bahkan di sini matahari seperti enggan terbit dari timur lagi / Tidak seperti di kampungku yang damai...”.

Jakarta sarat masalah itu lumrah. Kota megah di manapun makin lama kian kompleks. Ketika Gubernur Ali Sadikin memodernisasi Jakarta atas perintah Presiden Soekarno, kota ini dibangun menjadi metropolitan.

Bung Karno menginginkan Jakarta supermodern yang mampu bersaing dengan Ibu Kota lainnya di dunia. Lalu ada yang tercerabut dari Jakarta. Max Weber menyebut anomali seperti itu sebagai fenomena “disenchantment of the world”, hilangnya pesona dunia akibat nalar modernisme yang instrumental.

 
Jakarta sarat masalah itu lumrah. Kota megah di manapun makin lama kian kompleks. 
 
 

Kota semegah apa pun suatu saat akan kehilangan pesona jika alam pikirnya sama, modern kapitalistik. Jakarta terus dikapitalisasi dan dieksploitasi melebihi kemampuan dirinya. Solusi atas kerumitan pun menggunakan jalan pintas, membakar lumbung karena di dalamnya banyak tikus.

Menurut pandangan posmodern, alam kehilangan watak alamiahnya karena dirusak. Manusia  terdehumanisasi oleh ulahnya sendiri. Jakarta pun, tulis Susan Blackburn, akhirnya menjadi “isolated city”, kota yang terasing dan dilupakan.

Padahal, berabad lamanya Jakarta bertumbuh sebagai kota terbaik di zamannya. Prasasti Tugu di era Kerajaan Tarumanegara abad 4-7 Masehi, menyebut kawasan Sunda Kelapa ini memiliki “kali yang indah dengan air bersih”.

Tome Pires yang datang tahun 1513 berkisah, “Pelabuhan Kalapa bagus sekali. Inilah pelabuhan terpenting dan terbaik dari semuanya.” Seorang Jerman bernama Christopher Fryke yang berkunjung pada 1680 memberi kesaksian, Jakarta “lebih indah daripada Amsterdam”.

Jakarta itu berkarakter kuat. Susan Blackburn (1989) memberi kesaksian yang elegan: “Jakarta berbeda dengan wilayah lain di Indonesia dan memiliki dunianya sendiri karena kota ini memiliki konsentrasi urban terbesar; karena kota ini merupakan pusat pemerintahan dan administrasi; karena kota ini memiliki banyak hak istimewa, dan karena kota ini merupakan tempat kebudayaan-kebudayaan berasimilasi.” Bhinneka Tunggal Ika justru hidup di Jakarta. Ibu Kota yang berakar budaya Betawi ini menjadi “cerminan Indonesia” dan “mikrokosmos Indonesia”, tulis peneliti Australia itu.

 
Kekuatan Jakarta sebagai Ibu Kota justru pada identitasnya yang menyejarah, bukan pada kemetropolitanannya yang ragawi.
 
 

Kekuatan Jakarta sebagai Ibu Kota justru pada identitasnya yang menyejarah, bukan pada kemetropolitanannya yang ragawi. Kota lain dapat dibangun supermodern, tetapi tak bisa menggantikan Jakarta yang mengindonesia.

Presiden Soekarno mengabadikan Jakarta dengan segala monumen kesejarahan sebagai tonggak penting bagi generasi Indonesia. Jiwanya menyatu dengan Jakarta sampai akhir hayatnya. Putra Sang Fajar itu tiada henti menyadarkan bangsanya tentang “Jasmerah”. Jangan sampai melupakan sejarah!

Ratu Timur

Sebuah kota hadir dengan sejarahnya sendiri. Di sana hidup kolektivitas manusia yang berhasrat kuat membangun kebudayaan untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Bangsa tanpa sejarah itu ringkih dan akan mengalami disorientasi kehidupan.

Adolf Heeken yang aseli Jerman dan menulis 13 buku tentang Jakarta, lebih memilih tinggal di Ibu Kota karena inspirasi sejarah. Dia mengeluhkan, “Tidak banyak warga Jakarta menaruh perhatian, apalagi berusaha mengenal sejarah tempat tinggal mereka.”

James Gray membuat film ternama, The Lost City of Z. Kisah petualangan yang diperankan Percy Fawcett, yang menjelajah hutan Amazon untuk mencari kota emas yang dipergunjingkan orang.

