Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri (kiri) berpidato di Jakarta beberapa waktu lalu. | ANTARA FOTO
12 Jun 2021, 03:40 WIB

Megawati Terima Gelar Profesor Kehormatan

Megawati dalam orasi ilmiahnya menyampaikan rasa terima kasih atas gelar kehormatan.

JAKARTA -- Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri resmi menerima penganugerahan gelar Profesor Kehormatan (Guru Besar Tidak Tetap) dari Universitas Pertahanan (Unhan), Jumat (11/6).

Gelar profesor kehormatan Ilmu Pertahanan Bidang Kepemimpinan Strategik dikukuhkan melalui sidang senat terbuka Fakultas Strategi Pertahanan Unhan di Aula Merah Putih, Kampus Bela Negara Unhan.

Sidang senat terbuka dipimpin Rektor Unhan Laksamana Madya TNI Prof Dr Amarulla Octavian diikuti pembacaan keputusan Menteri Pendidikan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim. Hadir dalam sidang tersebut Ketua MPR Bambang Soesatyo, Ketua DPR Puan Maharani, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Nadiem Anwar Makarim, dan Kepala BIN Budi Gunawan.

Rektor Unhan, Amarulla mengatakan, pemberian gelar profesor kehormatan karena keberhasilan dan prestasi Megawati sebagai presiden sekaligus putri terbaik bangsa. Keberhasilan ini dibuktikan dengan kiprah Megawati menjadi wakil presiden periode 1999-2002, dilanjutkan menjadi presiden 2002-2004. "Sebagai pemimpin nasional, beliau mampu membawa negara dan bangsa melalui masa-masa sulit pasca reformasi 1998," kata dia.

Terkait

Amarulla mengatakan, karakter dan wibawa kuat Megawati juga mampu menyelesaikan krisis multidimensi yang melanda bangsa Indonesia. Selama periode kepemimpinannya, Megawati juga dinilai banyak menerbitkan berbagai kebijakan yang sangat mendukung tugas kementerian pertahanan dan TNI.

Megawati dalam orasi ilmiahnya menyampaikan rasa terima kasih atas gelar kehormatan. Menurut dia, pemberian gelar itu menyadarkannya bahwa dunia itu berputar. Ia pun menceritakan bagaimana perjalanan hidupnya terlahir sebagai anak presiden, tumbuh di keluarga presiden, dan sempat melalui masa-masa sulit setelah peristiwa politik Presiden Soekarno dilengserkan pada 1965.

"Saya tidak bisa melanjutkan sekolah dan tentu saja karena ayah saya dilengserkan, hidup sebagai rakyat biasa, masa-masa itu memang masa sulit bagi kami, tetapi akhirnya, begitulah yang seperti saya katakan, roda berputar, sejarah memanggil saya untuk pertama kali menjadi anggota DPR RI, sampai tiga periode," kata dia.

Karir politiknya sebagai anggota DPR kemudian berlanjut menjadi wakil presiden, kemudian presiden. Ia menilai gelar profesor kehormatan itu tidak terlepas dari tugas yang ia emban sebagai presiden kelima RI.

"Sekaligus untuk bisa diingat, saya adalah mandataris MPR terakhir dalam menanganani krisis multidimensi yang terjadi saat itu, kehormatan ini membawa tanggung jawab tersendiri dalam diri saya," kata Ketua Umum PDI Perjuangan itu.

Megawati menyatakan, kepemimpinan strategik tidak diukur dari keberhasilan di masa lalu. Namun harus berkorelasi dengan masa kini, sekaligus melekat tanggung jawab untuk masa depan.

Dalam perspektif kekinian, kepemimpinan strategik setidaknya dihadapkan pada tiga perubahan besar. Pertama, perubahan pada tataran kosmik sebagai bauran kemajuan ilmu fisika, biologi, matematika, dan kimia.

Kedua, revolusi di bidang genetika, yang bisa mengubah keseluruhan landscape kehidupan. Megawati menilai berbagai perubahan itu harus tetap dibingkai dengan ideologi bangsa Indonesia, yakni Pancasila dan UUD 1945. Ketiga, kemajuan di bidang teknologi realitas virtual. 

Ketiga perubahan di atas, kata dia, bisa menciptakan bencana lingkungan yang sangat dahsyat mana kala tidak dikelola dengan baik. "Di sinilah kepemimpinan Strategik harus memahami aspek geopolitik tersebut, guna memperjuangkan bumi sebagai rumah bersama seluruh umat manusia,” kata dia.


×