Polisi Israel menahan warga Palestina di Seikh Jarrah, Yerusalem Timur, Selasa (4/5). | AP/Mahmoud Illean

Tajuk

10 May 2021, 03:40 WIB

Kekerasan Israel di Masjid Al-Aqsa

Ini merupakan tindakan teror yang kesekian kali dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina.

Pada malam menjelang akhir Ramadhan, rakyat Palestina kembali harus merasakan kekejaman pasukan keamanan Israel. Pada Jumat (7/5) malam waktu setempat, Ramadhan yang seharusnya dijalani rakyat Palestina dengan khusyuk, terpaksa berubah menjadi teror.

Selama sepekan terakhir, ketegangan memang mulai meningkat lagi antara Israel dan Palestina. Pada Jumat terakhir Ramadhan, puluhan ribu warga Palestina memadati kompleks Masjid Al-Aqsa dan melakukan protes untuk mendukung mereka yang menghadapi penggusuran dari rumahnya di tanah yang diduduki Israel. Ketika itu, polisi Israel menyerbu Masjid Al-Aqsa serta membubarkan jamaah di tempat lain di Yerusalem Timur yang diduduki.

Bentrokan dipicu oleh upaya polisi Israel membubarkan ribuan warga Muslim Palestina, yang tengah melaksanakan shalat sekaligus memperingati Lailatul Qadr di Masjid Al-Aqsa. Usaha pembubaran dilakukan dengan menggunakan granat kejut dan meriam air.

Pemuda Palestina mencoba melawan polisi Israel dengan melemparkan batu dan botol serta merobohkan barikade polisi di jalan-jalan menuju gerbang kota tua Yerusalem.

 

 
Selama sepekan terakhir, ketegangan memang mulai meningkat lagi antara Israel dan Palestina. 
 
 

Dilaporkan, setidaknya 178 warga Palestina dan enam petugas polisi terluka setelah polisi Israel menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa dan membubarkan jamaah di Yerusalem Timur. Layanan ambulan Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan, 88 orang Palestina yang terluka dibawa ke rumah sakit setelah terkena peluru logam berlapis karet.

Kecaman dari berbagai pihak pun dilayangkan kepada Israel terhadap aksi kekerasan tersebut. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga telah mengeluarkan desakan agar Israel untuk membatalkan penggusuran paksa di Yerusalem Timur yang diduduki. PBB menegaskan bahwa Yerusalem Timur tetap menjadi bagian dari wilayah Palestina yang diduduki sehingga hukum humaniter internasional tetap berlaku.

PBB juga memberikan peringatan bahwa kejahatan perang bisa saja terjadi jika Israel bersikeras melakukan tindakannya. "Kami lebih lanjut menyerukan Israel untuk menghormati kebebasan berekspresi di pertemuan, termasuk dengan mereka yang memprotes penggusuran, dan untuk menahan diri secara maksimal dalam penggunaan kekerasan," ujar juru bicara kantor hak asasi PBB Rupert Colville di Jenewa.

Pemerintah Indonesia juga melayangkan kecaman terhadap Israel menyusul kekerasan terhadap warga Palestina di Masjid Al-Aqsa. Kecaman juga dilayangkan terkait pengusiran paksa warga Palestina dari wilayah Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur.

 
Ini merupakan tindakan teror yang kesekian kali dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina.
 
 

Indonesia menyampaikan kecaman karena pengusiran paksa tersebut dan kekerasan yang terjadi sangat bertentangan dengan berbagai resolusi DK PBB, hukum humaniter internasional, khususnya Konvensi Jenewa IV tahun 1949. Tak hanya itu, tindakan itu pun berpotensi menyebabkan ketegangan dan instabilitas di kawasan.

Ini merupakan tindakan teror yang kesekian kali dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina. Karena itu, sudah saatnya dunia internasional, yang dimotori oleh PBB, untuk memberikan tekanan yang nyata bagi Israel agar menghormati hukum internasional yang berlaku.

Bahkan, jika diperlukan, harus ada sanksi yang diberikan kepada Israel yang selama ini tak pernah menggubris protes dan kecaman dunia internasional terhadap tindakan mereka di Palestina.

Sudah saatnya dunia melihat dan mengakui apa yang dilakukan Israel sebagai tindakan terorisme. Dunia tidak boleh diam lagi melihat kesewenang-wenangan Israel merusak tempat ibadah yang suci, melakukan penyerangan bersenjata, dan mengusir rakyat Palestina dari rumah-rumah mereka.


×