TGH Muhammad Shaleh Hambali. | DOK PCNU Lombok Tengah

Mujadid

TGH Muhammad Shaleh, Sang Pendidik di Pulau Seribu Masjid

Tokoh yang berjulukan Tuan Guru Bengkel ini tidak hanya piawai dalam dakwah lisan, tetapi juga tulisan.

OLEH MUHYIDDIN

 

 

Lombok dikenal sebagai Pulau Seribu Masjid. Julukan itu menandakan kehidupan religius lekat dengan keseharian masyarakatnya. Dalam sejarahnya, pulau yang berlokasi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) itu telah menghasilkan banyak alim ulama. Mereka berperan besar dalam dunia dakwah, pendidikan, dan kebudayaan.

Salah seorang di antaranya adalah Tuan Guru Haji (TGH) Muhammad Shaleh Hambali. Oleh penduduk setempat, namanya lebih dikenal sebagai Tuan Guru Bengkel.

Adi Fadli dalam buku Pemikiran Islam Lokal TGH M Shaleh Hambali Bengkel menjelaskan, tokoh ini turut berjasa dalam memformulasikan dakwah, khususnya melalui medium tulisan. Sang alim dipandang sebagai pelopor pembaharuan pendidikan Islam di Lombok. Khususnya bagi lingkup Nahdliyin, dia tergolong seorang tokoh yang membesarkan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) di NTB.

Mubaligh ini lahir dengan nama Muhammad Shaleh. Ayahnya bernama Hambali, sedangkan ibunya adalah Halimah alias Inaq Fatimah. Saudara-saudara kandungnya ialah Abu, Fatimah, Amsiah, Rukiyah, Selamin, Syamsiyah, dan Khadijah. Dirinya merupakan anak bungsu.

Dikutip dari buku Biografi TGH Shaleh Hambali karya Ahmad Zahroni, Tuan Guru Bengkel lahir di Desa Bengkel, Lombok Barat, NTB, pada Jumat 7 Ramadhan 1313 Hijriyah—bertepatan dengan 1893 M. Nama belakangnya itu—Bengkel—merujuk pada desa tempat kelahirannya.

Saat masih dalam kandungan, tutur Zahroni, ayahanda Tuan Guru Bengkel meninggal dunia. Allah SWT juga menakdirkan, ibundanya wafat saat lelaki ini masih berusia bayi, sekira enam bulan.

Sebagai anak yatim-piatu, Muhammad Shaleh kemudian diasuh oleh pamannya yang bernama Haji Abdullah. Saat menginjak usia tujuh tahun, ia belajar agama Islam kepada seorang dai, Guru Sumbawa alias Ramli, di Desa Bengkel. Lima tahun lamanya ia menuntut ilmu kepada ustaz tersebut.

 
Sebagai anak yatim-piatu, Muhammad Shaleh kemudian diasuh oleh pamannya yang bernama Haji Abdullah.
 
 

Sesudah itu, Shaleh berkesempatan mengikuti rihlah ke Makkah al-Mukarramah. Di Tanah Suci, dia tidak hanya menunaikan ibadah haji, tetapi juga meneruskan perjalanan menuntut ilmu-ilmu agama. Waktu itu, dia masih berusia belasan tahun. Di Hijaz, ia belajar sekira sembilan tahun, yakni sejak 1912 hingga 1921. Berbagai ilmu dipelajarinya. Di antaranya adalah fikih, tafsir Alquran, dan tasawuf.

Selama di Makkah, ia banyak belajar kepada sejumlah ulama terkemuka. Sebut saja, Syekh Said al-Yamani dan putranya, Syekh Hasan; Syekh Alawi Maliki al-Makki; Syekh Hamdan al-Maghrabi; Syekh Abdussatar Hindi; Syekh Said al-Hadrawi Makki, dan Syekh Muhammad Arsyad. Ia juga belajar kepada ulama-ulama Indonesia yang bermukim di Tanah Suci. Misalnya, TGH Umar (Sumbawa), TGH Muhammad Irsyad (Sumbawa), TGH Haji Utsman (Serawak), KH. Muchtar (Bogor), KH Misbah (Banten), TGH Abdul Ghani (Jembrana-Bali), dan TGH Abdurrahman (Jembrana-Bali).

