Ilustrasi Piala Eropa | AP
11 Jun 2021, 05:23 WIB

Pertempuran Pertama Piala Eropa

Piala Eropa 2020 akhirnya digelar setelah tertunda satu tahun.

ROMA -- Genderang perang Piala Eropa 2020 akan segera berbunyi. Setelah setahun mengalami penundaan karena pandemi Covid-19, turnamen empat tahunan antarnegara Benua Biru, siap dimulai.

Pertandingan pembuka mempertemukan Italia dan Turki. Duel tersebut berlangsung di markas Gli Azzurri, Stadion Olimpico, Roma, Sabtu (12/6) dini hari WIB. Jelas, tuan rumah diunggulkan menjadi pemenang.

Secara statistik, skuad polesan Roberto Mancini sedang bagus-bagusnya. Para gladiator Negeri Piza belum terkalahkan dalam 27 pertandingan terakhir. Itu terhitung sejak September 2018.

Artinya, perubahan di timnas Italia berlangsung cepat. Tiga tahun lalu, mereka gagal lolos ke Piala Dunia. Kini, pasukan Mancini telah kembali ke level elite.

Terkait

Gli Azzurri bahkan lolos ke Piala Eropa 2020 dengan hasil mentereng. Para gladiator Negeri Spageti selalu meraih poin penuh selama 10 laga kualifikasi. Kegelimangan Giorgio Chiellini dan rekan-rekan berlanjut.

Italia menjadi pemenang dalam delapan partai terakhir di berbagai kompetisi. Selama periode tersebut, mereka mencetak 25 gol. Hebatnya lagi, gawang pasukan biru tetap perawan.

Sebuah sinyal bahaya untuk pertahanan Turki. Gli Azzurri sedang mengganas. Bek sayap tuan rumah, Alessandro Florenzi, menyinggung kehadiran penggemar di Olimpico.

Setelah sekian lama bermain di stadion kosong, ia seperti mendapat angin segar. Kendati kapasitas Olimpico tidak boleh terisi penuh, ia tetap antusias menantikan nyanyian para tifosi. Florenzi tak sabar untuk tampil di arena yang sempat menjadi markasnya itu.

"Ini akan menjadi perasaaan luar biasa. Kami berharap dapat menampilkan performa bagus dan memulai dengan baik," kata penggawa AS Roma, yang musim lalu menjalani masa peminjaman di Paris Saint Germain itu, dikutip dari Football Italia, Kamis (10/6).

Mantan arsitek Gli Azzurri, Marcelo Lippi, menyukai atmosfer positif yang diciptakan Mancini. Menurut Lippi, Mancini membuat Ciro Immobile dkk bermain dengan determinasi tinggi. Italia tetap tampil serius, bahkan ketika cuma melakoni laga uji coba. "Mereka selalu ingin menang," ujar Lippi.

Ia berhasil membawa Gli Azzurri menjadi juara dunia 2006. Lippi tidak melihat adanya kesamaan antara generasi Fabio Cannavaro cs dan era Leonardo Bonucci dan kawanannya. Namun, ia sepakat jika pasukan Mancini juga disebut bisa membuat perbedaan. "Para pemain memiliki karakteristik yang tepat untuk menjadi protagonis," tutur tokoh 73 tahun ini.

Hanya saja, Italia tidak bisa menurunkan kekuatan terbaik pada partai pembuka Piala Eropa edisi terkini. Gelandang Marco Verratti belum sepenuhnya pulih. Untungnya, Mancini memiliki seorang Manuel Locatelli.

Bintang Sassuolo itu diprediksi menggantikan tugas Verratti. Ia bergabung bersama Jorginho dan Nicolo Barella di lini tengah Azzurri. "Berada di sini, sesuatu yang saya impikan sejak kecil. Saya tidak tahu, formasi mana yang dipilih pelatih, tapi kami akan berusaha untuk siap," ujar Locatelli.

 
Berada di sini, sesuatu yang saya impikan sejak kecil.
MANUEL LOCATELLI
 

Turki datang ke kota Roma dengan semangat menggebu-gebu. Skuat polesan Senol Gunes tak ingin menjadi penggembira di turnamen ini. Waspadalah Italia.

Pelatih legendaris asal negara tersebut, Fatih Terim, bereaksi. Ia memuji kualitas kelas wahid penggawa tuan rumah. Namun, pada saat yang sama, ia optimistis the Crescent-Stars mampu berbuat banyak.

"Ini akan menjadi bentrokan antara tim yang bisa terus melaju dan tim yang dapat menyebabkan masalah untuk semua orang. Jika ada yang meremehkan kami, itu akan menjadi sebuah kesalahan. Saya tidak terkejut jika melihat Turki di Wembley," tutur Terim, dikutip dari laman resmi UEFA 

Eks juru taktik Galatasaray, AC Milan, dan Fiorentina itu sudah membayangkan anak asuh Gunes lolos ke final. Ia merasa wajar akan hal itu. Namun, Hakan Calhanoglu dan rekan-rekan harus menunjukkan kinerja berkelas sejak laga perdana.


×