Ilustrasi Timnas Indonesia memulai latihan. | Republika/Putra M. Akbar
10 Jun 2021, 09:25 WIB

Cut-Back yang Mulai 'Luput' di Timnas Indonesia

Timnas Indonesia tidak baik-baik saja.

OLEH MUHAMMAD IKHWANUDDIN 

Timnas Indonesia harus menelan pil pahit ketika tak berdaya menghadapi Vietnam di Kualifikasi Piala Dunia 2022, Selasa (8/6) dini hari WIB. Kekalahan telak 0-4 membuat skuad Garuda terbenam. 

Indonesia sejatinya mengantongi bekal yang cukup positif setelah menahan imbang Thailand dengan skor 2-2 di laga sebelumnya. Namun, Vietnam yang diarsiteki Park Hang Seo masih terlalu tangguh untuk wakil Ibu Pertiwi. 

Dalam sebuah pertandingan, menang dan kalah adalah urusan biasa. Tapi, jika menyaksikan Indonesia menghadapi Vietnam semalam, penonton pantas jika harus mengelus dada. Evan Dimas dan kawan-kawan pontang-panting menghadapi gempuran the Golden Stars yang terus-menerus menekan selama 90 menit pertandingan.

Terkait

Dominasi Vietnam terlihat jelas pada 15 menit pertama laga dan Indonesia berhasil menahan skor kacamata hingga turun minum. Akan tetapi, bencana hadir pada menit ke-51 dan terus menggerus pasukan Merah-Putih sampai peluit panjang berbunyi. 

Barisan pertahanan Indonesia sangat jelas butuh evaluasi besar-besaran mengingat kualitas koordinasi yang amburadul dalam situasi bola mati dan serangan balik. Tetapi, publik tidak bisa hanya menyalahkan bek dalam kekalahan. Pola serangan Indonesia pun tak bisa dianggap tajam. 

Buktinya, Indonesia baru mencatat satu peluang pada menit ke-46. Egy Maulana Vikri menjadi satu-satunya pemain yang membukukan tendangan berbahaya bagi gawang lawan meski hanya membentur mistar pada menit ke-70. Bandingkan dengan Vietnam yang menorehkan 13 kali sepakan dan enam di antaranya merupakan shot on goal.

Dalam urusan penguasaan bola, Vietnam juga dominan dengan 65 persen. Ini menjadi bukti bahwa timnas Indonesia belum baik-baik saja. Sudah pupus harapan berlaga di Piala Dunia 2022, belum meyakinkan pula pola permainan tim Garuda. 

Tapi, simpan dulu perasaan kesal terhadap timnas Indonesia. Sebab, ini baru langkah awal pengembangan skuad di era Shin Tae-yong. Pelatih asal Korea Selatan itu masih punya waktu untuk mempelajari karakter pemain nusantara. 

Dengan kehadiran Indra Sjafri sebagai direktur teknik, Shin semestinya bisa belajar dari Indra yang sukses mempersembahkan Piala AFF U-19 pada 2013 lalu. Evan Dimas merupakan "produk" racikan strategi Indra. 

Kala itu, Indra memiliki beberapa pemain yang sanggup berlari cepat seperti Paulo Sitanggang dan Alqomar Tehupelasury yang kerap melakukan overlap hingga ke ujung lapangan dan memberikan umpan tarik atau yang biasa dikenal sebagai cut-back. Operan tersebut efektif membuahkan beberapa gol krusial plus menelurkan trofi juara pertama setelah 22 tahun Indonesia paceklik piala di sepak bola internasional. 

Strategi itu masih diterapkan ketika timnas beregenerasi. Indonesia tak kekurangan pemain lincah, seperti Osvaldo Haay dan Witan Sulaeman. Keduanya sering menggiring bola hingga ujung lapangan dan memberikan umpan pendek terukur ke penyerang tengah. Hal inilah yang mungkin hilang dari pola serangan racikan Shin Tae-yong.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by PSSI (pssi)

Indonesia cenderung berfokus di lapangan tengah. Formasi 4-2-3-1 ramuan Shin mengharuskan pemain menyusun serangan dari tengah lapangan. Evan Dimas menjadi pemain kunci untuk menyalurkan bola ke depan, sementara Egy Maulana ditugaskan menjadi penerima suplai dari Evan. Namun, karena Egy tak bermain sejak awal laga, tugasnya digantikan oleh Osvaldo. Sayang seribu sayang, langkah ini tak efisien. 

Shin bukan tanpa usaha memperbaiki keadaan. Ia akhirnya memasukkan Egy, Witan, Muhammad Rafli, dan Saddam Gafar. Hasilnya, Egy sempat mengancam gawang lawan meski akhirnya harus menerima kenyataan. 

Kekalahan dengan skor mencolok membuktikan Indonesia saat ini berada di kelas yang berbeda dengan Vietnam meski sama-sama berada di Asia Tenggara. Padahal, jika melirik Piala AFF U-19 2013 lalu, Indonesia keluar sebagai juara setelah mengalahkan Vietnam. 

Hasil yang ditunjukkan Park Hang Seo di skuad Vietnam bukanlah pekerjaan satu-dua malam. Ia butuh waktu satu tahun terseok-seok hingga akhirnya membawa Vietnam juara Piala AFF 2018 dan SEA Games 2019. Selain menjadi tamparan keras, perjuangan Vietnam bisa diadaptasi oleh Indonesia jika memang juara tujuannya.


×