Pengunjung berbelanja di pusat perbelanjaan di kawasan Menteng, Jakarta, Senin (10/5/2021). Akses vaksinasi plus stimulus fiskal dan kebijakan moneter AS memunculkan risiko pemulihan. | Republika/Thoudy Badai
17 Jun 2021, 08:08 WIB

Mewaspadai Risiko Pemulihan Ekonomi

Akses vaksinasi plus stimulus fiskal dan kebijakan moneter AS memunculkan risiko pemulihan.

OLEH AGUNG P VAZZA

Sampai beberapa bulan ke depan, banyak negara masih akan disibukkan dengan penanganan pandemi plus berupaya meminimalkan dampak sosial dan ekonominya. Apalagi, tak ada yang bisa memprediksi kapan pandemi benar-benar berakhir, meski vaksin mulai terdistribusi.

Meski begitu, optimisme global mulai muncul. Setelah mengalami resesi cukup dalam dalam beberapa tahun terakhir sejak pandemi, tren positif pertumbuhan ekonomi global memang mulai terlihat.

Sebagian kalangan malah menyebutkan perekonomian global sudah kembali ke jalur menuju normal setelah dihantam pandemi. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dilansir AP, dalam laporan tengah tahun 2021 World Economic Situation and Prospects, merevisi perkiraan pertumbuhan global ke angka 5,4 persen pada 2021, dari proyeksi serupa pada Januari di kisaran 4,7 persen.

Terkait

Dalam situasi normal, perkiraan tersebut mungkin cukup tinggi. Namun, dalam situasi pandemi saat ini, perkiraan itu boleh jadi cukup untuk menutupi kontraksi pertumbuhan tahun-tahun sebelumnya.

Selain PBB, Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) pun mempublikasikan proyeksi dan perkiraan serupa. Organisasi berkedudukan di Paris itu, dikutip Financial Times, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global tahun ini tumbuh sekitar 5,8 persen.

Proyeksi ini merupakan peningkatan signifikan dibanding perkiraan sebelumnya, dipublikasikan Desember lalu, di kisaran 4,2 persen. Tahun berikutnya OECD memprediksi ekonomi global tumbuh 4,4 persen. Prediksi ini pula yang ditengarai mampu membawa perekonomian ke level sebelum pandemi.

Baik PBB maupun OECD, kedua sama-sama menyebutkan tren positif ekonomi global tersebut dimotori membaiknya perekonomian dua raksasa dunia, Amerika Serikat dan Cina. Selain cepatnya progres vaksinasi di kedua negara itu, yang mendorong progres pemulihan ekonomi, diperkirakan bakal mendorong perdagangan global dan permintaan barang manufaktur yang disebut-sebut sudah kembali ke level sebelum pandemi.

Pulihnya dua perekonomian terbesar dunia itu harus diakui menjadi motor penting pemulihan pertumbuhan ekonomi global, yang ditengarai berdampak positif pula pada pemulihan ekonomi di banyak negara, termasuk negara berkembang, termasuk Indonesia.

Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia memang mulai bergerak ke arah yang lebih baik. Setidaknya semakin mendekati zona positif, dengan kontraksi ekonomi yang terus menurun dibanding kontraksi-kontraksi sebelumnya. Badan Pusat Statitik (BPS) sudah mempublikasikan selama kuartal I 2021, perekonomian Indonesia tumbuh minus 0,74 persen.

Angka ini, meski masih berada di zona negatif, jelas menunjukkan arah perbaikan setelah terkontraksi 5,32 persen pada kuartal II 2020, minus 3,49 persen (kuartal III 2020), dan minus 2,19 (kuartal IV 2020).

 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, pekan lalu, menyebutkan selain pemulihan ekonomi global yang mendorong aktivitas ekspor dan impor, pemulihan ekonomi dalam negeri secara gradual didorong tiga game changers: progres vaksinasi, program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), dan kebijakan reformasi struktural. Inilah yang agaknya menjadi dasar proyeksi pertumbuhan ekonomi 2021 pemerintah di kisaran 4,5 persen sampai 5,3 persen.

Sedangkan selama 2022, ekonomi diproyeksikan tumbuh di rentang 5,2 persen sampai 5,8 persen. Proyeksi tahun depan disampaikan dengan catatan progres vaksinasi terus meningkat dan bisa mencapai herd immunity, aktivitas konsumsi dan produksi kembali pulih di kisaran lima persen, dan implementasi reformasi struktural yang diharapkan mendorong investasi masuk ke sektor bernilai tambah dan beriorientasi ekspor serta menciptakan lapangan kerja berkualitas.

