Petugas memeriksa kesehatan warga sebelum menjalani uji usap PCR di UPT Puskesmas Tamblong, Kota Bandung, Senin (14/6/2021). Varian Delta asal India tersebut terbukti bisa melemahkan imun tubuh. | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
15 Jun 2021, 03:55 WIB

Varian Delta Terus Merebak 

Varian Delta asal India tersebut terbukti bisa melemahkan imun tubuh.

JAKARTA – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan, varian B.1.617.2 atau Delta yang pertama kali ditemukan di India mendominasi terjadinya lonjakan kasus di sejumlah daerah di Indonesia, seperti di Kudus, DKI Jakarta, dan juga Bangkalan. Varian tersebut diketahui memiliki daya tular yang lebih cepat.

“Kami sedikit menambahkan, melaporkan juga ke beliau kenapa ini penting, karena beberapa daerah seperti Kudus, DKI Jakarta, dan juga Bangkalan memang sudah terkonfirmasi varian Delta-nya atau B.1.617.2 atau juga varian dari India mendominasi,” ujar Menkes saat konferensi pers di Kantor Presiden, Senin (14/6).

Ia menyebut, penularan dari varian Delta ini lebih cepat dibandingkan varian lainnya. Meskipun demikian, varian ini tak lebih mematikan. “Bapak Presiden menekankan sekali lagi bahwa protokol kesehatan harus dijalankan dengan disiplin sesuai dengan aturan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan kegiatan masyarakat) Mikro yang sudah ada,” kata Budi. 

Presiden Jokowi pun menginstruksikan Panglima TNI dan juga Kapolri agar memastikan pelaksanaan prokes di lapangan sesuai dengan aturan yang telah disusun dalam kebijakan PPKM mikro. Banyaknya klaster keluarga yang terpapar Covid-19 saat ini disebabkan oleh aktivitas mudik, pariwisata, dan juga kegiatan makan bersama juga jadi perhatian.

Terkait

"Sehingga beliau meminta agar ketiga aktivitas di mana kesempatan untuk membuka maskernya tinggi, ini benar-benar diperhatikan,” kata Menkes.

Varian B.1.617.2 diketahui menyebabkan lonjakan penularan di India dua bulan belakangan. Lonjakan kasus di India beberapa kali mencapai rekor harian lebih dari 300 ribu.

Kematian di India juga beberapa kali memecahkan rekor harian sedunia, yang terkini melampai 6.000 jiwa per hari. Lonjakan kasus itu membawa India ke posisi kedua sedunia dengan hampir 30 juta kasus dan 374 ribu kematian.

Varian Delta mula terdeteksi masuk Indonesia di Banten pada awal Mei 2021 lalu. Varian itu juga menjangkiti sejumlah awak kapal di Cilacap dan menulari sejumlah tenaga kesehatan pada akhir Mei. 

Dalam rekap sekuens Variant of Concern yang dilansir Kemenkes, dari total 1.989 sekuens telah terdeteksi 145 mutasi baru. Di antaranya 36 varian B.1.1.7 (asal Inggris), 5 varian B.1.351 (asal Afrika Selatan), dan 104 varian B.1.617.2 dari India.

Sekuens Delta terbanyak terdeteksi di DKI Jakarta (20 sekuens); serta wilayah Brebes, Cilacap, Kudus di Jawa Tengah (75 sekuens). Selain itu, terdeteksi juga masing-masing tiga sekuens Delta di Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Sumatra Selatan.

Sementara Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menyatakan, sebanyak 62 sekuens varian delta terdeteksi di Kudus. Jumlah yang dilansir Kemenkes tersebut juga belum menunjukkan angka sebenarnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by khofifah indar parawansa (khofifah.ip)

Di Jawa Timur, misalnya, Gubernur Khofifah Indar Parawansa baru mengumumkan kemarin ada tiga warganya yang terpapar varian Delta. "Pagi tadi saya dapat info dari Pak Rektor (Rektor Universitas Airlangga M Nasih) dari 24 sekuensing, pagi tadi keluar tiga. Dari tiga ini terkonfirmasi ada mutasi B.1.617.2 berarti ini strain India. Dua posisi Surabaya, satu Bojonegoro," ujar Khofifah di Surabaya, Senin (14/6).

