Sejumlah siswa usai uji coba pembelajaran tatap muka tahap kedua di SDN 08 Kenari, Jakarta, Rabu (9/6/2021). Sebanyak 226 sekolah di Jakarta mengikuti uji coba pembelajaran tatap muka tahap dua dengan kuota 50 persen dari jumlah siswa. | Republika/Putra M. Akbar
11 Jun 2021, 03:55 WIB

Lonjakan Covid-19 Ancam Pembelajaran Tatap Muka

Sejumlah sekolah harus kembali menghentikan pembelajaran tatap muka terbatas karena Covid-19.

JAKARTA -- Lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di berbagai daerah mengancam keberlangsungan pembelajaran tatap muka (PTM). Sejumlah sekolah bahkan harus kembali menghentikan PTM terbatas karena ada siswa yang terpapar Covid-19.

Di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, para siswa SD Negeri Sokanegara 1 Purwokerto terpaksa kembali belajar secara daring. PTM dihentikan menyusul adanya dua siswa yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Kepala Dinas Pendidikan Banyumas, Irawati mengatakan, kedua siswa yang merupakan kakak-beradik itu tertular Covid-19 dari keluarganya. Keduanya diketahui positif Covid 19 pada Senin (7/6) setelah seluruh keluarganya melakukan swab mandiri.

"Informasi ini baru diketahui pihak sekolah pada Senin sore. Sedangkan Senin pagi dan hari-hari sebelumnya, kedua siswa tersebut sempat masuk sekolah mengikuti kegiatan PTM," kata Irawati, Kamis (10/6).

Terkait

Ia mengatakan, Dinas Pendidikan Banyumas sejak Selasa (8/6) memerintahkan pihak sekolah untuk tidak melanjutkan PTM. Untuk mencegah penyebaran Covid-19, pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Satgas Covid-19 untuk melakukan tracing. Seluruh siswa yang melakukan kontak erat dan juga guru sekolah diharuskan melakukan tes usap.

photo
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (tengah) memberikan bantuan alat kesehatan kepada Dinkes Kabupaten Banyumas saat meninjau program vaksinasi Covid-19 di Puskesmas II Sokaraja, Banyumas, Jateng, Kamis (10/6/2021).  - (ANTARA FOTO/IDHAD ZAKARIA)

Kepala SDN 1 Sokanegara, Tri Rudiyati mengatakan, kedua siswa yang terpapar Covid-19 merupakan kelas 4 dan 5. "Keduanya memang sempat datang ke sekolah Senin (7/6) pagi dan bertemu dengan teman-temannya," kata dia.

Menurut Tri, hasil tes swab kepada seluruh siswa yang melakukan kontak erat negatif Covid-19. Namun, tes bagi tenaga pendidik baru dilakukan Kamis ini.

Sejak Maret 2021, Pemkab Banyumas memutuskan memulai uji coba PTM di beberapa sekolah. Saat ini, ada 27 sekolah di berbagai tingkat pendidikan yang melaksanakan kegiatan PTM.

Di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, pemerintah daerah setempat telah menghentikan PTM sejak awal pekan mengingat banyaknya warga yang terpapar Covid-19. PTM telah dihentikan sejak 7 Juni hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Saat ini, siswa sedang menghadapi ujian akhir semester (UAS) tahun ajaran 2021. Pola pelaksanaan ujian kembali dilakukan secara daring. Siswa mengerjakan soal-soal ujian dari rumah masing-masing. Para guru diminta mendistribusikan soal ujian melalui grup media sosial, seperti Whatsapp yang selama ini biasa digunakan.

PTM di sejumlah daerah di Jawa Tengah juga terancam. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memerintahkan daerah berstatus zona merah mengevaluasi persiapan pelaksanaan PTM terbatas. Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19 per Rabu (9/6), kasus Covid-19 di enam daerah Jawa Tengah berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Hal ini karena terjadi penambahan kasus lebih dari 100 persen, sementara tingkat keterisian rumah sakit (BOR) di atas 70 persen.

Lonjakan kasus Covid-19 di Jateng salah satunya terjadi di Kabupaten Kudus. Ganjar mengatakan, penundaan PTM tak hanya berlaku bagi Kudus, tapi juga daerah lain seperti Kabupaten Brebes. “Meskipun guru-guru di sana sudah divaksin Covid-19, tapi jika wlayahnya masih zona merah risiko penyebaran Covid-19, PTM di sekolah tidak boleh dilaksanakan,” kata Ganjar di Semarang, Kamis (10/6).

