Pesepakbola Denmark Christian Eriksen mengalami serangan jantung dalam sebuah pertandingan. | POOL EPA

Olahraga

Agar tidak Terkena Serangan Jantung Saat Berolahraga

Pemanasan menjadi salah satu kunci badan terhindar dari serangan jantung saat berolahraga.

JAKARTA – Dalam beberapa hari terakhir, kita dikejutkan oleh kasus serangan jantung mendadak yang menimpa olahragawan internasional dan nasional. Pesepak bola Denmark Christian Eriksen kolaps saat membela timnya melawan Finlandia pada Euro 2020. Beruntung, dengan pertolongan cepat, tepat, dan perlengkapan lengkap, nyawanya masih dapat diselamatkan.

Kejadian kedua menimpa legenda bulu tangkis Indonesia, Markis Kido. Kido mengembuskan napas terakhir setelah ambruk ketika tengah bermain bulu tangkis di Tangerang. Pertolongan pertama tak mampu menyelamatkan nyawanya. Saat tiba di rumah sakit, Kido sudah dinyatakan meninggal dunia.

Dokter Maria Dwi Sunardi dari Klinik Indonesia Sports Medicine Centre (ISMC) menjelaskan, sebelum berolahraga, harus ada persiapan terlebih dahulu, yakni pemanasan. “Dengan pemanasan, jantung dengan perlahan dipersiapkan untuk menjalani aktivitas dengan intensitas lebih tinggi dengan cara meningkatkan suhu tubuh dan menyalurkan darah ke otot,” kata dokter Maria saat dihubungi Republika, Selasa (15/6).

Pemanasan dapat dilakukan dengan berfokus pada otot besar dan juga menyesuaikan dengan jenis olahraga. Jika ingin berlari, pemanasan dapat dilakukan dengan berjalan cepat dan juga gerakan pemanasan untuk otot paha depan (quadrisep), paha belakang (hamstring), pergelangan kaki (engkel), dan lainnya. Pemanasan ini, kata dokter Maria, dilakukan dengan intensitas dan kecepatan yang perlahan dinaikkan.

 
Dengan pemanasan, jantung dengan perlahan dipersiapkan untuk menjalani aktivitas dengan intensitas lebih tinggi.
Dr MARIA DWI SUNARDI, Klinik Indonesia Sports Medicine Centre
 

Dokter Maria menjelaskan, olahraga yang baik dilakukan dengan rutin dan memperhatikan setiap komponen dari kebugaran tubuh. Olahraga yang baik merupakan kombinasi dari latihan kardio, kekuatan otot, fleksibilitas, keseimbangan, dan kelincahan tubuh. Menurut dia, semua komponen latihan ini aman untuk dilakukan oleh usia berapa pun.

“Yang terpenting, berolahraga dengan konsisten, dimulai dengan intensitas ringan dan naik secara bertahap untuk memastikan tubuh dapat beradaptasi dan mendapatkan manfaatnya," jelasnya.

Ia melanjutkan, kematian saat olahraga akibat serangan jantung atau henti jantung, antara lain, disebabkan penebalan otot jantung kronis yang berujung pada kegagalan pompa atau gangguan pada aktivitas listrik yang menyebabkan gangguan ritme jantung.

Banyak faktor pemicunya, seperti usia, faktor genetik, penyakit jantung yang diturunkan, dan gaya hidup tidak sehat yang menyebabkan adanya sumbatan pembuluh darah.

Menurut dokter Maria, serangan jantung dapat terjadi saat berolahraga dengan intensitas tinggi dikarenakan jantung harus memompa darah lebih kuat dan efisien ke seluruh tubuh. Jantung yang sehat dapat mengompensasi hal ini dengan baik. Namun, pada jantung yang memiliki gangguan, dapat kehilangan kekuatan untuk memompa darah sehingga berhenti mendadak.

Sebelum itu terjadi, sebenarnya tubuh kita sudah memberikan peringatan sebelumnya. Pada kasus serangan jantung saat olahraga, atlet dapat merasakan nyeri dada yang hebat dan keluhan khas serangan jantung lainnya. “Serangan jantung yang disebabkan sumbatan pembuluh darah ini akan dapat berujung pada henti jantung apabila tidak diberikan penanganan yang sesuai," kata dia.

Pencegahan bisa dilakukan dengan melakukan skrining kesehatan jantung secara rutin. Ketahui faktor risiko dengan pemeriksaan EKG dan juga profil kolesterol untuk mendeteksi dini adanya sumbatan pembuluh darah jantung.

Dokter Maria melanjutkan, denyut jantung saat olahraga yang disarankan oleh American College of Sports Medicine adalah 60-70 persen dari denyut jantung maksimal. Denyut jantung maksimal dihitung dengan rumus 220 dikutangi usia. “Olahraga yang aman dan efektif dilakukan terutama pada saat pandemi dapat berkisar di 60-70 persen denyut nadi maksimal," kata dia.

Menurut dia, penggunaan smart watch membantu untuk memantau denyut jantung saat berolahraga. Bagi pemula yang mulai berolahraga, dengan memantau fluktuasi denyut jantung akan membantu untuk mencegah latihan berlebihan dan risiko cedera, termasuk henti jantung.

Saat seseorang diduga mengalami henti jantung, pertolongan pertama yang harus dilakukan adalah memastikan orang tersebut ada dalam keadaan aman dan tidak ada risiko terluka lebih lanjut. Kemudian, menghubungi tenaga kesehatan untuk memberikan penanganan lanjutan."

Selanjutnya, pastikan ada denyut nadi leher dan apakah orang tersebut bernapas atau tidak. Apabila denyut nadi leher dan napas tidak ada, resusitasi jantung paru (CPR) dapat dilakukan dengan 30 kali pompa jantung manual dan dua kali napas buatan.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat