In the Heights | Youtube
17 Jun 2021, 10:28 WIB

In the Heights: Potret Perjuangan Imigran di Washington

In the Heights menggambarkan betapa kaum imigran di Amerika pada mulanya tidak memiliki kekuatan di masyarakat.

 OLEH RAHMA SULISTYA 

Warga Latin di Washington Heights, Manhattan, Amerika Serikat (AS), digambarkan begitu kompak dan ceria. Mereka berjuang bersama demi bisa bertahan hidup dan diperhatikan oleh pemerintah setempat. 

Kalimat “We are powerless” seolah menjadi metafora yang menyentil. Wilayah di sana sering kali tidak mendapat daya listrik (no power). Kawasan Washington Heights sering mati listrik, padahal listrik di wilayah sekitar mereka selalu menyala. 

Warga Latin di sana ingin sekali protes, tapi tidak bisa melakukannya. Dalam film berjudul In the Heights ini, sutradara Jon M Chu menceritakan kekuatan cinta yang mampu mengubah seseorang untuk bersemangat membangun wilayahnya. Tak hanya itu, terdapat pula lika-liku kehidupan yang harus tetap dijalani sesulit apa pun itu.

Terkait

Keceriaan warga Latin digambarkan dalam beberapa adegan, salah satunya, ketika mereka menari bersama di lorong-lorong rumah yang padat dan kumuh. Pada awal film, nyanyian dan tarian Latina sudah disuguhkan kepada penonton.

Dalam film ini, Chu yang juga merupakan sutradara film Crazy Rich Asian juga memasukkan stigma yang menempel kepada masyarakat Latin. Di kota-kota besar di AS maupun Eropa, masyarakat Latin diidentikkan dengan kaum bawah dan penjahat. Entah itu penjahat kartel narkoba, pembunuh berantai, maupun perampokan.

Apa yang ditampakkan dalam film bergenre musikal ini sangat jauh dari imajinasi kelompok Latin yang kejam dan bengis. Para karakter digambarkan sebagai masyarakat yang santai menjalani hidup, tapi tetap berjuang menghilangkan stigma negatif bangsa mereka. 

Salah satu karakter bernama Usnavi (Anthony Ramos). Dia sangat berjuang keras agar kehidupannya bisa lebih baik. Dia merasa harus pindah dari wilayah itu, namun rasa kekeluargaan di sana membuatnya merasa dilema.

Belum lagi, dengan cintanya kepada Vanessa (Melissa Barrera) yang harus dia kejar. Usnavi menjadi tokoh kunci juga dalam gerakan di wilayah tersebut. Ketika warga setempat merasa tidak punya kekuatan melawan diskriminasi pemerintah, Usnavi yang sering memulai mengajak.

Film untuk penonton usia 13 tahun ke atas ini juga mengulas kisah Nina (Leslie Grace) yang harus mengubur mimpinya untuk meneruskan kuliah di Stanford University, Inggris. Padahal, dia sudah berkuliah hampir lima semester. Alasannya, karena pandangan negatif terhadap orang Latin yang dilakukan teman sekamarnya.

Nina menjadi orang pertama yang berhasil bersekolah di Stanford University dan menjadi kebanggaan semua warga di sana. Kembalinya ke Washington Heights membawanya pada pemikiran yang lebih terbuka.

Dia memanfaatkan ilmunya untuk membantu anak-anak yang lahir tanpa dokumen agar bisa bersekolah. Apakah usaha Nina akan berhasil? Apakah suara Usnavi akan berhasil mengubah wilayah tersebut jadi lebih baik?

Film ini dibuat dan dimaksudkan untuk dirilis saat masa kepresidenan Donald Trump, pada saat jalur kewarganegaraan untuk anak-anak muda yang tidak berdokumen dibawa ke AS menjadi problem. Namun, pandemi Covid-19 memaksa penundaan rilisnya. 

Saat ini, pengesahan dua RUU Imigrasi yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat AS masih belum pasti. "Ini adalah cerita yang jarang diceritakan, ini adalah perjuangan yang jarang diceritakan," sebuah lirik salah satu lagu musikal yang ada dalam film. In the Heights yang sudah tayang di bioskop CGV sejak 9 Juni ini seolah membawa pesan bahwa sesulit apa pun hidup, tetap harus dijalani dan berusaha hingga menjadi lebih baik. 

INFO FILM

Judul: In the Heights

Jenis film: Drama musikal

Rating: 13+

Durasu 143 menit

Sutradara: John M Chu

Produser: Lin-Manuel Miranda, Quiara Alegria Hudes, Scott, Sanders, Anthony Bregman, Mara Jacobs

Penulis: Lin-Manuel Miranda

Distributor: Warner Bros Pictures

Pemain: Anthony Ramos, Corey Hawkins, Leslie Grace


×