Wali kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie akan merealisasikan program bedah rumah. | MUHAMMAD IQBAL/ANTARA FOTO
17 Jun 2021, 09:36 WIB

Tangsel Rancang Program Bedah Rumah

Bedah Rumah akan menyasar masyarakat berpenghasilan rendah.

CIPUTAT -– Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mulai membuka peluang untuk merealisasikan konsep pembangunan bedah rumah tidak layak huni yang lebih mengedepankan teknologi bagi masyarakat golongan berpenghasilan rendah di Tangsel. Pembangunan akan berubah dari konsep rumah yang biasa menjadi rumah tahan gempa dan tahan api.

Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie menjelaskan, peluang yang muncul atas kerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tersebut diyakini dapat memberikan manfaat yang beragam. Salah satunya yang terpenting terkait dengan kualitas material yang dinilai mampu menanggulangi bencana, sehingga rumah bisa tetap kuat berdiri.

“Materialnya konvensional, dengan ini kami terinspirasi mau bedah rumah dengan konstruksi seperti ini. Salah satu keunggulannya tahan api, kita mengingat bahwa di Tangsel masih ada kejadian-kejadian kebakaran akibat korsleting listrik,” kata Benyamin saat menghadiri acara peresmian hibah bangunan rumah komposit tahan gempa (RKTG) BPPT di kawasan Setu, Tangsel, Rabu (16/6).

Selain itu, manfaat lainnya berkaitan dengan proses pembangunan rumah tersebut terbilang singkat, yakni hanya satu pekan. Sehingga, Benyamin meyakini efektivitas dan efisiensi waktu bisa dimaksimalkan dan masyarakat bisa lebih cepat dalam memanfaatkan hunian yang dibutuhkan.

Terkait

“Saya juga ingin meraih keuntungan secepatnya karena hanya satu minggu pembangunannya,” ujar dia.

Adapun, terkait kemampuan anggaran, Benyamin menuturkan dapat menjangkaunya dengan menggunakan anggaran pendapatan dan belanja (APBD) 2022. Dalam waktu dekat, dia menyebut akan bersama-sama dengan pimpinan dinas-dinas terkait untuk membahas lebih lanjut ihwal kolaborasi pembangunan rumah berteknologi tersebut untuk mengubah konsep lama bedah rumah yang sebelumnya telah dilakukan.  

Benyamin menegaskan, upaya mengubah konsep bedah rumah tersebut diperuntukkan bagi kalangan menengah ke bawah yang telah diverifikasi kelayakannya. Dia juga menyebut, tak menutup kemungkinan konsep rumah tahan gempa dan tahan api itu dimanfaatkan untuk dibangun bagi warga yang mengalami musibah, misalnya longsor atau banjir.

Dia mencontohkan kasus longsoran turap yang baru-baru ini terjadi di kawasan Kompleks Griya Satwika Telkom, Kelurahan Pisangan, Kecamatan Ciputat, Tangsel, yang menyebabkan banjir di tiga perumahan di sekitarnya dan menyebabkan tiga rumah rusak dan ratusan warga mengungsi.

Sementara itu, terkait jumlah rumah yang akan dibangun dengan konsep tersebut, Benyamin tidak menyebut secara pasti. Namun, menurut catatannya, pada tahun ini jumlah rumah yang dibedah oleh Pemkot Tangsel kurang lebih 100 hingga 125 unit.

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan, pihaknya akan memberikan kemudahan dari segi biaya untuk pembangunan RKTG. Hammam menjelaskan, hadirnya RKTG merupakan inovasi yang lahir dari kesadaran akan kondisi Indonesia yang secara geografis berada di wilayah yang rawan bencana.

Lebih teknis, dia menuturkan, kekuatan pada RKTG yang diketahui memiliki kekuatan tahan gempa hingga 7 SR tersebut meliputi fondasi dengan menggunakan seismic rubber bearing atau karet alam dan konstruksi berupa modular dengan joint interlock. Selain itu, dinding dengan sandwich panel berbahan komposit, strukturnya menggunakan aluminium T-6061 antikarat, serta atap berupa baja ringan dan genteng metal. 

Hammam menambahkan, bahan-bahan bangunan yang digunakan notabene merupakan produk dalam negeri. “Semuanya produksi dalam negeri, baik bahan baku maupun bahan yang diberikan nilai tambah. RKTG ini tingkat komponen dalam negeri (TKDN)-nya tinggi, yakni 90 persen,” ujar Hammam.


×