Meski kasus Covid-19 sedang menanjak, sejumlah pemerintah daerah tetap mengadakan uji coba PTM. Pemprov DKI, misalnya, sedang menggelar uji coba PTM tahap kedua. Ada ratusan sekolah yang ikut uji coba.

Ketua Komisi X DPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Syaiful Huda, mendukung langkah pemerintah menggelar PTM terbatas pada Juli mendatang. Namun, ia mengingatkan bahwa orang tua siswa memiliki hak untuk tidak memberangkatkan anaknya ke sekolah.

Ia mengatakan, adaptasi baru untuk pendidikan perlu segera dilakukan. Sebab, ada learning loss atau pembelajaran yang tak dapat ditangkap dengan baik oleh siswa melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ).

"Mengapa learning loss terjadi karena PJJ hanya efektif rata-rata 30 sampai 35 persen,” katanya, kemarin.

photo
Siswa Sekolah Dasar mengerjakan soal ujian akhir semester di rumahnya di Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta, Selasa (8/6/2021). Gubernur Yogyakarta Sri Sultan HB X menyatakan sekolah tatap muka di wilayahnya dibuka setelah vaksinasi Covid-19 terhadap guru dan tenaga kependidikan selesai dilakukan. - (ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)

Strategi Kemenkes

Angka kasus Covid-19 harian terus meningkat belakangan ini. Pada Rabu (9/6), Satgas Covid-19 mencatat ada 7.725 kasus baru. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam 3,5 bulan terakhir. Angka kasus harian yang lebih tinggi sebelumnya dilaporkan pada 26 Februari 2021 dengan 8.323 kasus per hari.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, Kemenkes menerapkan skala prioritas penanganan Covid-19 terhadap daerah dengan kondisi penularan ekstrem dan yang belum mengalami lonjakan. Di daerah yang kondisinya ekstrem, seperti di Kudus dan Bangkalan, Kemenkes memberikan dukungan tenaga kesehatan, fasilitas kesehatan, termasuk fasilitas tempat tidur, alat kesehatan, obat-obatan yang cukup.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kementerian Kesehatan RI (kemenkes_ri)

"Karena saya mengerti kesulitan daerah yang sedang mengalami lonjakan seperti Kudus. Apalagi ratusan tenaga kesehatan juga mengalami infeksi maka bantuan tenaga kesehatan tersebut sangat mutlak diperlukan," kata Dante, Kamis (10/6).

Sedangkan di daerah yang belum terjadi lonjakan kasus ekstrem, Kemenkes tetap mendorong Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro. Langkah lainnya menggencarkan test, tracing, and treatment (3T), sosialiasi protokol kesehatan hingga mempercepat kegiatan vaksinasi.

Lonjakan di DKI Merata

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebut, jumlah penularan kasus Covid-19 di Ibu Kota kembali melonjak. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta, terdapat 2.096 kasus baru penularan Covid-19 pada Kamis (10/6).

"Sebanyak 12.304 orang dites PCR hari ini untuk mendiagnosis kasus baru, dengan hasil 2.096 positif dan 10.208 negatif," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes DKI Jakarta, Dwi Oktavia, dalam keterangan tertulis, Kamis.

Dwi menjelaskan, 51 persen atau 1.070 kasus positif dalam temuan ini, di antaranya adalah hasil tracing dari RT yang menerapkan micro lockdown. Sedangkan 49 persen atau 1.026 kasus lainnya merupakan hasil pemeriksaan dari fasilitas kesehatan yang ada di Jakarta.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Pemprov DKI Jakarta (dkijakarta)

Ia menuturkan, distribusi 2.096 kasus positif tersebut tersebar merata di seluruh wilayah DKI Jakarta. Mulai dari Kepulauan Seribu sebanyak dua kasus, Jakarta Barat 422 kasus, Jakarta Pusat 331 kasus, Jakarta Selatan 499 kasus, Jakarta Timur 637 kasus, dan Jakarta Utara 205 kasus.

