Ada begitu banyak kisah bagaimana Rasulullah memaafkan kawan dan musuhnya. Ramadhan usai, sambut Idul Fitri, dan saatnya mempertahankan kondisi fitrah. | Pixabay
13 May 2021, 04:11 WIB

Saatnya Kembali Fitrah

Butuh konsistensi untuk menjaga kondisi fitrah yang telah diraih.

OLEH ZAHROTUL OKTAVIANI

 

Idul Fitri yang jatuh pada 1 Syawal identik dengan momen kemenangan dan kembalinya seorang Muslim pada kondisi yang fitrah atau suci. Secara lebih mendalam, sejatinya apa makna dari fitrah itu?

Cendekiawan Muslim, Prof KH Didin Hafidhuddin mengatakan, fitrah memiliki banyak makna, utamanya dalam bahasa Arab. Salah satunya, fitrah diartikan kembali kepada kesucian. Kondisi ini bisa diraih setelah manusia dilatih dan dididik oleh Allah SWT selama satu bulan penuh saat Ramadhan.

Terkait

"Latihan ini dilakukan baik secara fisik, mental, rohani, spiritual, cara berpikir. Dengan harapan, di akhir bulan Ramadhan nanti Muslim kembali ke asalnya," kata Kiai Didin kepada Republika, belum lama ini.

Makna fitrah lainnya disebutkan dalam Alquran yakni surah ar-Rum ayat 30. Dalam surah tersebut, fitrah diartikan sebagai agama yang lurus. Dengan demikian, Idul fitri berarti setelah dilatih selama satu bulan, diharapkan seorang Muslim  memiliki komitmen yang kuat dalam menjalankan ajaran agama Islam.

Jika seorang Muslim istiqamah dan konsisten dalam menjalankan ajaran agamanya, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan, kemenangan, serta kesuksesan. "Untuk menjaga kondisi suci yang sudah diraih, maka dibutuhkan konsistensi untuk menjaga hal tersebut,’’ kata Kiai Didin.

"Dalam beragama, memang diharuskan untuk berjalan secara terus-menerus," lanjut Ketua Pembina Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) ini.

Menurut dia, kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan selama Ramadhan, seperti shalat berjamaah, shalat malam, berbagi kepada sesama Muslim yang membutuhkan merupakan salah satu cara dalam menjaga agama.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Ia menegaskan, hal-hal baik tersebut harus dipaksakan untuk menjadi kebiasaan. Hal ini sejalan dengan sebuah hadis, dari ‘Aisyah, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu walaupun sedikit."

Mengacu pada hal itu, Kiai Didin menegaskan, sesuatu yang baik meski kecil jika dijalankan secara terus-menerus nilainya akan menjadi besar. Contohnya, shalat malam. Meski hanya dua rakaat namun dilakukan secara rutin maka akan lebih baik dibandingkan yang banyak rakaatnya namun jarang dilakukan.

"Bersedekah meski jumlahnya kecil, jika dilakukan terus-menerus akan mengasah rasa simpati dan empati kepada saudara yang miskin, kaum dhuafa dan anak yatim," katanya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Anwar Abbas menyebut, Ramadhan adalah momen seorang Muslim menjadi orang yang bertakwa. Orang bertakwa adalah hamba Allah SWT yang mematuhi segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.

"Selama hidup, manusia tentu tidak suci dan bersih dari dosa. Karena itu, Allah SWT berjanji, siapapun yang menjalani puasa Ramadhan akan diampuni dosa-dosanya terdahulu," ujar Buya Anwar Abbas.

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan, "Barang siapa puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala akan diampuni baginya dosa-dosa masa lalu."

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Disebutkan pula, siapapun yang menegakkan bulan Ramadhan dan mengisinya dengan kegiatan yang baik serta terpuji, maka Allah SWT juga akan mengampuni dosa-dosanya.

Dalam bulan puasa, juga ada satu malam yang nilai kebajikannya lebih dari seribu bulan atau setara dengan 82 tahun. Maka, siapapun yang beramal di malam itu akan sama nilainya dengan beribadah selama puluhan tahun tersebut.

"Setiap dari kita pasti pernah mendapatkan malam Lailatul Qadar. Karena, kalau kita hidup sampai Idul Fitri, maka kita tentu melalui malam itu. Nah, pertanyaannya apakah malam itu diisi dengan hal yang baik atau tidak?" ujarnya.

Buya Anwar juga menjelaskan, pintu surga akan dibuka bagi Muslim yang berpuasa dan melakukan ibadah kebaikan. Di sisi lain, pintu neraka ditutup karena orang yang beriman dan bertakwa tidak patut untuk masuk neraka.

"Kesimpulannya, mengingat segala dosa telah diampuni dan pahala dilipatgandakan selama Ramadhan, maka pada 1 Syawal atau Idul Fitri setiap Muslim akan suci dan tanpa dosa," ujar dia.

Dosa yang dimaksud adalah dosa kepada Allah SWT. Sementara, untuk memupuskan dosa di antara sesama bisa dengan cara bermaaf-maafan. Terakhir, untuk menjaga kesucian ini seorang Muslim perlu menjaga keimanan dan ketakwaannya.


×