Yolanda Agustin sudah memendam keinginan berislam jauh sebelum dirinya menjadi mualaf, yakni sejak usia anak-anak. | DOK IST
20 Jun 2021, 04:18 WIB

Yolanda Agustin, Berniat Mualaf Sejak Anak-Anak

Sebelum bersyahadat, Yolanda berupaya mempelajari Islam walaupun ditentang orang terdekat.

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

 

 

Sekitar satu tahun lalu, Yolanda Agustin untuk pertama kalinya mengucapkan dua kalimat syahadat. Persaksian itu menjadi awal baginya sebagai seorang Muslimah.

Terkait

Kepada Republika, ia mengaku bersyukur ke hadirat Allah SWT. Sebab, ketenteraman hati dan kebenaran yang hakiki ditemukannya dalam Islam. Tanpa petunjuk Ilahi, tidak mungkin dirinya menemukan apa-apa yang selama ini dicarinya itu.

Perempuan yang akrab disapa Olla itu menuturkan kisahnya dalam merengkuh hidayah. Bermula dari masa kecilnya yang penuh perjuangan. Ia mengungkapkan, dirinya sebagai seorang anak tidak selalu melalui hari-hari dengan kebahagiaan. Sebab utamanya, kedua orang tuanya kerap mengalami masalah. Segenap problem itu pada akhirnya berimbas pada para buah hati mereka.

Olla mengatakan, saat dia berusia delapan tahun, musibah itu datang. Bapaknya terjerat kasus narkoba. Aparat kepolisian menangkapnya. Selang beberapa lama, vonis hakim dijatuhkan atas sang ayah. Dalam waktu yang cukup lama, kepala keluarga itu terpaksa meringkuk di balik jeruji besi.

Mulai saat itu, keretakan hubungan antara ayah dan ibunya kian menganga. Ibunda Olla sibuk bekerja karena berperan sebagai satu-satunya tulang punggung keluarga. Sering kali, Olla dan kakak laki-lakinya dititipkan ke pihak keluarga ayahnya.

Tumbuh besar tanpa kasih sayang dari kedua orang tua yang lengkap menjadi ujian tersendiri. Olla kecil menjadi kurang mendapat pendidikan agama. Apalagi, sejak awal ayah dan ibunya berlainan kepercayaan.

 
Di rumah kakek dan neneknya, ia kerap menyaksikan bagaimana orang-orang Islam menjalankan ibadah harian.
 
 

Ayah Olla terlahir sebagai Muslim. Akan tetapi, setelah menikah pria tersebut justru mengikuti agama pasangannya. Maka, Olla dan abangnya pun sejak lahir mengikuti agama sang ibu.

Sewaktu ayahnya dipenjara, Olla dan saudaranya praktis menerima pola pendidikan dari keluarga ayahnya. Mereka semua Muslim yang cukup taat. Di rumah kakek dan neneknya, ia kerap menyaksikan bagaimana orang-orang Islam menjalankan ibadah harian.

Tidak hanya di rumah, lingkungan sekitar pun menyuguhkan keseharian yang kental nuansa islami. Tiap waktu subuh dan petang, banyak dari masyarakat setempat yang pergi ke masjid.

Dalam asuhan kakek dan nenek, Olla kecil pun bersosialisasi dengan cukup baik. Banyak kawannya yang beragama Islam. Dari mereka, ia mulai mengenal sedikit tentang ajaran agama itu. Misalnya, bahwa salah satu kalimat dalam azan berarti “Tidak ada Tuhan selain Allah.” Artinya, Allah itu Tunggal, Maha Esa. Konsep tersebut begitu beda dengan kepercayaan yang ada pada iman agamanya saat itu.

Olla ingat, suatu sore dia sedang bermain dengan teman-temannya. Permainan itu sangat mengasyikkan sampai-sampai mereka lupa waktu. Tiba-tiba, suara azan berkumandang. Kerasnya panggilan shalat itu disebabkan letak masjid yang memang bersebelahan persis dengan rumah kakek-neneknya.

