Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri berjabat tangan bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto usai melakukan pertemuan di kediaman Jalan Teuku Umar, Jakarta, Rabu (24/7). | Republika/Prayogi

Nasional

29 May 2021, 03:45 WIB

PDIP-Gerindra Diprediksi Reuni

PDIP mengakui kedekatan Megawati dengan Prabowo Subianto.

JAKARTA—Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno memprediksi bakal ada reuni antara PDIP dan Partai Gerindra di Pilpres 2024 mendatang. Ia mengatakan, reuni ini dikuatkan dengan pernyataan Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani yang mengakui adanya peluang Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto diusung PDIP.

Menurut Adi, pernyataan Muzani mengokohkan keyakinan publik duet Prabowo Subianto-Puan Maharani di Pilpres 2024. Duet ini bakal menjadi reuni PDIP-Gerindra yang berkoalisi pada Pilpres 2009 lalu. Saat itu, PDIP-Gerindra, memasangkan duet Megawati Soekarnoputri dengan Prabowo. Diprediksi, posisi Puan Maharani akan menggantikan sang Ibu untuk menjadi duet Prabowo.

"Ketika bicara 2024 sepertinya ada titik temu kepentingan politik, titik temu kepentingan Gerindra menduetkan keduanya. Sejauh ini kan pembicaraan publik duet Prabowo dan Puan," kata Adi kepada Republika, Jumat (28/5).

 
photo
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menerima Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di kediaman Jalan Teuku Umar, Jakarta, Rabu (24/7/2019). Pertemuan tersebut membicarakan sejumlah isu persoalan bangsa dan negara sekaligus makan bersama.--- Prayogi/Republika. - (Republika/Prayogi)

Ia melihat rajutan koalisi antara PDIP-Gerindra sudah terbangun sejak lama. Pertama ketika Prabowo dan Gerindra bergabung dengan pemerintah. Selain itu, banyaknya koalisi antara PDIP dan Gerindra pada Pilkada 2020 lalu.

Keinginan PDIP untuk memajukan Puan juga terlihat dari konflik yang terjadi di internal PDIP soal pencapresan antara DPP dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Menurut Adi, PDIP sudah menutup pintu bagi Ganjar untuk bisa mencalonkan diri di Pilpres 2024.

"Kan diskusinya untuk 2024 kalau Gerindra dan PDIP berkoalisi, ya Prabowo-Puan. Artinya apa? Tiket pencapresan untuk PDIP hanya untuk Puan bukan untuk yang lain," ujarnya.

Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani mengakui hubungan partainya dengan PDIP berlangsung baik. Ia membeberkan adanya peluang Prabowo Subianto diusung partai berlambang banteng moncong putih itu.

"Itu menjadi sebuah kemungkinan adanya peluang untuk dimungkinkannya Pak Prabowo maju bersama PDIP," ujar Muzani di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (27/5).

Hubungan Prabowo dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri juga disebutnya berlangsung baik. Bahkan, hubungan tersebut sudah terjadi sebelum Ketua Umum Partai Gerindra itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan.

Ia mensyukuri, jika elektabilitas Prabowo masih yang tertinggi dalam banyak survei sebagai calon Presiden 2024. Namun, Partai Gerindra dan Prabowo disebut Muzani belum memutuskan hal tersebut. Kendati, mayoritas kader sudah menyampaikan dukungannya kepada Prabowo untuk maju sebagai calon presiden di 2024.

Dukungan tersebut sudah disampaikan lewat dua forum besar partai, yakni rapat pimpinan nasional (Rapimnas) dan kongres luar biasa (KLB). Meski begitu, ia berharap Prabowo segera menyampaikan keputusannya terkait Pilpres 2024 agar Partai Gerindra dapat mempersiapkan strategi pemenangan.

photo
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto usai melakukan pertemuan di kediaman Jalan Teuku Umar, Jakarta, Rabu (24/7). - (Republika/Prayogi)

"Kami berharap Pak Prabowo bisa memberi jawaban kepada kita semua seperti yang kita harapkan, sehingga kita bisa mempersiapkan untuk proses pemenangan beliau," ujar Muzani.

Sementara, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan, PDIP membuka diri berkoalisi dengan Gerindra mengingat keduanya memiliki kesamaan ideologi. "Kami membuka diri pernyataan dari Mas Muzani karena memang melihat bagaimana kedekatan hubungan antara Pak Prabowo dengan Ibu Megawati Soekarnoputri," kata Hasto, Jumat (28/5).

Selain aspek ideologi, faktor kedekatan kultural, organisasi, basis massa, dan kedekatan aspek strategi untuk memperluas basis massa juga akan menjadi pertimbangan PDIP dalam memilih koalisi. Hasto juga tak ingin mengungkit kembali Perjanjian Batu Tulis antara Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri pada 2009.

"Tapi kalau prasasti Batu Tulis yang dimaksudkan dalam konteks politik Pak Prabowo-Bu Mega, ya pemilu sudah selesai 2009," ujarnya.

Salah satu isi perjanjian Batu Tulis yang ditandatangani pada 16 Mei 2009, yakni PDIP bakal mendukung Prabowo pada Pilpres 2014. Namun, pada Pilpres 2014, PDIP mengusung Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Perjanjian Batu Tulis dibuat setelah PDIP-Gerindra berkoalisi mengusung Megawati-Prabowo di Pilpres 2009. Dalam koalisi tersebut, keduanya kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono. Megawati-Prabowo meraih 32.548.105 suara atau 26,79 persen.

Suara PDIP-Gerindra:

Perolehan Suara 2009

PDIP: 14.600.091 (14,03 persen)

Gerindra: 4.646.406 (4,46 persen)

Perolehan Suara 2019

PDIP: 27.053.961 (19,33 persen)

Gerindra: 17.594.839 (12,57 persen)

Sumber: KPU


×