Megan Lovelady mulai tertarik kepada Islam sejak mengikuti aksi solidaritas untuk korban terorisme di Christchurch, Selandia Baru. | THE MUSLIMAH ORG
06 Jun 2021, 04:01 WIB

Megan Lovelady, Hidayah dari Tragedi Islamofobia

Megan tertarik Islam sejak mengikuti solidaritas untuk korban di Christchurch.

OLEH HASANUL RIZQA

"Saya ingin ikut melakukan gerakan (sujud) itu, tetapi tidak tahu caranya. Maka di sana saya hanya berdiri dan menangis."

Islamofobia bisa memicu terjadinya kekerasan atas kaum minoritas Muslim. Itulah yang terjadi pada 15 Maret 2019 silam di Christchurch, Selandia Baru.

Hari itu, aksi terorisme menyasar jamaah Masjid Al Noor dan Linwood Islamic Centre di kota setempat. Tak kurang dari 51 orang Islam gugur akibat perbuatan Brenton Tarrant, si pelaku yang dengan sengaja menembaki mereka.

Terkait

Saat melancarkan aksi kejinya, teroris tersebut menyiarkannya secara langsung melalui akun Facebook pribadi.

Peristiwa terorisme di Christchurch sudah berlalu sekira dua tahun lamanya. Tarrant pun sudah diganjar hukuman penjara seumur hidup oleh majelis hakim di Selandia Baru. Namun, memori peristiwa ini akan terus diingat publik. Mereka yang mengenang para korban tidak hanya komunitas Muslim, tetapi juga seluruh warga masyarakat.

Bagi Megan Lovelady, kejadian yang dipicu Islamofobia itu justru menjadi kesempatan untuk mengenal Islam lebih dekat. Ia ingat, sehari setelah terorisme melanda Christchurch Perdana Menteri (PM) Jacinda Ardern tampil di kota tersebut dengan mengenakan hijab berwarna hitam.

 
Bagi Megan Lovelady, kejadian yang dipicu Islamofobia itu justru menjadi kesempatan untuk mengenal Islam lebih dekat.
 
 

 

Pakaian tersebut tidak hanya melambangkan duka yang mendalam, tetapi juga solidaritas untuk warga yang Muslim. “Selandia Baru berkabung bersama kalian (komunitas Muslim). Kita semua satu,” ujar Jacinda Ardern saat itu.

Sehari kemudian, terbukti bahwa perkataan dan tindakan sang PM membangkitkan simpati publik. Para perempuan Selandia Baru berduyun-duyun mengikuti langkah pemimpinnya, memakai hijab sebagai bentuk empati.

Mereka datang dari pelbagai kalangan, mulai dari warga biasa, aparat kepolisian, karyawati, hingga pembawa berita di stasiun televisi. Simpati semakin tampak ketika pemakaman para korban berlangsung.

photo
Foto tak bertanggal ini adalah Masjid Al Noor di Deans Avenue, tempat beberapa jamaah masjid yang menjadi korban penembakan teroris , di Kota Christchurch, Selandia Baru, 15 Maret 2019.  - (EPA-EFE/MARTIN HUNTER)

Perempuan yang kini berusia 23 tahun itu mengatakan, dirinya pun turut dalam aksi solidaritas tersebut sambil mengenakan hijab. Sesudah pemakaman usai, tetap saja Megan memakainya. Penutup aurat Muslimah itu dipakainya berhari-hari. Hal itu dilakukannya sebagai bentuk dukungan untuk keluarga korban teroris.

Ketika tiba hari Jumat, ia bersama ratusan perempuan lainnya menghadiri shalat Jumat di Masjid Al Noor. Kehadiran mereka semakin menandakan bahwa sebagai korban terorisme di Christchurch komunitas Muslim tidak sendirian. Umat Islam merupakan bagian tak terpisahkan dari Selandia Baru.

Megan tentu mengikuti rangkaian kegiatan ibadah itu sebagai penonton. Walaupun begitu, ia dengan penuh perhatian memperhatikan bagaimana kaum Muslimin menjalankan ritual keagamaan.

 
Inilah pengalaman pertama gadis itu terpesona akan keindahan Islam. Lantunan Kitabullah sangat menyentuh hati dan jiwanya.
 
 

 

Saat berdiri, sang khatib membacakan ayat-ayat suci Alquran. Inilah pengalaman pertama gadis itu terpesona akan keindahan Islam. Lantunan Kitabullah sangat menyentuh hati dan jiwanya.

