GOR Saparua adalah tempat pertunjukan musik berbagai genre. | RAISAN AL FARISI/ANTARA FOTO
17 Jun 2021, 10:08 WIB

Mengenang Gemuruh Musik di Saparua

GOR Saparua menjadi tempat pelaksanaan berbagai konser musik.

OLEH SHELBI ASRIANTI

Distorsi gitar melengking panjang, beriring visual samar gedung ikonik di Kota Bandung, Jawa Barat. Tempat itu pernah menjadi saksi sejarah perkembangan musik di Kota Kembang. 

Lambat laun, terlihat jelas gedung yang dimaksud. Gedung Olahraga (GOR) Saparua Bandung, tempat yang disorot, sangat penting bagi pergerakan komunitas serta musik rock dan metal sejak 1970-an hingga akhir 1990-an. Kini, Saparua kembali dimanfaatkan sesuai fungsinya.

Film dokumenter berjudul Gelora: Magnumentary of Gedung Saparua ini menggali lebih dalam mengenai sejarah gedung serta lini masa pemanfaatannya selama ini. Utamanya, yang berkaitan dengan musik beragam aliran.

Terkait

Musisi lintas genre banyak yang telah manggung di Saparua sejak 1963. Tidak cuma band-band rock, metal, atau underground, tapi juga keroncong, hingga pop. Semua membaur, seolah "Bhinneka Tunggal Saparua".

Begitu pula pentas seni sekolah, pembacaan puisi, kabaret, atau pertunjukan seni tradisional. Dimulai oleh Aneka Nada, band yang diperkuat oleh Sam Bimbo, Acil Bimbo, dan Guruh Soekarno Putra, hingga berbagai generasi berikutnya. 

Film berdurasi satu jam ini menghadirkan narasumber dari berbagai kalangan. Ada sejarawan, komunitas, akademisi, wartawan musik, pengelola acara, dan sosok lain yang pernah terkait dengan Saparua.

Musisi lintas generasi juga dilibatkan menjadi narasumber. Ada Sam (Bimbo), Arian13 (Seringai), Ebenz (Burgerkill), Suar (Pure Saturday), Candil (Seurieus), Fadli Aat (Diskoria), Buluks (Superglad, Kausa), dan banyak lainnya. 

Masing-masing membagikan pengalaman terkait Saparua, baik hal seru, mengesankan, nyeleneh, sampai ngeri. Tak sedikit yang awalnya hanya menjadi penonton konser, lalu bisa mewujudkan mimpi manggung di Saparua.

Sutradara Gelora: Magnumentary of Gedung Saparua, Alvin Yunata, membagi film dalam beberapa segmen. Bermula dari awal pembangunan GOR pada masa pemerintahan kolonial Belanda, berlanjut dengan pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) di era Sukarno.

Tayangan besutan Rich Music dan Hazed Production itu mendedahkan pula fase demi fase penampilan musik di GOR Saparua. Ada masa ketika underground sangat meraja dengan aneka sensasi yang membelalakkan mata.

Wawancara narasumber dipadukan dengan arsip sejarah, foto, rekaman video, dokumentasi media cetak, dan penyerta lain sehingga tayangan makin kaya. Penonton bakal mendapat wawasan baru mengenai GOR Saparua.

Video rekaman penonton yang moshing jamak ditemukan dalam film. Terdapat pula arsip soal ritual mengerikan oleh musisi genre tertentu. Musik seolah menyihir penonton, hingga menggila dan tak peduli sudah melebihi kapasitas.

Pada salah satu segmen, narasumber yang dulu kerap menyelenggarakan acara musik di Saparua menyampaikan berbagai tantangan. Penonton yang memaksa masuk tanpa tiket serta saat harus terlibat masalah dengan aparat kepolisian.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Alvin Yunata (bckwrds)

Kala itu, pertunjukan musik di Saparua bisa mencapai 5.000-7.000 pengunjung dalam satu kali kesempatan. Padahal, kapasitas gedung hanya 3.000-4.000. Meski berdesak-desakkan dan tak nyaman, penonton terus membeludak.

Proses penggarapan film, termasuk wawancara dengan narasumber, memakan waktu sekitar tiga bulan. Menurut Alvin, hal paling sulit saat menggarap film adalah penggalian arsip, khususnya era 1980-1990 yang sangat terbatas.

Tantangan lain, dia harus memilah informasi dan memasukkan konten yang sesuai. Meski demikian, Alvin menganggap semua itu sangat berkesan, membuatnya terkenang aneka pengalaman saat menjadi penonton di Saparua.

