Nathalia Costa, seorang perempuan AS, memeluk Islam setelah bermukim di Turki beberapa tahun. | DOK KALW
01 Jun 2021, 07:04 WIB

Nathalia Costa, Kisah Perempuan Mualaf Amerika

Nathalia perempuan mualaf Amerika ini menemukan banyak konsistensi dalam ajaran Islam.

OLEH HASANUL RIZQA

 

 

 

Terkait

Sebagai negara majemuk, Amerika Serikat juga menjadi rumah bagi pemeluk Islam. Berdasarkan data pada 2017, jumlah penduduk Muslim di Negeri Paman Sam ditaksir mencapai 3,35 juta orang. Itu setara dengan 1,1 persen populasi setempat.

Per tahunnya, sebanyak 25 ribu orang Amerika memeluk agama ini. Uniknya, lonjakan jumlah mualaf pernah terjadi justru sesudah tragedi Menara Kembar WTC pada 2001 silam. Seperti umumnya diketahui, serangan teroris tersebut kerap dikaitkan dengan Islam.

Para mualaf di AS membentuk forum-forum untuk saling berbagi informasi dan pengalaman. Di Santa Klara, Kalifornia, komunitas Muslim setempat juga aktif menggelar sesi pertemuan tahunan. Mengutip laman KALW, mereka membuka ruang untuk mengenal lebih dekat dan mendengarkan curahan hati orang-orang yang baru berislam.

Bagi Nathalia Costa, sharing session seperti yang digelar komunitas Muslim Santa Klara sangat bermanfaat. Sebagai seorang mualaf, gadis berusia 26 tahun itu merasa masih terisolasi dari lingkungan sekitar. Itu dirasakannya sejak dirinya memeluk Islam beberapa tahun lalu.

Awalnya, Nathalia mengikuti forum ini secara tidak sengaja. Saat mengunjungi Santa Klara, dia berusaha mencari-cari masjid untuk menunaikan shalat lima waktu. Ketika ashar tiba, ia bersyukur menemukan masjid. Usai beribadah, ternyata jamaah setempat menyilakannya untuk ikut dalam pertemuan tahunan, yang salah satu sesinya berbicara tentang masalah mualaf.

Ia mengaku senang dengan diskusi-diskusi yang disajikan. Peserta umumnya adalah orang Islam yang memiliki pengalaman serupa dengannya. Yakni, menjadi Muslim bukan sejak lahir, melainkan pencarian pribadi.

 
Ada proses yang cukup panjang hingga akhirnya hati dan pikirannya mantap memilih agama tauhid.
 
 

Gadis berkerudung biru muda itu mendengarkan pemaparan para pemateri dengan saksama. Tiba saatnya sesi tanya jawab, ia pun memberanikan diri untuk bertanya. Yang diajukannya mungkin lebih tepat disebut sebagai uraian, alih-alih pertanyaan.

Nathalia menceritakan, dirinya adalah seorang perempuan keturunan Brasil-Amerika. Sejak Desember 2016 lalu, ia memutuskan untuk menjadi Muslim. Sebelumnya, gadis berkaca mata ini adalah pemeluk Katolik.

Perpindahannya ke Islam terjadi tidak secara tiba-tiba. Ada proses yang cukup panjang hingga akhirnya hati dan pikirannya mantap memilih agama tauhid. Perkenalannya dengan Islam pun dimulai setelah dirinya beralih dari satu gereja ke gereja lainnya.

Dari Katolik, Nathalia saat itu menjadi pengikut Presbiterian. Tidak puas, dia lalu beralih ke aliran Baptis hingga Kristen Masehi Advent Hari Ketujuh. Yang membuatnya terus mencari adalah dorongan untuk menemukan kebenaran.

Ia ingat, suatu hari dirinya pernah bertanya ke ibunya, “Bagaimana seseorang mengetahui kebenaran jika setiap gereja mengatakan sesuatu yang berbeda satu sama lain?”

 
Ibu saya bilang, kamu tidak tahu, tetapi apa pun yang kaurasakan dalam hati sebagai yang benar, maka itulah kebenaran
 
 

“Ibu saya bilang, kamu tidak tahu, tetapi apa pun yang kaurasakan dalam hati sebagai yang benar, maka itulah kebenaran,” ujar Nathalia Costa menirukan penutusan ibunya, seperti dilansir dari KALW, baru-baru ini.

Selanjutnya, ia saat itu mencoba beralih ke kepercayaan di luar Nasrani. Bahkan, petualangan dalam hidupnya pun dimulai. Dengan penuh keyakinan, dia memutuskan untuk merantau ke luar negeri. Sebuah tawaran datang kepadanya, yakni menjadi pengajar bahasa Inggris di Istanbul, Turki.

Selama di kota penghubung dua benua tersebut, Nathalia terus mempertanyakan keimanannya. Walaupun orang-orang Turki kebanyakan Muslim, dia belum begitu tertarik untuk mengenal Islam hingga saat itu. Ia masih tertarik pada ajaran Buddha.

Namun, lagi-lagi Nathalia merasa tidak pasti. Konsep ketuhanan dalam agama ini belum begitu meyakinkannya. Sementara, pergaulannya sehari-hari semakin banyak interaksi dengan orang-orang Islam. Beberapa dari mereka bahkan menjadi sahabat terdekatnya.

Maka, ia pun mulai serius mempelajari ajaran Islam. Sejauh yang diketahuinya hingga saat itu, agama tersebut sering dikaitkan dengan radikalisme atau terorisme. Kejadian 9/11 menyebabkan stigma atas Muslimin, khususnya di AS.