Muhammad Shaleh mengkaji banyak kitab tasawuf, termasuk yang ditulis Imam al-Ghazali. Misalnya, Minhaj al-Abidin, Bidayat al-Hidayat, dan Ihya’ Ulum ad-din. Selain itu, ia juga mempelajari kitab Kifayat al-Atqiya’ karangan Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syata al-Dimyathi.

 
Pada gilirannya sang alim kemudian berupaya mengajarkan ilmu-ilmu itu kepada para santrinya di Tanah Air.
 
 

Melihat betapa banyak gurunya dalam berbagai disiplin keislaman, tidak heran jika ia menjadi orang yang sangat mencintai ilmu agama. Bahkan, pada gilirannya sang alim kemudian berupaya mengajarkan ilmu-ilmu itu kepada para santrinya di Tanah Air. Hal ini di kemudian hari membuatnya dikenal luas sebagai seorang ulama besar di Pulau Seribu Masjid.

Dalam masa studinya di Makkah, pergolakan politik lokal terjadi. Keluarga Abdul Aziz bin Saud memberontak terhadap kekuasaan Syarif Husain. Konflik itu membuat situasi tak lagi kondusif bagi para pelajar di Haramain, termasuk yang berasal dari Indonesia. Seperti kawan-kawan seangkatannya, Muhammad Shaleh pun kembali ke Tanah Air. Di Lombok, dirinya langsung terjun ke tengah masyarakat untuk ikut menggerakkan dakwah melalui pendidikan.

Mendirikan pesantren

Salah satu kiprah TGH Muhammad Shaleh Hambali adalah merintis dan mendirikan pondok pesantren. Nama lembaga ini ialah Yayasan Perguruan Darul Qur’an.

Terletak di Desa Bengkel, pesantren tersebut dari tahun ke tahun selalu diminati orang tua Muslim. Sejak 1921 hingga akhir hayatnya, TGH Shaleh membina dan mengasuh institusi tersebut. Para santrinya tidak hanya berasal dari Lombok (NTB), tetapi juga dari luar daerah, semisal Bali.

Selain itu, sebagian muridnya yang pernah diajari di Makkah dulu juga kembali ke Indonesia untuk belajar lagi kepadanya. Dalam mendidik mereka, tokoh yang bergelar Tuan Guru Bengkel itu mengajarkan Alquran dan kitab-kitab yang berhaluan ahlussunnah wal jama’ah (aswaja), baik yang berbahasa Arab maupun Melayu.

Strategi yang dipergunakan untuk menyampaikan buah pikirannya tidak hanya melalui ceramah. Di samping mengajarkan ilmu pengetahuan secara langsung kepada para muridnya, ia juga menggunakan medium tulis. Kitab-kitabnya umumnya berbahasa Melayu. Dengan demikian, masyakarat bisa memahami ajaran Islam dengan mudah.

 
Kitab-kitabnya umumnya berbahasa Melayu. Dengan demikian, masyakarat bisa memahami ajaran Islam dengan mudah.
 
 

Tuan Guru Bengkel merupakan salah satu ulama yang kerap mentranformasikan pemikirannya melalui pendidikan Islam. Pemikiran-pemikiran Tuan Guru Bengkel setidaknya dibagi menjadi tiga tema bidang pemikiran, yaitu bidang tauhid, fikih dan bidang tasawuf.

