Petugas dari Puskesmas Kecamatan Pulogadung menunjukan vaksin COVID-19 AstraZeneca di Balai Warga Rw 01 Pulogadung, Jakarta, Jumat (7/5). | Prayogi/Republika.
17 May 2021, 03:44 WIB

Distribusi Astrazeneca Dihentikan Sebagian

Penggunaan vaksin Astrazeneca tetap terus berjalan.

JAKARTA – Kementerian Kesehatan menyatakan, penghentian sementara distribusi dan penggunaan vaksin Astrazeneca Batch berlaku pada kelompok CTMAV547. Penghentian itu sambil menunggu hasil investigasi dan pengujian dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang memerlukan waktu hingga dua pekan.

Saat ini, batch CTMAV547 berjumlah 448.480 dosis dan merupakan bagian dari 3.852.000 dosis Astrazeneca yang diterima Indonesia pada 26 April 2021 melalui skema Covax Facility/WHO. Batch ini sudah didistribusikan untuk TNI dan sebagian ke DKI Jakarta dan Sulawesi Utara.

Adapun terkait dengan laporan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) serius yang diduga berkaitan dengan batch CTMAV547, Komnas KIPI telah merekomendasikan BPOM untuk melakukan uji sterilitas dan toksisitas terhadap kelompok tersebut. Sebab, data yang ada tidak cukup untuk mengetahui diagnosis penyebab dan klasifikasi dari KIPI yang dimaksud.

Terkait

“Ini adalah bentuk kehati-hatian pemerintah untuk memastikan keamanan vaksin. Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk tenang dan tidak termakan oleh hoaks yang beredar. Masyarakat diharapkan selalu mengakses informasi dari sumber terpercaya,” kata Juru Bicara Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi dalam rilis yang diterima Republika, Ahad (16/5).

Dia menambahkan, penggunaan vaksin Astrazeneca tetap terus berjalan karena vaksin Covid-19 membawa manfaat yang lebih besar. Hingga saat ini, berdasarkan data Komnas KIPI belum pernah ada kejadian orang yang meninggal akibat vaksinasi Covid-19 di Indonesia.

Nadia mengeklaim, dalam beberapa kasus sebelumnya, orang yang meninggal setelah divaksinasi karena penyebab lain bukan akibat vaksin yang diterima. Alasan lain mengapa vaksin Astrazeneca tetap digunakan karena vaksin itu sudah masuk dalam daftar penggunaan darurat (Emergency Use Listing/EUL) dari Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO). "Artinya, vaksin Astrazeneca aman," kata dia.

Penerima vaksin, Trio Vauqi Virdaus (22 tahun), meninggal pada 6 Mei 2021 lalu setelah mendapatkan suntikan vaksin Astrazeneca. Diduga penyebab meninggalnya sama dengan yang pernah ada di negara-negara lain sebelumnya, yaitu pembekuan darah.

Namun, Komnas KIPI belum dapat menentukan penyebab kematian pria asal Buaran, Jakarta itu. Ketua Komnas KIPI Prof Hindra Irawan Satari pada Selasa (11/5) mengatakan, pihaknya belum mendapatkan cukup bukti mengaitkan kejadian itu dengan vaksinasi.

"Oleh karena itu masih perlu dilakukan investigasi lebih lanjut,” kata Hindra. 


×