Kawan-kawan Olla pun langsung pamit. Mereka berkata, sudah masuk waktu Maghrib dan saatnya mengaji. Maka anak-anak ini berhamburan keluar dari rumah dan menuju ke masjid. Olla kecil hanya bisa melambaikan tangan dan melihat teman-temannya itu berlari riang ke arah sumber suara azan.

 
Tebersit rasa iri terhadap teman-teman Muslimku saat itu.
 
 

“Tebersit rasa iri terhadap teman-teman Muslimku saat itu. Sebab, begitu waktu Maghrib tiba, mereka pamit karena hendak mengaji. Ada yang mengajak (ke masjid), tetapi karena agamaku non-Islam waktu itu, jadinya tidak bisa ikut,” ujar dia menuturkan kisahnya kepada Republika baru-baru ini.

Sebenarnya, lanjut Olla, ada banyak kenangan yang membekas dalam ingatannya tentang masa kecilnya bersama kawan-kawan Muslim. Menurutnya, kesan-kesan yang ada selalu manis. Misalnya, ketika bulan suci Ramadhan datang.

Tentunya, Olla kecil tidak sampai ikut-ikutan berpuasa. Namun, keceriaan saat ngabuburit atau menjelang waktu tarawih tak dilewatkannya.

Apalagi, menjelang dan tatkala Idul Fitri tiba. Bersama kawan-kawannya, ia berkeliling kompleks untuk takbiran. Karena tidak tahu lafal takbir, Olla kecil lebih suka bermain bedug. Ada rasa haru setiap momen tersebut datang. Akan tetapi, lagi-lagi ia tidak bisa ikut serta semua keseruan itu. Umpamanya, saat shalat Id atau halal bihalal.

photo
Yolanda Agustin mengaku bersyukur lantaran sebagai mualaf dirinya banyak mendapatkan bimbingan. Salah satunya dari sang suami. - (DOK IST)

Ingin berislam

Satu hari, Olla saat masih berusia anak-anak melihat ada sebuah mushaf Alquran di rumah neneknya. Ia pun membuka kitab tersebut. Karena bahasanya tidak dikenalinya dan sulit dibaca, ia lantas meminta sang nenek untuk mengajarkannya.

Ibu dari ayahnya tersebut menyanggupinya hanya untuk memenuhi permintaan sang cucu. Ketertarikan Olla kecil kepada Islam tak berhenti di sana. Saat melihat neneknya shalat, ia pun minta diajari. Begitu pula dengan mengaji atau shalawat Nabi Muhammad SAW.

Namun, semua itu dilakukannya secara sembunyi-sembunyi dari jangkauan ibunya. Misalnya, saat sang ibu pergi bekerja. Sebab, jika ketahuan mempelajari Islam, Olla kecil akan dimarahi habis-habisan. Tak hanya dia, abangnya pun ikut-ikutan mengenal agama ini. Bahkan, kakak lelakinya berbuat lebih jauh dengan bersedia dikhitan, selayaknya pria Muslim.

Bagaimanapun disembunyikan, akhirnya ketahuan juga. Olla ingat, betapa kesalnya sang bunda saat itu. “Waktu tahu, Mama marah besar. Mama ancam aku dan abang jika masih berniat masuk Islam, aku sama abang akan diusir dari rumah,” katanya.

Sejak saat itu, Olla mengurungkan niatnya untuk bersyahadat. Setelah waktu berlalu, ayah Olla yang sebelumnya terjerat kasus narkoba, akhirnya dibebaskan dari penjara. Bersama sang ayah, ia pun agak berjarak dengan ibundanya.

Mulai dari sana, niat untuk menjadi Muslim kembali muncul. Dalam pikiran Olla saat itu, ayahnya dahulu beragama Islam. Maka, sudah barang tentu akan lebih mudah jika berbicara dengannya. Waktu itu, Olla sudah berusia kelas satu SMA.

 
Ayahnya menasihati, jika ingin pindah agama, pilihan itu harus dijalaninya dengan serius. Pelajari benar-benar tentang Islam.
 
 

Ayahnya menasihati, jika ingin pindah agama, pilihan itu harus dijalaninya dengan serius. Pelajari benar-benar tentang Islam. Terutama soal ibadah dan mengaji.