Menurut Alvin, GOR Saparua punya peranan sangat penting untuk perjalanan musik di Kota Bandung. Dia pun memiliki pengalaman personal di sana, semula sebagai penonton, lantas sebagai musisi yang tampil di panggungnya.

GOR Saparua telah mengubah hidup Alvin dan dia yakin tempat tersebut juga membuat hidup banyak orang bertransformasi. Ketika kegiatan seni budaya di Saparua berhenti pada akhir 1990-an, Alvin cukup terkejut. 

Dia kemudian menganggap, bisa saja musisi dan pelaku seni Bandung beranjak ke banyak klub yang berkapasitas kecil dan modern, tapi itu tidak terasa sama. "Spirit kolektivitas yang gua kangenin dari era itu," ujar Alvin yang juga gitaris dari Teenage Death Star, pada konferensi pers di Jakarta, Ahad (6/6).

Gitaris sekaligus vokalis grup musik Rocket Rockers, Aska Pratama, sudah sejak lama dekat dengan GOR Saparua. Semula, dia hanya mendengar tentang lokasi tersebut. Kemudian, dia beranjak menjadi penonton.

Lambat laun, Aska bisa mengakses area belakang panggung untuk berjumpa para musisi sampai akhirnya berkesempatan tampil di sana bersama grup musiknya, bersama band lain lintas genre.

Aska menganggap film dokumenter Gelora: Magnumentary of Gedung Saparua sangat baik untuk memberi wawasan kepada publik. Penonton bisa tahu lebih banyak tentang Saparua dan sejarah perkembangan musik di Bandung.

Begitu pula generasi muda yang berminat hidup dari dunia musik bisa menjadikan energi positif dan semangat kolektif di masa itu sebagai acuan. "Gua punk, Anda metal, enggak ada bedanya," ujar Aska.

Ebenz, gitaris band Burgerkill, jujur menyampaikan tidak berharap GOR Saparua menjadi gedung pertunjukan seperti dulu. Dia menganggap era ketika musisi bisa tampil bebas di tempat itu mungkin tak dapat terulang lagi.

Setidaknya, Ebenz berharap, tempat bersejarah itu dapat ditetapkan menjadi cagar budaya yang representatif bagi Kota Bandung. Sebagai orang yang sering tampil di Saparua dan masih memperhatikan kondisinya sampai sekarang, dia menyayangkan pemugaran yang belum optimal.

"Perawatannya masih make up luar, (di dalam) kayu-kayunya masih rapuh," kata Ebenz. 

Gagasan hadirnya Gelora: Magnumentary of Gedung Saparua berawal dari proyek "Membakar Batas" yang diprakarsai oleh Cerahati sejak 2011. Tujuan dari proyek itu untuk merekam jejak semua tonggak besar dalam sejarah skena rock dan metal.

Direktur kreatif Cerahati, Edy Khemod, menganggap dokumentasi sejarah tentang pergerakan musik masih cukup terbatas. Saat tim Cerahati dan Rich Music memproduksi film, mereka memutuskan menggali sudut pandang yang belum banyak digarap tapi vital, yaitu membahas venue alias gedung pertunjukan.

Film hendak menyoroti permasalahan yang ada terkait pemanfaatan GOR Saparua. Sinema ini juga hendak mempertanyakan posisi panggung sebagai wadah kreatif para musisi di Bandung saat ini dan di masa mendatang.

 
Bandung belum punya tempat pertunjukan yang terjangkau dan mudah diakses.
 
 

Pada akhir film, penonton akan mendapati dua topik utama yang disimpulkan dari keseluruhan tayangan. "Bandung belum punya tempat pertunjukan yang terjangkau dan mudah diakses," kata Khemod.

Mulai pertengahan Juni, Gelora: Magnumentary of Gedung Saparua dapat disimak di situs Rich Music, Extreme Moshpit, Vidio, Loket, dan Rock Nation. Menyambut perilisannya, ada penayangan terbatas di bioskop yang berlangsung di tiga kota. 

Penayangan perdana pada 6 Juni 2021 bertempat di CGV Grand Indonesia, Jakarta, disusul pemutaran di Kota Bandung pada 7 Juni, dan Kota Medan pada 8 Juni. Film itu pun menjadi awal dari deretan proyek jangka panjang. 

Berikutnya, film feature panjang yang terinspirasi dari pergerakan musik di Bandung direncanakan tayang tahun ini. Informasinya segera hadir di situs richmusiconline.com dan akun Instagram distorsikeras.


×