“Mendengar imam membacakan Alquran, rasanya sangat luar biasa,” kata Megan, seperti dikutip dari media Herald on Sunday.

Sesudah khutbah, imam Masjid Al Noor memimpin shalat. Perempuan kelahiran Tennessee, Amerika Serikat, itu tidak mengerti sama sekali arti bacaan shalat yang didengarnya.

Namun, ketika sang imam dan seluruh jamaah Muslim bersujud, Megan merasa sangat emosional. Timbul keinginan dalam dirinya untuk ikut sujud bersama mereka, tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.

photo
Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengenakan kerudung saat tiba di Masjid Al Noor di Christchurch, Selandia Baru, sebagai bentuk dukungan kepada warga Muslim korban terorisme, 24 September 2020. - (AP/Mark Baker)

“(Menyaksikan shalat Jumat) itu menenangkan perasaan. Saya ingin ikut melakukan gerakan (sujud) itu, tetapi tidak tahu caranya. Maka di sana saya hanya berdiri dan menangis,” ucapnya mengenang, seperti dikutip dari lama RNZ baru-baru ini.

Awalnya, warga Canterbury tersebut berniat terus mengenakan hijab selama beberapa hari untuk menunjukkan dukungannya terhadap komunitas Muslim. Ia berharap, dukungan kecil itu dapat membuat para perempuan Muslimah terlihat “lebih normal” saat melewati jalan-jalan di Christchurch.

Akan tetapi, yang muncul kemudian setelah menghadiri shalat Jumat itu tidak lagi sekadar kehendak bersolidaritas. Dari hati terdalamnya, Megan ingin mengenal Islam lebih dekat lagi.

 
Dari hati terdalamnya, Megan ingin mengenal Islam lebih dekat lagi.
 
 

 

Selama di Masjid Al Noor, ia berkenalan dengan sejumlah kawan baru. Para Muslimah itu bersikap sangat ramah kepadanya, seolah-olah saudara kandung sendiri. Seorang Muslimah yang diajaknya mengobrol tersenyum begitu Megan menceritakan kesan positifnya terhadap lantunan Alquran.

Ia pun ditanya, apakah tertarik untuk membaca langsung kitab suci tersebut atau—setidaknya—terjemahannya? Ia pun langsung mengangguk setuju.

photo
Teroris bersenjata Brenton Tarrant mendengarkan putusan hakim pengadilan di Christchurch, Selandia Baru, 25 Agustus 2020. Tarrant divonis penjara seumur hidup atas penembakan sadisnya yang dilakukan di dua masjid di Christchurch, akhir 2019. EPA-EFE/JOHN KIRK-ANDERSON / POOL AUSTRALIA AND NEW ZEALAND OUT - (PA-EFE/JOHN KIRK-ANDERSON / POOL AUSTRALIA AN)

Sebuah mushaf diberikan kepada Megan. Isinya adalah Alquran 30 juz dalam bahasa Arab dan artinya. Ia pun memasukkan pemberian teman barunya ke dalam tasnya dengan senang hati.

Selanjutnya, keduanya mengobrol tentang dasar-dasar Islam. Muslimah tersebut menuturkan, dalam agama ini seseorang mesti beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab-Nya, nabi dan rasul, hari akhir, serta qada dan qadar. Megan menangkap kesan, apa yang disebut rukun iman itu masuk akal.

“Sebelumnya, saya sudah mempelajari banyak agama. Tapi, baru kali ini tertarik untuk mendalaminya,” katanya.

photo
Para pendukung korban penembakan teroris Brenton Tarrant merayakan atas keputusan pengadilan yang memvonis hukuman penjara seumur hidup atas Brenton Tarrant, di luar Gedung Mahkamah Agung di Christchurch, Selandia Baru, 27 Agustus 2020. Brenton Tarrant divonis seumur hidup atas aksi terorisme yang menyasar dua masjid di Christchurch pada 2019 - (EPA-EFE/MARTIN HUNTER )

Sebelum kembali ke rumahnya, ia mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan Muslimahnya itu, terutama sosok yang telah memberinya mushaf Alquran. Ia berjanji untuk kembali lagi ke Al Noor bilamana ada pertanyaan tentang Islam atau sekadar ingin berdiskusi. Sikap jamaah masjid tersebut yang ramah membuatnya serasa berada di rumah sendiri.

