Hikmah Republika Hari ini | Republika
11 Jun 2021, 03:30 WIB

Amal Tergantung Ujung

Orang yang baik pangkalnya dan baik pula ujungnya. Itulah orang-orang mulia.

OLEH HASAN BASRI TANJUNG

Suatu saat, Nabi Muhammad SAW mengarahkan pandangan kepada seorang prajurit yang gagah di medan pertempuran melawan kaum musyrikin. Seketika, Beliau berkata, “Siapa yang ingin tahu penghuni neraka, lihatlah orang ini.”

Lalu, seorang sahabat mengikutinya hingga terluka parah dan ingin dimatikan segera. Lalu, ia mengambil sebilah pedang dan menghujamkan ke dadanya.

Beliau pun bersabda, “Sungguh, ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak melakukan amalan penghuni surga, tapi menjadi penghuni neraka. Sebaliknya, ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengerjakan amalan penghuni neraka, tapi akhirnya menjadi penghuni surga. Sesungguhnya, amalan itu dihitung dengan penutupnya.” (HR Bukhari).

Terkait

Belakangan ini semakin banyak orang yang mudah mengafirkan atau menuduh orang lain ahli bid’ah yang sesat hanya karena beda pemahaman. Mereka merasa paling benar, ahli sunah dan masuk surga, serta tidak mau mendengar pendapat orang lain. Itulah kesombongan karena menuruti hawa nafsu. (QS an-Najm [53]: 32). 

Sejatinya, kehidupan dunia ini laksana permainan yang dibatasi waktu. (QS al-An’am [6]: 32). Siapa yang meraih angka lebih tinggi, ia pemenangnya. Namun, orang yang meraih skor tinggi pun belum tentu menang, selagi permainan belum usai.

Sebab, pada saat injury time (detik-detik terakhir) atau additional time (perpanjangan  waktu) segalanya bisa berubah. Artinya, seorang yang saleh belum tentu selamat, selagi kehidupan masih berjalan dan belum berakhir (mati).

Kita diajarkan agar memulai perbuatan dengan niat ikhlas (HR Bukhari). Namun, manusia bisa saja tergelincir karena pengaruh pendidikan, teman atau lingkungan sosial yang kurang baik. Orang yang semula saleh bisa berujung buruk (su'ul khatimah). Sebaliknya, orang yang awalnya buruk, bisa berakhir baik (husnul khatimah).

Oleh karena itu, manusia dibagi menjadi empat macam. Pertama, orang yang buruk pangkalnya dan buruk pula ujungnya. Itulah orang-orang kafir yang hatinya telah tertutup dari kebenaran. (QS al-Baqarah [2]: 6-7). Mereka ingkar kepada Allah dan Nabi SAW. Misalnya Abu Lahab yang diabadikan dalam Alquran.

Kedua, orang yang buruk pangkalnya, tapi baik ujungya. Itulah orang-orang yang pernah tersesat jalan hidupnya, lalu sadar dan kembali ke jalan yang benar. Contohnya, Umar Bin Khattab RA yang menjadi pembela Islam.

Ketiga, orang yang baik pangkalnya, tapi buruk ujungnya. Itulah orang-orang saleh yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsu dan rayuan setan, sehingga terjerumus dalam kekufuran. Seperti kisah lelaki yang disebutkan di atas.

Keempat, orang yang baik pangkalnya dan baik pula ujungnya. Itulah orang-orang mulia yang terlahir dalam keluarga yang taat kepada Allah SWT.  Seumpama Abu Bakar RA, Ali bin Abi Thalib RA, para sahabat, tabi’iin dan yang mengikuti mereka hingga akhir zaman.

Akhirnya, kita selalu berdoa, “Yaa Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku pada ujungya, dan sebaik-baik amalku pada akhir hayatku, dan sebaik-baik hariku pada saat berjumpa dengan-Mu.” Aamiin.

Allahu a’lam bish-shawab.


×