Joao Moutinho (bawah) mengadang Daniel James (atas) pada laga antara Wolverhampton melawan Manchester United di Wolverhampton, Inggris, Ahad (23/5) malam. | AP POOLRui Vieira / POOL

Olahraga

25 May 2021, 10:46 WIB

Iblis Merah Manchester United di Atas Angin

Solskjaer sedang berburu trofi pertama sebagai pelatih Manchester United.

MANCHESTER — Manchester United (MU) berada di atas angin menjelang laga menghadapi Villarreal dalam laga final Liga Europa di Gdansk, Polandia, Kamis (27/5) dini hari WIB. Di atas kertas, performa United lebih baik dari Villarreal, khususnya jika berkaca pada hasil akhir di liga masing-masing.

MU finis di posisi runner-up Liga Primer Inggris di bawah Manchester City. Skuad asuhan Ole Gunnar Solskjaer tersebut unggul lima poin dari Liverpool di peringkat tiga.

Sementara, Villarreal finis di posisi tujuh La Liga Spanyol. Artinya, pasukan Kapal Selam Kuning tidak akan lolos ke kompetisi Eropa musim depan, kecuali bisa mengalahkan United di final.

Di sisi lain, Solskjaer melakukan 10 perubahan dalam laga terakhir liga melawan Wolves dengan memainkan tujuh pemain akademi. Pemain bintang, seperti Bruno Fernandes, Edinson Cavani, Marcus Rashford, Mason Greenwood, hingga Victor Lindelof, diistirahatkan Solskjaer agar bisa tampil maksimal. Meski bermain dengan tim lapis dua, MU masih bisa menang 2-1.

Sementara, pelatih Villarreal Unai Emery telah menurunkan skuad terbaiknya saat berhadapan dengan Real Madrid di laga terakhir La Liga. Meskipun, La Liga memundurkan jadwal pertandingan terakhir, agar Villarreal bisa memiliki waktu persiapan yang cukup, kekalahan 1-2 atas Madrid tentu jadi pukulan moral tersendiri bagi Villarreal. Sebab hasil itu membuatnya gagal ke Liga Europa musim depan.

Jika dilihat dari materi pemain, memang MU berada di atas angin. Penggawa inti dari juara Liga Europa 2017 tersebut saat ini bukan hanya sekadar diisi oleh pemain bintang. Namun, Solskjaer telah membuat para pemain tersebut menerapkan sistem 4-2-3-1 agar tampil lebih efektif. Maka, tidak heran MU menjadi tim kedua paling produktif di liga dengan 73 gol musim ini.

Apalagi, Solskjaer sedang berburu trofi pertamanya untuk MU, sejak menggantikan Jose Mourinho pada musim 2019/2020, setelah sebelumnya jadi pelatih interim. Musim lalu, Solskjaer kalah di semifinal Liga Europa oleh Sevilla. Karena itu, kali ini Solskjaer tidak boleh gagal lagi untuk mengawali koleksi gelarnya.

Menurut Solskjaer, trofi perdana bisa memberikan dorongan moral untuk bisa memenangkan kompetisi-kompetisi lainnya musim depan. "Itu bisa memberikan kepercayaan. Namun, itu bisa juga membuat tim lebih haus (kemenangan). Saat memenangkan sesuatu, Anda ingin merasakan sensasi itu lagi, mengangkat trofi," ujar Solskjaer dikutip dari Manchestereveningnews, Senin (24/5).

Trofi, Solskjaer melanjutkan, akan menutupi segala kekurangan tim yang dibentuknya hampir dua setengah tahun. Memang, ia mengakui, ada kemajuan setiap musimnya. Musim lalu, MU finis di peringkat tiga dan melaju ke empat semifinal, tapi semua gagal dimenangkan. Kali ini merupakan final pertama yang diraih juru taktik asal Norwegia itu bersama MU.

"Tahap selanjutnya adalah memenangkan trofi dan berharap jadi pesaing juara Liga Primer Inggris. Tentu saja Anda selalu merasakan tekanan untuk memenangkan sesuatu di Manchester United, untuk memenangkan trofi," kata Solskjaer.

Namun, Solskjaer tak boleh lengah. Sebab Unai Emery merupakan ahlinya Liga Europa maupun final kompetisi Eropa. Mantan pelatih Arsenal itu membuat Villarreal tak terkalahkan di Eropa musim ini.

Belum lagi, Emery memenangkan tiga final terakhir yang dilakoninya. Apalagi, deretan penyerang Villarreal, seperti Paco Alcacer dan Carlos Bacca siap merepotkan lini belakang MU yang kerap rapuh. Alcacer sudah mencetak enam gol di Liga Europa musim ini. Sementara Bacca sudah dua kali memenangkan final Liga Europa.

"Kami layak untuk bermain di final ini dan kami akan mengerahkan performa terbaik serta menunjukkan kami ingin bertarung melawan Manchester United untuk gelar ini," kata Emery dikutip dari laman resmi UEFA. ';

×