Ketua Pokja Genetik FKKMK UGM, dr Gunadi mengatakan, dari kasus yang terjadi di Kudus menunjukkan kemungkinan besar adanya transmisi lokal varian Delta. Pihaknya sebelumnya ikut melakukan whole genome sequencing terhadap sejumlah sampel dari Kudus. "Tidak menuntup kemungkinan juga ke luar Kudus," kata Gunadi, Senin (14/6).

Varian Delta ditetapkan WHO menjadi Variant of Concern (VoC) 31 Mei 2021 karena berdampak besar kesehatan global. Varian itu memenuhi satu atau lebih dari tiga dampak yang ditimbulkan, daya transmisi, keparahan pasien, dan pengaruh kepada sistem imun.

Ia menerangkan, varian Delta terbukti lebih cepat menular serta mampu mempengaruhi respons sistem imun manusia. "Varian Delta bisa menurunkan respons sistem imun kita terhadap infeksi Covid-19, baik respons imun yang ditimbulkan infeksi alamiah maupun vaksin," ujar Gunadi.

Mengingat dampak yang ditimbulkan cukup serius, Gunadi meminta masyarakat tetap disiplin menjalankan prokes pencegahan Covid-19. Hal ini berlaku bagi seluruh masyarakat, termasuk yang telah melakukan vaksinasi karena reinfeksi masih bisa terjadi.

"Prokes harus diperketat. Meski sudah vaksin, prokes tidak boleh longgar," kata Gunadi.

Menyebar

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, juga telah memerintahkan semua bupati/wali kota yang ada di daerahnya untuk mengantisipasi penyebaran varian baru Covid-19 pada pengambilan sampel tes Covid-19.

“Setiap pengambilan sampel tes Covid-19, sekaligus juga mengambil sampel untuk whole genome sequencing (WGS) pada kasus-kasus tertentu,” katanya, usai memimpin rapat penanganan Covid-19 bersama bupati/wali kota se-Jawa tengah, Senin (14/6).

Dalam rapat tersebut, gubernur juga menyampaikan lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di Jawa Tengah dalam beberapa pekan terakhir ditengarai ada kaitan dengan varian baru virus yang ditemukan. Saat ini, varian baru virus Korona tersebut memang baru ditemukan di Kudus --setelah beberapa waktu sebelumnya-- ditemukan di Cilacap, tetapi semua kepala daerah diminta untuk selalu waspada.

“Maka saya minta kalau mengambil sampel tes, tolong juga ambil sampel untuk tes genome sequencing-nya. Ada aturan-aturan yang ditetapkan untuk itu, maka kita perintahkan kepala dinas kesehatan masing-masing untuk mengikutinya,” tegas Ganjar.

Gubernur menduga, varian baru tersebut –sebenarnya-- tidak hanya ada di Kudus. Sebab dalam rapat juga terungkap, kasus positif Covid-19 yang terjadi di kabupaten diketahui setelah pulang mengikuti acara kondangan di Kudus.

Kasus tersebut pun menginspirasi gubernur untuk menghubungkan dengan perkembangan dan persebaran kasus Covid-19 di Jawa Tengah, yang terjadi akhir- akhir ini.

Dari satu titik di Kudus, kemudian berkembang ke daerah lain hingga menyebabkan beberapa daerah sekitarnya menjadi zona merah risiko penyebaran virus Covid-19 yang ditandai lonjakan kasus harian. “Rasa-rasanya hipotesisnya berhubungan dengan Kudus, maka saya perintahkan ini segera dilakukan pengambilan sampel genome sequencing guna mencari sejauh mana varian baru tersebut telah menyebar,” tegasnya.

Dengan begitu, maka akan diketahui lebih cepat apabila varian baru memang sudah menyebar. Masyarakat diminta hati-hati karena varian baru virus Covid-19 dari India sudah masuk ke Jawa Tengah.

Tidak ada kata lain selain menaati dan disiplin dalam menjaga protokol kesehatan. “Pakai masker, jaga jarak, rajin cuci tangan pakai sabun, mengurangi mobilitas dan menjauhi kerumunan,” tambah gubernur.


×