Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika
13 May 2021, 09:00 WIB

Lebaran di Jawa pada 1930-an

Kedua buku ini menggambarkan suasana Ramadhan dan Lebaran di Jawa pada 1930-an.

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, diserbu pembeli. Berita ini menyentak beberapa hari lalu karena memunculkan kerumuman di tengah pandemi Covid-19. Berbagai komentar pun muncul. Presiden menyatakan, kunci pemulihan ekonomi adalah pengendalian Covid-19 dan belanja.

Di beberapa pusat perbelanjaan, serbuan warga yang akan membeli baju menjelang Lebaran tahun ini memang terjadi. Sebuah toko baju di Thamrin City, Jakarta Pusat, yang mengobral dagangan mengundang banyak pembeli sehingga terjadi kerumuman pula. Akibatnya, toko itu dikenai sanksi tutup sementara. Dari zaman dulu, Lebaran memang sudah identik dengan baju baru.

Perempuan Inggris Harriet W Ponder melihat, orang Jawa betul-betul menikmati Lebaran dengan baju barunya. Perayaan Lebaran, ia lihat, seperti perayaan tahun baru orang Barat. Ia menggambarkan suasana Ramadhan dan Lebaran di dua bukunya, Java Pageant dan Javanese Panorama. Keduanya menggambarkan suasana Jawa pada 1930-an. Tahun 1937, Lebaran jatuh pada 5 Desember.

Terkait

“Tahun baru atau bukan, perayaan Lebaran adalah yang paling menyenangkan untuk diperhatikan dari semua peristiwa di Jawa,” ujar Ponder.

Mengenakan baju baru, orang-orang Jawa saling berkunjung. Pemandangan di jalanan, terutama di desa-desa yang makmur, kata Ponder, bagai film berwarna yang tak ada habisnya. Seribu kali memesona dan menghibur.

 
Para gadis di antaranya ada yang mengenakan kerudung bersulam. Pemandangan seperti kebun bunga di pinggir jalan di daerah pegunungan.
 
 

Kaum perempuan mengenakan kain batik dengan berbagai pola bunga yang indah-indah. Berwarna-warni; merah, hijau, biru, kuning. Para gadis di antaranya ada yang mengenakan kerudung bersulam. Pemandangan seperti itu ia gambarkan seperti kebun bunga di pinggir jalan di daerah pegunungan.

Selama Ramadhan, bunyi mesin jahit sudah memenuhi kampung-kampung. Orang-orang yang berdandan di jalan-jalan itu juga ia sebut seperti baru keluar dari kotak kemasan. Serbabaru, pakaiannya belum sempat tersentuh air dan sabun. Kain-kainnya masih terlihat kaku.

Di Batavia, perayaan Lebaran juga dilakukan oleh para kuli dengan berbelanja baju baru. “Belanja pakaian menunjukkan peningkatan menjelang Lebaran,” ujar HMJ Hart, direktur Biro Pusat Statistik Hindia Belanda dalam laporan Survei Kondisi Kehidupan Kuli yang Dipekerjakan di Batavia pada 1937.

Anggaran untuk pakaian menempati urutan kelima dalam pemenuhan kebutuhan bulanan keluarga kuli, setelah pangan, air, sewa rumah, peralatan rumah tangga. Pengeluaran untuk kelompok sandang ini di bulan puasa terlihat lebih tinggi dari rata-rata pengeluaran untuk sandang di bulan lainnya.

 
Selama Ramadhan, bunyi mesin jahit sudah memenuhi kampung-kampung.
 
 

Para kuli yang disurvei memiliki upah minimal 30 sen per hari hingga lebih dari 1 gulden per hari. Mereka menyewa pondok sebesar 1,25 gulden hingga 1,75 gulden per bulan. Untuk meringankan beban sewa, mereka berbagi beban dengan kuli lain, dengan cara menyewa pondok untuk ditinggali bersama.

Hampir separuh kuli tinggal di pondok yang dibuat dari bambu dan daun palem dengan sedikit kayu. Mayoritas yang tinggal di pondok jenis ini adalah kuli dengan penghasilan rendah. Hanya sedikit (tujuh persen) yang tinggal di pondok tembok dengan atap permanen.

Dari 202 kuli yang disurvei, ada 110 orang yang tinggal di rumah pondok. Ada 23 orang di rumah petak. Sebanyak 40 orang tinggal di rumah bersama keluarga. Ada pula yang tinggal di rumah yang sediakan pemerintah kota, yaitu 15 orang. Sebanyak 14 orang lagi tinggal menumpang.

Anggaran untuk makanan selama bulan puasa juga sedikit meningkat karena selama bulan puasa mereka berbelanja daging, ikan, telur lebih banyak dari bulan-bulan lainnya. Ponder menggambarkan waktu berbuka puasa di desa-desa yang makmur laksana pesta yang ia sebut berlangsung satu sampai dua jam.

 
Ponder menggambarkan waktu berbuka puasa di desa-desa yang makmur laksana pesta yang ia sebut berlangsung satu sampai dua jam.
 
 

Setelah itu, secara bertahap, lampu-lampu di masing-masing rumah terlihat mati karena yang punya rumah berangkat tidur. Tetapi, itu tidak berlangsung lama karena kemudian mereka bangun lagi untuk sahur.

Selama bulan puasa itu anggaran belanja juga meningkat untuk membeli jajanan, beras, kembang api atau mercon, tembakau, dan minyak. Beras merupakan kebutuhan pokok yang mahal sehingga banyak kuli yang membeli jagung, singkong, dan sedikit kentang sebagai cadangan makanan lezat.

Yang menggembirakan, kendati upah mereka kecil, menurut survei itu, mereka tetap menganggarkan keperluan berbagi; zakat, sedekah, dan bantuan untuk kerabat.  

Pada 1937, pemerintah kolonial membatalkan rencana pemotongan gaji pegawai. Keputusan pembatalan ini seperti dilaporkan koran Pemandangan edisi khusus Lebaran 14 Desember 1936, dikeluarkan menjelang Lebaran pada Desember 1936. Pada saat itu, kesulitan ekonomi akibat malaise masih terasa.

 
Kendati upah mereka kecil, menurut survei itu, mereka tetap menganggarkan keperluan berbagi; zakat, sedekah, dan bantuan untuk kerabat.
 
 

Usaha batik di Pekalongan, misalnya, mengalami penurunan pasar yang drastis pada September-Desember 1936. Pada Januari-Maret 1937, produksi batik di Pekalongan berhenti, kendati pada Oktober 1936 itu ada permintaan batik menyambut Lebaran Desember 1936.

Para kuli di Batavia pada 1937 itu, sebelum tiba bulan puasa, mereka menerima upah 8,07 gulden hingga 31,83 per bulan. Selama bulan puasa dan Lebaran mereka menerima 10,27 gulden hingga 35,88 gulden. Namun, setelah Lebaran, upah mereka berkurang menjadi 5,95 gulden hingga 21,73 gulden.

Hal itu terjadi karena sehari sebelum Lebaran mereka menerima upah melebihi hari kerja mereka daripada biasanya. Hari kerja tambahan itu diambilkan dari hari kerja setelah Lebaran. Akibatnya, upah yang mereka terima di bulan setelah Lebaran menjadi berkurang.


×