Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asyari atau Minha berlokasi di kompleks Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. | DOK KEMENDIKBUD
01 Jun 2021, 07:58 WIB

Menanti Kesiapan Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari

Museum yang berlokasi di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng itu perlu penyempurnaan.

OLEH HASANUL RIZQA

 

 

 

Jombang merupakan salah satu daerah di Indonesia dengan tradisi keislaman yang kuat. Kabupaten di Provinsi Jawa Timur ini masyhur dengan sebutan Kota Santri. Julukan itu berdasarkan pada beberapa fakta, seperti banyaknya jumlah pondok pesantren di wilayah seluas 1.159 km persegi tersebut.

Bahkan, beragam kalangan memosisikan Jombang sebagai pusat pesantren di Tanah Jawa. Sebab, hampir seluruh pendiri pesantren di Jawa pernah berguru di sana.

Tebuireng menjadi salah satu pesantren yang paling dikenal di Jombang. Pendirinya, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, merupakan seorang pahlawan nasional yang telah banyak berkiprah untuk agama dan Tanah Air. Dialah pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926.

Mengikuti jejaknya, anak keturunannya pun turut meletakkan fondasi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sekadar menyebut beberapa contoh, dua di antaranya adalah putranya, KH Abdul Wahid Hasyim (menteri agama pertama RI), dan cucunya, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (presiden keempat RI).

Sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi Tebuireng bagi Indonesia, pemerintah pusat dan daerah berkolaborasi membangun Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari di kompleks pondok pesantren tersebut. Melansir laman resmi Nahdlatul Ulama, pembangunan museum itu dimulai sejak 2012 lalu. Anggarannya sebesar kira-kira Rp 30 miliar yang bersumber dari pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan Pemerintah Kabupaten Jombang.

Menurut rencana awal, bangunan tersebut akan dinamakan sebagai Museum Islam Nusantara KH Hasyim Asy’ari. Namun, menjelang peresmiannya pada Desember 2018, nama itu diubah menjadi Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari atau Minha. Kompleks yang bernilai edukatif itu diresmikan oleh Presiden Joko Widodo.

 
Menjelang peresmiannya pada Desember 2018, nama itu diubah menjadi Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari.
 
 

Museum ini dibangun di atas lahan seluas 4,9 hektare. Rancang bangunnya tergolong unik. Bangunan utamanya terdiri atas lima lantai. Secara keseluruhan, bentuknya menyerupai piramida atau limas besar beralas persegi empat. Tampak nuansa arsitektur modern yang ditampilkannya dengan menonjolkan aspek ramah lingkungan dan hemat energi.

Hal itu terlihat, misalnya, dari pemosisian jendela-jendela bangunan yang dibuat sedemikian rupa. Alhasil, pencahayaan untuk bagian interior tidak selalu mengandalkan lampu listrik.

Tidak jauh dari bangunan utama, terdapat Monumen at-Tauhid. Monumen berbentuk kubus itu dihiasi dengan ornamen-ornamen yang melambangkan 99 Asmaul Husna. Keindahannya semakin mempesona lantaran adanya air mancur di sekelilingnya.

photo
Pengunjung berada di Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asyari (Minha) Jombang, Jawa Timur, Kamis (9/5/2019). Keberadaan Minha sebagai sarana transformasi pengetahuan tentang kehadiran dan proses perkembangan agama Islam di Indonesia yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 18 Desember 2018, saat ini masih minim koleksi dan fasilitas. Bahkan beberapa ruangan tempat koleksi benda kuno belum dibuka hingga sekarang. - (DOK ANTARA Syaiful Arif)

Merujuk pada laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), gagasan di balik pembangunan Minha berasal dari banyak elemen masyarakat. Mereka ingin agar di dalam kompleks Pesantren Tebuireng terdapat sebuah fasilitas publik yang dapat mengumpulkan, melestarikan, mengomunikasikan, dan memamerkan artefak-artefak budaya keislaman kepada khalayak luas.

