Direktur LBM Eijkman Amin Soebandrio menyampaikan paparan saat rapat kerja bersama Komisi VII DPR terkait vaksin Merah Putih, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (18/1/2021). | ADITYA PRADANA PUTRA/ANTARA FOTO
17 Jun 2021, 03:45 WIB

Vaksin Merah Putih Mungkin Jadi Booster

Kemenkes menunggu hasil uji klinis dan kajian ilmiah terkait vaksin Merah Putih menjadi booster.

JAKARTA – Pengembangan dan penelitian Vaksin Merah Putih masih terus dilakukan. Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19, Ismunandar mengatakan, bila vaksin Merah Putih belum siap dalam waktu dekat, maka vaksin buatan dalam negeri itu bisa jadi alternatif persediaan vaksin di masa depan untuk vaksinasi ulang atau sebagai booster.

“Baik sebagai booster, kita belum tahu apakah memang vaksin yang telah kita peroleh, beberapa dari kita itu, akan bisa mempertahankan imunitas kita atau diperlukan booster di tahap-tahap tertentu. Atau untuk mengantisipasi varian virus baru,” kata Ismunandar, di Jakarta, Rabu (16/6).

Pengembangan vaksin Merah Putih masing-masing dilakukan tujuh lembaga, antara lain LBM Eijkman, LIPI, Universitas Airlangga, Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung. Untuk vaksin LBM Eijkman merupakan vaksin berbasis protein rekombinan. Emergency Use Authorization (EUA) diharapkan dapat diperoleh pada September 2022.

“Jadi sebelum uji klinis, dilakukan pra uji klinis akan dimulai November 2021 untuk selanjutnya uji klinisnya akan dilakukan Januari 2022-Agustus 2022 dan EUA diharapkan keluar September 2022,” ujar dia.

Terkait

photo
Peneliti beraktivitas di ruang riset vaksin Merah Putih di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/8/2020). - (Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO)

Vaksin Merah Putih yang tengah dikembangkan Universitas Airlangga diperkirakan memperoleh EUA pada Maret 2022. “Ini sedikit lebih cepat daripada yang dikembangkan oleh LBM Eijkman apabila semua berjalan lancar,” ujar dia.

Direktur LBM Eijkman, Amin Soebandrio mengatakan, lembaganya sudah menyelesaikan 90 persen fase riset dan pengembangan. Saat ini, kata Amin, sedang dalam proses transisi dari riset dan pengembangan ke industri, yakni PT Bio Farma.

Amin menjelaskan, proses transisi artinya apa yang dikerjakan di laboratorium itu nanti akan diterjemahkan di industri. Ia berharap uji klinis vaksin Merah Putih bisa dilakukan paling lambat awal 2022. “Delapan bulan setelah itu bisa mendapatkan EUA,” ujar dia.

Kementerian Kesehatan akan menunggu hasil uji klinis dan kajian ilmiah vaksin ini terkait kemungkinan bisa menjadi booster. “Kami tunggu saja hasil uji klinis dan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM),” kata Juru Bicara Covid-19 dari Kemenkes Siti Nadia Tarmizi.

Menurut dia, memang sebagian besar vaksin influenza perlu disuntikkan setiap tahun. Namun terkait vaksin Merah Putih jadi booster, kata Nadia, pemerintah harus menunggu kajian ilmiahnya, dan waktunya masih sangat panjang.

Ketua Tim Genomik Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK KMK) Universitas Gadjah Mada, Gunadi, mengatakan, melihat perkembangan mutasi virus yang terjadi, kemungkinan perlu dilakukan pemberian vaksin sebagai booster di kemudian hari. Sebab, penelitian menunjukkan penurunan efikasi vaksin yang ada saat ini terhadap varian baru, seperti varian alfa maupun delta.

“Beberapa pasien betul-betul turun di bawah 40 konsentrasinya, sehingga dianggap implikasinya apakah perlu pemberian booster,” kata dia.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, vaksinasi Covid-19 ulang bisa saja dilakukan kepada seseorang yang telah menerima dosis lengkap. Warga yang bisa melakukan vaksinasi ulang adalah mereka yang tingkat titer antibodi terhadap Covid-19 belum cukup tinggi.

Sayangnya, data mengenai tingkat titer antibodi ini belum tersaji secara lengkap. Pemerintah juga belum memiliki catatan rinci mengenai warga yang justru terinfeksi Covid-19 setelah mendapat vaksinasi dosis lengkap. Padahal, data-data seperti ini berguna untuk melihat gambaran keampuhan vaksin Covid-19 di Indonesia.

“Segala informasi terkait vaksinasi akan disimpan di situ (Satu Data Vaksinasi) dan dapat digunakan untuk analisis lanjutan. Memang belum semua informasi itu masuk dalam arti kaitannya dengan adanya infeksi terulang apabila sudah memenuhi vaksinasi,” kata Wiku.


×