Sri Mulyani memaparkan indikator ekonomi Indonesia menunjukkan arah membaik. Consumer confidence mencapai 101,5 per April. Mei diharapkan makin kuat. Mobilitas April-Mei juga tinggi seiring kemampuan menjaga pandemi.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kementerian Perindustrian RI (kemenperin_ri)

Indeks penjualan ritel naik. Belanja negara juga mendukung pemulihan ekonomi. Konsumsi listrik industri meningkat. PMI Manufaktur Indonesia, Mei lebih tinggi dari April 54,6, sekarang di atas 55. Ekspor April tumbuh 51,9%. Impor bahan baku juga menunjukkan positif. "Itu merupakan tren positif," ujarnya.

Bank Indonesia (BI) mengkonfirmasi perbaikan ekonomi domestik itu tengah dan terus berlangsung. BI juga memberi sinyal berbagai indikasi kalau selama Triwulan II dan selanjutnya berbagai indikator menunjukan ekonomi akan membaik.

Berbagai faktor itu pula ditegaskan Gubernur BI Perry Warjiyo, BI memperkirakan tahun ini pertumbuhan ekonomi diperkirakan 4,1 persen sampai 5,1 persen, dan tahun depan di kisaran 5 persen sampai 5,5 persen. Sumber pertumbuhannya dijelaskan Perry, antara lain, ekspor, investasi termasuk implementasi UU Cipta Kerja, stimulus fiskal, dan konsumsi. Khusus konsumsi, BI mengkonfirmasi progres vaksinasi juga menjadi pendorong.

Risiko

Proyeksi-proyeksi itu tentu saja cukup mencerminkan optimisme arah pemulihan ekonomi. Namun, jika diperhatikan, hampir seluruh proyeksi ekonomi, muncul dengan catatan progres vaksinasi dan pengendalian pandemi, pemulihan confidence, dan ekonomi global pulih secara berkelanjutan.

"Itulah yang tidak seluruhnya bisa dikontrol pemerintah. Untuk yang dikontrol pemerintah seperti vaksinasi akan terus ditingkatkan," ungkap Sri Mulyani.

Kecepatan progres vaksinasi memang sangat penting. Apalagi, dalam proyeksi pertumbuhan 2022, kontribusi konsumsi rumah tangga sebagai motor utama pertumbuhan, tahun depan ditargetkan tumbuh 5,1 persen hingga 5,3 persen. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga jelas sangat bergantung pada progres vaksinasi dan pengendalian pandemi.

Akses dan kecepatan vaksinasi untuk mengendalikan pandemi memang dicatat Sri Mulyani sebagai salah satu risiko yang masih harus di waspadai. Terutama ketika varian-varian baru virus muncul sedangkan akses dan kecepatan vaksinasi belum merata.

Pembatasan skala luas sangat mungkin diberlakukan kembali, sehingga kembali pula menekan konsumsi. Risiko lain, ekonomi banyak negara masih tumbuh negatif. Sementara inflasi di AS terus menguat, sampai April lalu tercatat 4,2 persen, yang memunculkan risiko pesatnya normalisasi moneter.

Perry pun menegaskan pentingnya mewaspadai risiko serupa. Tambahan stimulus fiskal AS sebesar 1,9 triliun dolar AS, berpeluang mendorong suku bunga obligasi pemerintah AS. "Karenanya, sangat mungkin menyebabkan capital outflow dan pelemahan nilai tukar di emerging market termasuk rupiah," jelas Perry dalam kesempatan yang sama.

Dijelaskan pula, selama 2022 ketidakpastian di pasar keuangan global dikhawatirkan kembali membesar lantaran The Federal Reserve (The Fed), bank sentral AS, sangat mungkin mengubah kebijakan moneter. Sebut saja dengan mulai mengurangi stimulus moneter bahkan menaikkan suku bunga karena inflasi dan pertumbuhan ekonomi di AS yang cukup tinggi. Juga kemungkinan tambahan stimulus fiskal sebesar 2,2 triliun dolar AS.

Risiko-risiko tersebut jelas perlu mendapat perhatian serius. Optimisme pertumbuhan bisa tumbuh positif dalam kuartal dan triwulan ke depan jelas perlu terus diembuskan. Namun, risiko-risiko yang berpeluang menghambat pertumbuhan juga perlu diantisipasi.

Upaya tegas meredam pandemi masih berpeluang berdampak pada sektor konsumsi sebagai motor utama pertumbuhan. Momentum pemulihan dan pertumbuhan ekonomi domestik mungkin sudah terlihat, tapi ancaman pandemi dan dampak ekonominya belum mereda.

Kebijakan fiskal jelas masih akan memainkan peran penting, ditopang dukungan dan komitmen kuat bank sentral, baik melalui bauran kebijakan moneter maupun respons kebijakan extraordinary.


×