Hingga akhir Maret 2019,  Megan menghabiskan banyak waktu luangnya untuk membaca pelbagai hal tentang Islam. Ia terus membolak-balik mushaf Alquran pemberian kawannya itu. Buku-buku mengenai Nabi Muhammad SAW atau pokok-pokok ajaran Islam pun dibelinya dari toko.

Ia melahap semua itu bukan untuk mendebat atau menemukan celah “kelemahan” Islam, tetapi lebih didorong rasa penasaran; mengapa dirinya sampai tertarik kepada agama ini?

Pada 2 April 2019, Megan datang lagi ke Al Noor, Christchurch. Di dalam masjid tersebut, ia mendapati dua orang yang sama seperti dirinya, hendak berdiskusi tentang Islam. Seorang jamaah setempat dengan ramah mempersilakan ketiga non-Muslim ini untuk duduk. Diskusi pun berlangsung dengan lancar dan akrab.

 
Sampai akhirnya, Megan merasa seperti kehabisan kata-kata untuk menyatakan kekagumannya terhadap ajaran Islam.
 
 

 

Sampai akhirnya, Megan merasa seperti kehabisan kata-kata untuk menyatakan kekagumannya terhadap ajaran Islam. Mungkin karena melihat dirinya lebih lama terdiam, jamaah tersebut mengarahkan tubuh dan wajahnya, lalu berkata kepadanya, “Jadi, mengapa Anda tidak menjadi Muslim saja?”

Pertanyaan tersebut dijawabnya dengan pertanyaan lagi, bagaimana caranya memeluk Islam. Muslimah tersebut mengingatkan, seseorang hanya perlu mengucapkan dua kalimat dan meyakini dengan sepenuh hati makna dari ucapannya itu. Kalimat-kalimat itu disebut syahadat, yang berarti pernyataan beriman kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Megan kembali terkesan. Dua kalimat ini singkat saja, tetapi mengungkapkan kesaksian yang begitu besarnya. Dengan dibimbing Muslimah tersebut, ia pun mengucapkannya, pertama-tama dalam bahasa Arab: “Asyhaduan laa ilaaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah.”

photo
Aksi terorisme yang menyasar jamaah masjid di Christchurch, Selandia Baru, pada 2019 silam menunjukkan betapa berbahayanya islamofobia. - (DOK AP Mark Baker)

Selanjutnya, ucapan yang sama dilafalkannya dalam bahasa Inggris, “I bear witness that (there is) no God except Allah, and I bear witness that Muhammad is the messenger of Allah.”

“Semudah itu memeluk Islam? Katanya (Muslimah tersebut), ‘Ya, Allah-lah yang mengetahui apakah dirimu tulus atau tidak (memeluk Islam). Iman itu adalah tentang hubunganmu sendiri dengan Allah',” kata Megan menirukan jawaban orang yang telah membimbingnya bersyahadat.

Sejak pindah agama, gadis ini pun rajin mengunjungi masjid setiap hari. Di sana, dia tidak hanya mengikuti shalat lima waktu, tetapi juga belajar membaca Alquran dan mengikuti kajian-kajian keislaman. Tentu, ia pun menghabiskan waktu bersama Muslim lainnya untuk meningkatkan kualitas takwa.

 
Saya merasa sangat senang menjadi bagian dari komunitas yang luar biasa dalam hidup saya. Saya merasa, Allah menerima saya kembali.
 
 

 

“Saya merasa sangat senang menjadi bagian dari komunitas yang luar biasa dalam hidup saya. Saya merasa, Allah menerima saya kembali,” katanya.

Ya, dia merasa Tuhan menerimanya dengan penuh kasih sayang dan kedamaian. Sebab, ketika belum memeluk Islam atau bahkan sebelum 2019, Megan sempat mengalami musibah. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri, kekasihnya tertabrak kereta api yang melesat cepat. Waktu itu, keduanya masih baru di Selandia Baru, sesudah bermigrasi dari AS.

“Setelah kejadian kecelakaan itu, saya bertanya kepada Tuhan, mengapa saya (yang mendapatkan musibah –Red)? Mengapa saya yang harus melalui semua itu? Jika Tuhan memang mahakuasa—pikir saya waktu itu—harusnya Dia bisa melakukan apa saja untuk menyelamatkan kekasih saya?” tuturnya.

“Sejak itu, saya mulai tidak lagi tertarik kepada agama. Tapi, tragedi Christchurch seperti mengembalikan saya kepada pencarian spiritual,” sambungnya.


×