Kini, ia sedang bermukim jauh dari Amerika. Budaya di Turki sangat berbeda dengan AS. Suara azan berkumandang mengisi langit tiap lima waktu dalam sehari. Masjid-masjid pun jamak ditemui di tiap sudut kota. Para perempuan Muslim menutup rambut mereka dengan kerudung serta mengenakan pakaian longgar. Semua hal itu sangat jarang dijumpainya di negeri asal.

 
Diakuinya, rutinitas sehari-hari di Istanbul membuatnya semakin tenggelam dalam budaya Islam.
 
 

Diakuinya, rutinitas sehari-hari di Istanbul membuatnya semakin tenggelam dalam budaya Islam. Namun, itu justru membuat hati dan pikirannya tenang. Sebab, Nathalia melihat pada kebanyakan kawan-kawannya yang Muslim, hidup mereka seperti sudah terarah jelas.

Suatu hari, seorang temannya meminjamkan terjemahan Alquran dan buku-buku lain tentang Islam kepadanya. Perempuan ini menerima semua itu dengan terima kasih. Setiap hari, bahan bacaan itu dicernanya dengan penuh perhatian.

Ia menemukan, konsep ketuhanan dalam Islam sangat sederhana. Dan, justru karena itulah konsep tersebut begitu diterima akal logika. Allah adalah Tuhan. Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Maka, tidak ada itu penambahan atau status lain bagi Tuhan, semisal anak, bapak dan sebagainya.

Barulah Nathalia mengetahui tentang tauhid. Selain itu, ia mendapatkan pencerahan tentang kedudukan nabi-nabi dalam Islam. Agama ini mengakui kenabian Isa (Yesus) dan Musa. Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah kitab terakhir yang diturunkan Allah.

Sebuah ayat dalam surah az-Zukhruf menyentuh hati perempuan ini. Arti ayat tersebut, “Dan jika engkau bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan mereka’, niscaya mereka menjawab, ‘Allah,’ jadi bagaimana mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah).” Firman suci itu seolah-olah mengajak pembacanya untuk merenung, melakukan pencarian Tuhan yang benar.

 
Allah SWT adalah Tuhan pencipta alam dunia. Dia tidak memiliki anak dan tidak dilahirkan. Allah itu satu.
 
 

Lalu, surah lainnya adalah al-Ikhlash. Melalui surah tersebut, ditegaskan bahwa Allah SWT adalah Tuhan pencipta alam dunia. Dia tidak memiliki anak dan tidak dilahirkan. Allah itu satu.

“Saya belajar lebih banyak tentang itu (tauhid), dan saya pun akhirnya menemukan kebenaran dalam Islam. Saya menemukan banyak konsistensi di dalam ajarannya,” ujar Nathalia Costa.

Dari interaksi dengan kawan-kawan Muslimnya, ia pun mulai tertarik untuk mengenal riwayat kehidupan Nabi Muhammad SAW. Sebab, tidak mungkin memahami ajaran Islam tanpa mengetahui sifat-sifat pembawa risalahnya.

Berbagai buku biografi Rasulullah SAW diselaminya. Ternyata, banyak asumsi-asumsi yang keliru tentang sosok ini. Kisah-kisah teladan beliau pun membuat Nathalia semakin bulat untuk sampai pada keputusan memeluk Islam.

Maka, selang beberapa waktu sebelum kembali ke AS, dia telah mengucapkan dua kalimat syahadat. Persaksian itu menegaskan bahwa ia mengakui, tidak ada Tuhan selain Allah; dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan-Nya. Resmi sudah perempuan tersebut menjadi seorang Muslim.

photo
Saat menghadiri sharing session di Masjid Santa Klara, Kalifornia, AS, Nathalia Costa menuturkan kisahnya menjadi mualaf. - (DOK KALW)

Sebagai mualaf, ia ingin menjalankan kewajiban agama dengan sebaik-baiknya. Dimulai dari caranya berbusana. Nathalia mengaku, dia langsung memakai hijab begitu memutuskan menjadi Muslim. Ia ingat, kawan-kawannya di Istanbul menolongnya untuk mencarikan jilbab yang pas dan bagus untuknya.

Kembali ke tanah airnya, Nathalia mendapatkan profesi pengajar. Ia memiliki penghasilan sendiri sehingga bisa cukup mapan. Namun, diakuinya hidup sebagai seorang Muslim di AS membuatnya agak terisolasi.

Maka begitu menemukan forum berbagi (sharing session) di Santa Klara, Kalifornia, ini, seperti sebuah oasis baginya. Ia mengaku senang bisa membagikan pengalaman dan kegelisahannya sebagai mualaf.

Sesudah menuturkan kisahnya, hadirin acara ini banyak yang meresponsnya. Mereka semua menanggapi positif perjalanannya dalam menemukan Islam. Setelah forum selesai, beberapa dari jamaah menghampirinya untuk berkenalan dan membagi nomor kontak.

Seorang dari mereka adalah nenek bernama Fateeha Abu Mahmoud Kratas. Ia menyapa Nathalia dan kemudian memeluknya erat. Nenek yang berdarah Arab-Maroko itu lantas berkata, “Kamu tidak perlu merasa bukan siapa-siapa. Kamu sudah kuanggap seperti putri sendiri. Nathalia, kau sangat-sangat diterima di sini!”

Pemandangan itu membuat seisi ruangan Masjid Santa Klara seperti dialiri angin sejuk. Di sini, Nathalia merasakan makna dari rasa persaudaraan Islam. Siapa sangka, ukhuwah Islamiyah pun dapat dirasakannya di Amerika, yang mungkin belum pulih dari syak wasangka Islamofobia. Baginya, inilah pengalaman yang tak akan terlupakan seumur hidupnya.


×