Mengutip pemberitaan Republika pada hari peresmian museum tersebut, pengasuh Tebuireng kala itu, KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah mengatakan, berdirinya bangunan tersebut tidak hanya berfungsi edukatif. Melalui Minha, lanjutnya, publik diharapkan dapat memahami proses bagaimana kelompok-kelompok Islam—seperti NU, Muhammadiyah, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), dan sebagainya—menerima Pancasila sebagai dasar negara.

Adapun dipilihnya nama sang hadratussyekh sebagai nama museum tersebut dilatari memori sejarah bahwa pada zaman perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Mbah Hasyim-lah yang diterima banyak elemen Muslimin sebagai pemimpin umat.

photo
ILUSTRASI Pihak Pondok Pesantren Tebuireng terus berupaya mengembangkan Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asyari. - (DOK ANTARA Syaiful Arif)

Perlu disempurnakan

Walaupun sudah dikenalkan pada 2018 lalu kepada masyarakat, Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari masih perlu disempurnakan. Koleksinya masih terbilang minim. Selain itu, fasilitas yang ada memerlukan penanganan langsung oleh ahlinya.

Baru-baru ini, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid mengunjungi Pondok Pesantren Tebuireng untuk bertukar pikiran dengan para tokoh setempat terkait beragam hal. Di antaranya adalah kelanjutan pemanfaatan Minha. Dia berjanji akan melakukan langkah konkret bersama dengan Pesantren Tebuireng dan Pemkab Jombang untuk mengembangkan museum yang strategis tersebut.

“Dalam penyajiannya, (museum) bisa melibatkan profesional, selain nanti ada dari pihak pondok yang akan terlibat,” ujar Hilmar Farid di hadapan keluarga besar Mbah Hasyim, seperti dikutip Republika dari laman resmi Pondok Pesantren Tebuireng, 25 Mei 2021.

photo
Presiden Joko Widodo (ketiga dari kiri) saat acara peresmian Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asyari di Tebuireng, Jombang, Jatim, pada Desember 2018 lalu. - (DOK KSP)

Beberapa rencananya terkait pengembangan Minha adalah mengadakan pelatihan untuk utusan Tebuireng yang akan dijadikan sebagai petugas museum. Selain itu, pihaknya akan meminta Badan Layanan Umum (BLU) Museum Nasional untuk membantu mengelola museum selama beberapa tahun ke depan. Untuk selanjutnya, pengelolaan tersebut bisa dilepas menjadi sebuah badan usaha milik daerah (BUMD) Jombang.

Di tempat yang sama, Bupati Jombang Mundjidah Wahab mengaku gembira dengan rencana Kemendikbud. Ia menyebut, Pemkab Jombang tidak akan mampu melakukan pengelolaan secara mandiri tanpa kehadiran pusat. Sebab, adanya biaya perawatan, pengembangan, dan operasionalnya yang cukup besar.

 
Bangsa harus melihat sejarah, maka perlu bagaimana nanti museum itu mengembangkannya. Mari kita diskusikan.
 
 

Sementara itu, pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin berharap penyempurnaan museum tersebut dapat segera diselesaikan. “Bangsa harus melihat sejarah, maka perlu bagaimana nanti museum itu mengembangkannya. Mari kita diskusikan. Kalau kata Bung Karno, Jasmerah (jangan sekali-kali lupakan sejarah),” ucap cicit Mbah Hasyim itu.

Dari pihak Tebuireng, KH Abdul Halim Mahfudz atau Gus Iim selaku penanggung jawab museum tersebut menegaskan perlunya segera menentukan langkah-langkah konkret. Ia pun menjabarkan beberapa persoalan yang ada pada Minha sejauh ini.

“Kalau bisa, dalam waktu lima bulan ke depan bisa melakukan beberapa langkah konkret, membangun SDM (sumber daya manusia), perbaikan fisik. Loket tiket belum ada. Toko suvenir juga belum ada. Lalu, juga harus menyerap aspirasi publik,” katanya.


×