Dalam buku Pemikiran Islam lokal TGH M Shaleh Hambali Bengkel, Adi Fadli memaparkan beberapa sumbangsih gagasan Tuan Guru Bengkel dalam persoalan tauhid. Yang kerap dibicarakannya ialah sebagaimana ulama-ulama aswaja. Umpamanya, tema tentang sifat Allah dan para rasul-Nya. Kedua, tentang masalah kekuasaan Allah dan perbuatan manusia. Ketiga, masalah keimanan dan keislaman.

Nama Tuan Guru Bengkel sangat akrab di telinga warga nahdliyin, khususnya di Lombok. Ia dikenal sebagai ulama yang bersahaja dan masih memiliki energi dan stamina intelektual yang prima. Ia juga dikenal sebagai ulama ahli ibadah yang sangat teguh pendiriannya, terutama pada masalah fikih yakni pada mazhab Syafi’i.

 
Pengaruh dan kharismanya mengantarkan Tuan Guru Bengkel sebagai orang pertama yang menjadi Rais Syuriyah NU NTB pada 1952-1968.
 
 

Pengaruh dan kharismanya di tengah umat terutama masyarakat Lombok secara khusus mengantarkan Tuan Guru Bengkel sebagai orang pertama yang menjadi Rais Syuriyah NU NTB pada 1952-1968. Posisinya di NU ini menjadi bukti bahwa Tuan Guru Bengkel merupakan seorang ulama yang cukup disegani dan mempunyai kharisma yang luar biasa di mata masyarakat.

Tuan Guru Bengkel juga memiliki kelebihan yang jarang dijumpai pada ulama lain yang sezaman dengannya, khususnya di NTB. Kharismanya terpancar bukan hanya karena keilmuan yang dimilikinya, tapi juga karena sifat welas asihnya dan sangat perhatian terhadap orang-orang yang kurang mampu.

Salah seorang putrinya yang bernama Ustzah Hj Fatimatuzzahrah mengungkapkan bahwa dulu di rumahnya penuh dengan kegiatan, baik sosial kemasyarakatan seperti penyantunan anak yatim piatu yang tidak kurang dari 100 anak, orang-orang jompo, dan orang-orang miskin, baik yang berasal dari desa Bengkel maupun luarnya.

Selain itu, wali murid, santri-santri dan jamaah hampir setiap hari datang untuk mengaji kepada Tuan Guru Bengkel, serta berkonsultasi mengenai agama maupun masalah lainya. Semua tamu-tamunya tersebut dilayani dengan baik oleh Tuan Guru Bengkel.

 
Di antara tamu-tamu penting yang pernah berkunjung ke rumah Tuan Guru Bengkel adalah Presiden Sukarno.
 
 

Di antara tamu-tamu penting yang pernah berkunjung ke rumah Tuan Guru Bengkel adalah Presiden Sukarno, Menteri Agama KH Saifudin Zuhri, Menteri Koordinator Keamanan Jenderal AH Nasution, Rais Aam PBNU KH Wahab Hasbullah, dan Ketua Umum PBNU KH Idham Khalid.

Ketika umat Islam di Lombok sangat mengharapkan sentuhan sepiritualnya, Tuan Guru Bengkel tak bisa menolak kehendak sang Ilahi. Ia tiba-tiba meninggalkan umat untuk selama-lamanya. Umat Islam dan santri-sntrinya di Lombok hampir tak percaya dengan kepergiannya.

Tuan Guru Bengkel wafat pada Sabtu, 15 Jumadil Akhir atau bertepatan dengan 7 September 1968 pada pukul 07.00 WITA. Sebelum wafat, Tuan Guru Bengkel sempat berwasiat kepada keluarga dan segenap santrinya, yaitu:

Peliharalah persatuan dan kesatuan di antara sesamamu. Belajarlah pada guru yang beraliran ahlussunnah wal jama’ah. Peliharalah Yayasan Perguruan Darul Qur’an dan usahakanlah agar berkembang.