Mendapat lampu hijau dari ayahnya, Olla bersemangat untuk kembali mempelajari Islam. Namun, pasca-perceraian dengan ibu kandungnya, sang ayah kembali menikah dengan seorang perempuan yang juga non-Muslim. Olla pun sempat mengurungkan niatnya mendekati Islam.

Akan tetapi, ibu tirinya itu beberapa waktu kemudian meninggal dunia. Baru saja berharap mendapat dukungan untuk memeluk Islam, ternyata Olla harus kehilangan kesempatan lagi. Sebab, dia terpaksa tinggal dengan sang ibu kandung. Maka, tidak ada jalan selain menuruti kemauannya, yakni meninggalkan niatan untuk memeluk Islam.

"Aku takut akan benar-benar diusir dari rumah, sebab tidak tahu harus tinggal di mana," ujar dia.

Bersyukur, pintu hidayah masih terbuka. Olla muda berhasil lulus SMA. Setelah itu, dia diterima bekerja pada sebuah perusahaan. Di kantor, perempuan ini berkenalan dengan seorang pria Muslim.

Suatu kali, ia pun menuturkan kisahnya yang sudah tertarik pada Islam sejak anak-anak. Lelaki ini tidak hanya mendukung keinginannya untuk berislam. Lebih jauh lagi, Olla ingin dilamarnya untuk berumah tangga.

 
Suatu kali, ia pun menuturkan kisahnya yang sudah tertarik pada Islam sejak anak-anak.
 
 

Keluarga calon suaminya itu kemudian membantunya untuk mengenal Islam. Tidak perlu waktu lama bagi Olla untuk memantapkan hati kepada agama ini. Maka pada 27 Mei 2020, ia bersyahadat di hadapan seorang imam dan jamaah di Masjid al-Jauhar, Bekasi, Jawa Barat.

Kala itu, Olla dapat memahami bila ibundanya ingin mengusirnya karena dia sudah memeluk Islam. Karena tak memiliki kediaman sendiri, ia pun diterima untuk tinggal di rumah keluarga calon suaminya. Waktu itu, abangnya sudah lebih dahulu masuk Islam. Sang kakak ditampung di rumah neneknya.

Khawatir memberatkan, Olla tidak ingin datang ke rumah neneknya. Lagipula pernikahan Olla dengan calon suaminya akan dilakukan tak lama lagi.

Beberapa hari sebelum menikah, Olla memberanikan diri untuk pulang ke rumah. Selain untuk memberitahukan keislamannya, Olla juga meminta izin untuk menikah.

Namun, ibunya masih belum juga menerima keputusan Olla. Sejak itu, hubungannya dengan keluarga dari pihak sang bunda menjadi renggang.

Olla kemudian fokus untuk mendalami Islam, terutama aspek-aspek ibadah harian. Ia banyak belajar dari video-video dakwah yang tayang di YouTube. Sering kali, ketika hendak shalat, perempuan ini membawa ponsel dan menonton video shalat, yang sebenarnya ditujukan untuk penonton anak-anak.

Karena hubungan ibu dan Olla masih renggang, ketika menikah, ibu dan keluarganya tak ada yang hadir. Hanya paman dari ayah Olla sebagai wali nikah yang menghadirinya.

Kesedihan tentu saja dirasakan Olla. Namun, ia memahami bahwa kejadian ini merupakan salah satu ujian hidup sebagai mualaf. Tak henti-henti, ia dinasihati sang suami untuk selalu menjaga silaturahim dengan siapapun keluarga, terutama ibu kandungnya. Dalam ajaran Islam, seorang anak wajib berbakti kepada kedua orang tua, wabilkhusus ibu.

"Aku kira Mama akan (bersikap) cair ketika mendengar anaknya hamil dan akan memiliki cucu, tetapi responsnya ternyata biasa saja. Ketika aku melahirkan pun, memang beliau lebih banyak bicara, hanya saja terasa seperti sekadar menyapa anakku," tuturnya.

Sejak bersyahadat, Olla pun langsung memutuskan berhijab. Dia pun mendapat dukungan dari sang suami.

 


×