Warga antre mendapatkan paket makanan berisi nasi dan lauk serta minuman di Warung Sedekah, Jalan Sunan Kudus, Kauman, Kudus, Jawa Tengah, Rabu (21/4/2021). | YUSUF NUGROHO/ANTARA FOTO
22 Jun 2021, 03:45 WIB

Kedermawanan yang Melampaui

Bederma tak perlu menunggu terjadi bencana. Memberi tidak harus menjadi kaya.

ABDUL MU'TI, Guru Besar FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Juni 2021, Charities Aid Foundation (CAF) menerbitkan laporan World Giving Index (WGI), A Global Pandemic Special Repot 2021. Dalam laporan itu, Indonesia menempati peringkat pertama negara paling dermawan di dunia dengan skor 69 persen.

Di bawah Indonesia adalah Nigeria (52 persen), Australia (49 persen), dan Selandia Baru (47 persen). Menurut CAF, dari 10 orang Indonesia, lebih dari delapan orang di antara mereka memberikan donasi berupa materi. 

Kerelaan membantu orang lain, tiga kali lebih tinggi dari rata-rata dunia. Tiga tahun lalu (2018), Indonesia juga negara paling dermawan dengan skor 59 persen. Skor tahun ini meningkat, tak hanya pada skor keseluruhan, tapi juga pada tiga dimensi pengukuran.

Terkait

Dimensi membantu orang lain meningkat dari 46 persen menjadi 65 persen, donasi materi naik dari 78 persen menjadi 83 persen, dan kegiatan sukarelawan meningkat dari 53 persen menjadi 60 persen.

 
Data ini menarik. Sebaliknya, di negara-negara Barat, donasi selama pandemi turun drastis.
 
 

Yang menarik dalam laporan CAF adalah donasi yang bersumber dari zakat. Pendapatan zakat di dunia rata-rata meningkat. Di Indonesia, donasi yang dihimpun dari zakat selama masa pandemi meningkat signifikan, padahal ekonomi mengalami resesi.

Data ini menarik. Sebaliknya, di negara-negara Barat, donasi selama pandemi turun drastis.

Faktor iman

Salah satu faktor berpengaruh terhadap tingginya donasi adalah iman. Bangsa Indonesia memiliki kesalehan sosial yang baik. Berdasar pada survei Balitbang dan Diklat Kementerian Agama (2020), Indeks Kesalehan Sosial (IKS) bangsa Indonesia adalah 82,53.

Dimensi IKS terdiri atas kepedulian sosial (75,35), relasi antarmanusia (87,6), etika dan budi pekerti (88,1), melestarikan lingkungan (76,6), dan patuh kepada peraturan negara (85,01). Di Alquran, terdapat banyak ayat di mana shalat diikuti dengan zakat.

Di antara karakter manusia bertakwa adalah menginfakkan sebagian rezeki (QS al-Baqarah [2]: 3), berbagi di saat lapang dan sempit (QS Ali Imran [3]: 134), dan mendermakan harta yang dicintai kepada karib kerabat (QS al-Baqarah [2]: 177).

Selain iman, faktor lainnya adalah budaya. Bangsa Indonesia memiliki tradisi gotong royong sangat kuat, bahkan menjadi ideologi bangsa.

Karena kuatnya gotong royong, dalam sidang BPUPK, selain Pancasila, Bung Karno mengusulkan Tri Sila dan Eka Sila (gotong royong) sebagai alternatif dasar negara. Kekuatan iman-takwa dan gotong royong menggerakkan bangsa Indonesia tetap berbagi dan menolong sesama.

Pandemi justru menjadi momentum bederma, tolong menolong, dan saling membantu dengan harta dan jiwa. Agama merupakan modal spiritual dan sosial yang memperkuat ikatan kemanusiaan dan persatuan bangsa Indonesia.

Dalam konteks global, menurut Mc Cleary and Barro (2019: 58), agama juga menjadi faktor penting yang mendorong pertumbuhan ekonomi karena agama membentuk perilaku utama individu untuk terus produktif.

Melampaui

Meski demikian, kedermawanan belum bisa menjadi kekuatan dan ketangguhan sosial bangsa. Pertama, kedermawanan bangsa Indonesia cenderung bersifat reaktif.

 
Bantuan lebih banyak disalurkan kepada kelompok masing-masing. Ini tidak salah, tetapi bantuan kemanusiaan dalam beberapa kasus justru menjadi pemicu ketegangan sosial.
 
 

Laporan CAF di mana Indonesia menjadi negara paling dermawan terjadi saat pandemi Covid-19 (2020-2021) dan bencana alam di berbagai daerah (2018).

Kedermawanan "spontan" ini menunjukkan, kedermawanan masih kuat dipengaruhi penderitaan dan rasa belas kasihan. Ini sikap dan perilaku yang mulia, tetapi belum cukup kuat menjadi kekuatan dan ketahanan dalam menyelesaikan beragam masalah.

Kedua, kedermawanan masih kuat dipengaruhi ikatan primodialisme. Bantuan lebih banyak disalurkan kepada kelompok masing-masing. Ini tidak salah, tetapi bantuan kemanusiaan dalam beberapa kasus justru menjadi pemicu ketegangan sosial.

Bantuan kemanusiaan acapkali ditengarai sebagai alat propaganda agama dan politik.

Ketiga, belum ada manajemen yang baik. Sudah banyak lembaga filantropis, tetapi masyarakat lebih banyak bederma secara nafsi-nafsi. Bantuan menjadi sporadis dan tumpang tindih. Banyak bantuan tak tepat sasaran, baik dari sisi penerima maupun manfaat.

Menjadi bangsa dermawan sungguh sangat membanggakan. Namun, kedermawanan bisa menjadi kekuatan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan bila dilakukan perubahan paradigma dan perbaikan manajemen kedermawanan.

Pertama, membangun dan menjadikan kedermawanan sebagai tradisi dan budaya bangsa.

 
Bederma tak perlu menunggu terjadi bencana. Memberi tidak harus menjadi kaya.
 
 

Bederma tak perlu menunggu terjadi bencana. Memberi tidak harus menjadi kaya. Berbagi saat suka ataupun duka, rezeki lapang ataupun sempit, banyak ataupun sedikit perlu ditanamkan. Kedermawanan melampaui batas waktu.

Kedua, bederma tak terbatas pada kelompok agama, suku, atau golongan. Dalam Alquran, delapan kelompok penerima sedekah (ashnaf) bersifat universal (QS At-Taubah [9]:60). Pertimbangan utamanya, keadaan bukan keyakinan atau golongan. Kedermawanan melampaui batas agama, suku, dan geografi.

Ketiga, manajemen yang lebih baik dan terintegrasi dengan koordinasi dan kerja sama antarlembaga filantropis. Pada level tertentu, masih terdapat kompetisi di antara lembaga-lembaga filantropis.

Keadaan ini perlu diperbaiki, bahkan jika mungkin (harus) diakhiri. Kedermawanan melampaui batas-batas kelembagaan dan keinginan akumulasi pendapatan. 


×