Fawcett bersama anaknya hilang seakan ditelan bumi. Kendati awalnya bertualang, keduanya menghargai tanah dan keberadaan penduduk setempat dengan jiwa emik. "Orang-orang Amerika akan datang ke sini, membawa senapan mereka. Kita harus berdoa mereka tak akan membunuh orang-orang Indian," kata Jack pada ayahnya.

 
Kita berharap Jakarta yang bersejarah tidak bernasib malang menjadi  “The Lost of Capital City” dan “The Uninhibitable City”.
 
 

Amazon dan hutan-hutan di belahan bumi adalah paru-paru dunia. Hutan tidak boleh dieksploitasi secara ambisius dan diubah wajahnya hingga merusak eksosistemnya yang harmoni.

David Wallace-Wells (2019) memberikan peringatan tentang “The Uninhibitable Earth”. Kisah kelam masa depan ketika bumi tidak lagi dapat dihuni. Kehidupan diambang kepunahan mirip tragedi The Day After. Manusia tidak dapat lagi memilih planet lain karena inilah tempat satu-satunya di alam semesta yang disebut rumah bagi kehidupan bersama.

Kita berharap Jakarta yang bersejarah tidak bernasib malang menjadi “The Lost of Capital City” dan “The Uninhibitable City”. Jakarta adalah Ibu Kota perjuangan, bersama kota-kota bersejarah lainnya yang menjadi tonggak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penetapan 22 Juni sebagai hari jadi Kota Jakarta oleh Gubernur Soediro pada 1955 lekat dengan jiwa patriotisme kesejarahan. Menyambung matarantai sejarah pada kegagahan perjuangan Fatahillah mengusir penjajah Portugis pada 1527. Kota di ujung muara Kali Ciliwung yang dulu bernama Sunda Kelapa ini diberi nama “Jayakarta”,  sebagai kota “kemenangan”.

Jakarta itu Ibu Kota bernyawa. Nyawa kesejarahan dan kebudayaan Indonesia. Barack Obama memiliki kenangan indah karena pernah menikmati masa kecil bersama ibunya di kawasan Menteng.

Ketika berkunjung ke Indonesia setelah menjadi Presiden Amerika Serikat, dia masih fasih menirukan dialek penjual bakso dan sate, “Baksoo, Satee”. Ada aura cinta terhadap keberadaan suatu kota yang menyertai perjalanan hidupnya. Bukan serpihan sikap pragmatis dalam nalar instrumental yang linier dan ragawi.

 
Ada aura cinta terhadap keberadaan suatu kota yang menyertai perjalanan hidupnya. Bukan serpihan sikap pragmatis dalam nalar instrumental yang linier dan ragawi.
 
 

François Valentijn (1710) seorang misionaris, naturalis, dan penulis buku ternama Oud en Nieuw Oost-Indiën atau Old and New East-India menyebut Jakarta sebagai “a noble city”.

Valentijn dengan rasa takjub melukiskan keelokan Jakarta, “Di antara kota-kota di Timur yang dapat dibandingkan dengan indahnya Batavia, dengan gedung-gedung cantik, dengan kali teduh, dengan jalan lurus dan indah, apalagi dengan besarnya perniagaan beraneka barang.

Batavia bukan hanya Ratu Timur yang berkuasa, yang seakan-akan duduk di atas singgasananya dan dari situ memberikan perintah-perintah kepada semua cabang perwakilan kami dan kepada segala wilayah di timur. Batavia bukan bagaikan ratu kerajaan-kerajaan yang mahasempurna yang melampaui semua kota di daerah itu.

Hanya beberapa kota yang saya kenal di Belanda, yang begitu rapi, yang dibangun begitu mempesona dan pada umumnya memiliki rumah yang begitu indah seperti Batavia. Apalagi Batavia bandar niaga yang sangat jauh dan mengatasi semua.”

Jakarta berusia 494 tahun. Jakarta bangkit. Waktu telah bergerak jauh dari era Sunda Kelapa, Jayakarta, dan Batavia. Kita tidak tahu nasib “Ratu Timur” itu ke depan.

Akankah generasi baru masih dapat menemukan Jakarta sang Ibukota yang melegenda, ketika Indonesia merayakan satu abad kemerdekaan. Bukan menemukan Jakarta “kota yang hilang”, seperti nasib Almaty yang ikut mati oleh kemegahan Astana di negeri Kazakhstan.

Lalu, dengan polos anak-anak negeri itu bertanya lirih tanpa ada yang bisa menjawab, “Di manakah engkau, Jakarta?. Apa salahmu, Jakarta?".


×