"Jika dilihat penambahan kasusnya merata, terjadi di 43 kecamatan di DKI Jakarta, kecuali Kepulauan Seribu Utara. Lima kecamatan penyumbang kasus terbanyak adalah Cengkareng 109 kasus, Cipayung 80 kasus, Jagakarsa 80 kasus, Duren Sawit 71 kasus, dan Kebon Jeruk 68 kasus," ujar Dwi.

Dwi menyampaikan, dari jumlah kasus positif ini, sebanyak 760 kasus atau 36 persen adalah orang tanpa gejala. Kemudian, 1.336 kasus atau 64 persen merupakan pasien bergejala dengan 232 orang, di antaranya menjalani perawatan di rumah sakit.

Sebelumnya, kata Dwi, pihaknya menemukan 800 klaster Lebaran di Ibu Kota. Total ada 1.400 orang yang terpapar Covid-19 dari klaster tersebut.

Dia mengungkapkan, ratusan klaster ini tersebar di lima kota administrasi dan Kabupaten Kepulauan Seribu. Dari ribuan orang yang dinyatakan positif Covid-19, menurut Dwi, sebagian besar memiliki riwayat bepergian ke luar kota saat masa larangan mudik Lebaran 2021 dengan menggunakan kendaraan pribadi.

photo
Pasien Covid-19 menunggu ambulans untuk dibawa ke Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet di Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta, Selasa (8/6). - (Republika/Thoudy Badai)

"Kebanyakan karena mereka pakai kendaraan pribadi. Kalau pakai kendaraan umum kan sudah pakai syarat antigen dan sebagainya, baik saat berangkat maupun waktu dia (masyarakat) mau balik ke Jakarta sudah disekat," ujar Dwi saat dikonfirmasi.

Oleh karena itu, menurut dia, klaster penyebaran yang muncul umumnya, hanya terdiri atas beberapa orang dan masih memiliki hubungan keluarga. "Mayoritas klasternya kecil-kecil, tapi jumlahnya banyak. Rata-rata cuma dua sampai tiga orang per klaster," ucapnya. 

Selain perjalanan ke luar kota, Dwi mengungkapkan, penyebab lain penularan Covid-19 pada klaster tersebut adalah acara berkumpul bersama warga selama Lebaran hingga melakukan kegiatan secara bersama. Hal itu menyebabkan timbulnya klaster penularan lebih besar, seperti yang terjadi di wilayah Cilangkap, Jakarta Timur.

"Beberapa tempat yang muncul klaster sampai 20 orang karena riwayat melakukan kegiatan bareng-bareng, seperti silaturahim," tuturnya.

Ia menambahkan, dari 1.400 warga yang masuk pada klaster Lebaran itu, mayoritas sudah dinyatakan pulih usai menjalani isolasi terkendali. Namun, ia tidak menjelaskan secara perinci mengenai jumlah warga yang telah sembuh itu.

"Ada yang masih aktif, ada yang klasternya sudah selesai. Bergantung kapan dia teridentifikasi, kemudian isolasi sehingga bisa diputus rantai penularannya," katanya.

photo
Pasien Covid-19 menaiki bus khusus pasien untuk dibawa ke Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet di Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta, Selasa (8/6/2021). Berdasarkan data dari Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Jumlah pasien di Indonesia pada Selasa 8 Juni 2021 mengalami kenaikan 6.294 orang dengan jumlah total kasus positif Covid-19 mencapai 1.869.325 orang. - (Republika/Thoudy Badai)

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengiyakan keterisian tempat tidur pasien Covid-19 di Ibu Kota mengalami kenaikan. Ariza mengungkapkan, saat ini persentase bed occupancy rate (BOR) itu sudah lebih separuh dari kapasitas tempat tidur yang disediakan. 

"Terkait BOR kami saat ini untuk tempat tidur kapasitas 6.694 unit dan terpakai 3.560 unit. Jadi sudah mencapai 53 persen. Kemudian ICU ada 1.076 unit dan terpakai 558 unit. Itu artinya terpakai 52 persen," kata Ariza di Jakarta, Rabu (9/6).

Ariza pun kembali mengingatkan masyarakat untuk tetap mematuhi dan menerapkan protokol kesehatan. "Ini harus menjadi perhatian kita bersama bahwa sekalipun pelaksanaan Covid-19 di Jakarta sudah cukup baik dan cukup banyak, tetapi masyarakat kami minta tetap laksanakan protokol kesehatan," ujarnya. 


×