Hingga sekarang orang-orang dari berbagai pelosok daerah Lombok masih berdatangan untuk ziarah ke makamnya yang terletak di Desa Bengkel, khususnya pada hari-hari besar Islam seperti Maulid dan bulan Safar.

photo
ILUSTRASI Para santri sedang mengaji kitab. Seorang ulama asal Lombok, NTB, TGH Muhammad Shaleh Hambali menulis banyak kitab hingga akhir hayatnya. Karya-karyanya antara lain Manzalul al-Amrad, Hidayat al-Athfal, dan Al-Lulu al-Mantsur. - (DOK ANTARA Dewi Rahayu)

 

Menulis Hingga Akhir Hayat

Semasa hidupnya, Tuan Guru Haji (TGH) Muhammad Shaleh Hambali tergolong ulama yang kreatif dan produktif. Ia menulis banyak kitab. Bahkan, sebelum meninggal dunia, dirinya masih sempat menulis doa-doa.

Selama hidupnya, sosok berjulukan Tuan Guru Bengkel ini—lantaran berasal dari Desa Bengkel—juga menerjemahkan kitab-kitab. Biasanya, sang alim mengalihbahasakan buku-buku agama Islam dari bahasa Arab ke bahasa Melayu. Dengan begitu, masyarakat lokal pun, khususnya yang belum mengerti bahasa Arab, dapat lebih terbuka wawasan keislamannya.

Sampai saat ini, kitab-kitabnya masih menjadi referensi masyarakat Desa Bengkel, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan sekitarnya. Tulisan-tulisannya yang berhasil diselamatkan ada sekitar 11 buah dalam berbagai disiplin ilmu agama, seperti fikih, tauhid, tasawuf, hadis, dan doa-doa atau wirid-wirid.

Bahkan, ada doa yang ditulis oleh Tuan Guru Bengkel di rumah sakit menjelang wafatnya. Ketika itu, Tuan Guru Bengkel meminta kepada salah seorang anggota keluarganya untuk mengambil pena dan sebuah buku tulis. Setelah diantarkan, ia pun menulis doa.

Sumber: Pojok NTB

Karya-karyanya hingga kini juga masih diajarkan di pesantren-pesantren. Beberapa kitab karyanya yang hingga kini masih dapat ditemukan antara lain, Ta’lim al-Shibyan Bi Ghayat al-Bayan yang berisi tauhid, fikih, dan tasawuf. Kitab ini ditulis pada 1354 Hijriyah dan dicetak di Surabaya.

Tuan Guru Bengkel juga menulis buku fikih berjudul Bintang Perniagaan pada 1376 Hijriyah dan dicetak di Surabaya. Kemudian, ia juga menulis sebuah buku dengan tangannya sendiri yang berjudul Cempaka Mulia Perhiasan Manusia. Buku ini berisi tentang ajaran akhlak-tasawuf yang bersumber dari kitab Bidayat al-Hidayah karya Imam Ghazali.

Tidak hanya itu, Tuan Guru Bengkel juga menulis kitab tulisan tangan yang berjudul Wasiat al-Musthafa, terjemahan dari Wasiat al-Musthafa Rasulullah SAW kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Ia juga menulis kitab hadits yang berjudul Mawa’idh al-Shalihiyah pada 1364 Hijriyah.

Buku lainnya yang pernah ditulis Tuan Guru Bengkel adalah Intan Berlian Perhiasan Laki Perempuan, yang berisi fikih keluarga. Buku ini ditulis pada1371 Hijriyah dan diterbitkan di Surabaya. Kemudian, ada juga kitabnya yang berjudul Manzalul al-Amrad yang membahas tentang puasa, serta kitab Hidayat al-Athfal dan Al-Lu’lu’ al-Mantsur.

Kendati sudah meninggal dunia, Tuang Guru Bengkel sejatinya tak pernah pergi. Karena, ilmu dan amalnya terus mengalir dilestarikan oleh para generasi berikutnya. Generasi umat Islam saat ini juga bisa belajar kepadanya melalui kitab-kitab karangannya tersebut.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat