Mubaligh yang juga dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ustaz Denis Arifandi PS. | DOK IST
09 May 2021, 13:53 WIB

Ustaz Denis Arifandi PS, Utamakan Adab Saat Ikhtilaf

Menurut Ustaz Denis Arifandi, ikhtilaf pun terjadi sejak zaman Nabi Muhammad SAW.

Perbedaan adalah hal yang wajar terjadi dalam kehidupan. Dalam konteks keislaman, perbedaan pendapat sering kali disebut sebagai ikhtilaf. Menurut Ustaz Denis Arifandi Pakih Sati Lc, ikhtilaf pun terjadi sejak zaman Nabi Muhammad SAW, yakni antara para sahabat dalam beberapa kasus.

Akan tetapi, mereka tetap mengutamakan adab walaupun berlainan pandangan. Para salafus salih merupakan contoh yang baik. Perbedaan tidak sampai membuat umat terpecah-belah.

“Para salafus salih dalam berikhtilaf, terutama para sahabat, itu luar biasa perbedaan di antara mereka. Tapi tidak sampai menyebabkan berpecah-belah,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Insan Utama International Islamic Boarding School (IIBS) Yogyakarta itu.

Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini mengatakan, kaum Muslimin saat ini seyogianya memahami, kalangan alim tidak selalu memiliki kesamaan pandangan. Ketika orang-orang berilmu saling berbeda pendapat, umpamanya dalam masalah-masalah ijtihadiyah, umat dapat melihat tingginya akhlak mereka. Sebagai contoh, tidak pernah ada cerita imam-imam mazhab fikih mencela satu sama lain.

Terkait

“Mereka kalau misalnya mengikuti seorang imam, atau seorang kiai atau syekh, atau sebuah mazhab, jangan bersikap fanatik dalam artian seolah-olah yang benar hanya dirinya saja,” katanya.

Bagaimana memahami ikhtilaf? Lebih lanjut, bagaimana menghindari fanatisme dalam mengikuti suatu pendapat?

Untuk menjawabnya, berikut wawancara wartawan Republika, Muhyiddin, dengan dai yang sedang menempuh studi doktoral Ilmu Syariah pada Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini. Bincang-bincang berlangsung secara daring, beberapa waktu lalu.

Apa yang dimaksud dengan ikhtilaf dalam konteks agama?

Menurut Raghib Isfahani, seorang ahli bahasa dan filsuf Muslim (wafat 1108 M), khilaf dan ikhtilaf secara bahasa itu merupakan lawannya ittifaq, ‘bersepakat'. Hanya saja, ikhtilaf ini lebih umum lagi sifatnya daripada sekadar ‘berlawanan'.

Sebab, terkadang ada sesuatu yang berlawanan sekaligus berbeda. Misalnya, hitam dan putih itu merupakan sesuatu yang berlawanan sekaligus berbeda. Sementara, merah dan hijau itu berbeda, tapi tidak mesti berlawanan.

Secara istilah, al-ikhtilaf sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Misbah al-Munir adalah seseorang yang berpandangan berbeda dengan orang lainnya. Hal itu juga dijelaskan oleh Ali bin Muhammad al-Jurjani dalam kitabnya, At-ta'rifat. Menurutnya, al-ikhtilaf adalah perselisihan pendapat yang terjadi antara dua orang berbeda.

Ikhtilaf baik atau buruk bagi umat Islam?

Ikhtilaf itu adakalanya baik dan ada kalanya buruk. Yang baik itu adalah ikhtilaf tanawwu’. Yang dimaksud tanawwu’ itu beragam, layaknya kita melihat sebuah taman. Banyaknya warna di taman bunga itu akan membuatnya lebih indah.

Sama hanya dengan Islam, ketika banyak perbedaan pandangan dalam masalah-masalah yang furu’iyah. Itu adalah sesuatu yang bagus sebenarnya. Sebab, itu memberikan dinamika dan warna dalam kehidupan.

Jadi, ikhtilaf tanawwu’ adalah jika perbedaan itu tidak saling kontradiktif antarsatu dengan yang lainnya. Masing-masing pendapat itu tidak sama karena pendapatnya merupakan ragam dari pendapat satunya. Hampir semua perkara ijtihadi masuk dalam ikhtilaf jenis ini.

Di luar ikhtilaf tanawwu’ menjadi buruk?

Yang tidak boleh itu adalah ikhtilafu al-tadlad, yaitu kontradiktif atau saling berlawanan. Kalau sampai itu terjadi, biasanya akan memunculkan saling mencaci, saling mencela, atau bahkan pertikaian fisik. Nah ini yang tidak dibolehkan dalam Islam.

Jadi, kalau seandainya cuma berbeda pikiran dalam masalah-masalah ijtihadiyah, itu memang dibutuhkan dalam Islam. Hal seperti itu masih ditoleransi dalam Islam. Nah, kalau sudah saling berkelahi, itu tidak boleh sama sekali.

Alquran memerintahkan umat untuk berpegang teguh pada tali agama Allah dan jangan bercerai-berai. Berarti, tidak boleh berikhtilaf?

Allah SWT memang berfirman dalam surah Ali Imran ayat 103 tentang itu. Maknanya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas, berpegang teguhlah kalian (umat Islam) kepada agama Allah. Maka, kita jangan sampai mencabik-cabik atau merusak agama kita.

Kita diwanti-wanti bahwa umat Islam adalah umat yang satu. Kita diwanti-wanti untuk tidak menyerupai umat-umat sebelum kita yang hobinya mencabik-cabik agama sendiri, seperti digambarkan dalam surah al-Anbiya ayat 93, artinya, “Tetapi mereka terpecah belah dalam urusan (agama) mereka di antara mereka.”

Jadi, ikhtilaf yang tidak boleh sama sekali adalah yang sampai mencabik-cabik agama kita. Jangan sampai kita shalat berjamaah di masjid, tetapi justru hati kita saling membenci satu sama lain. Kita diperintahkan untuk berpegang teguh kepada agama Allah. Jangan sampai bertikai gara-gara suatu masalah yang seharusnya di dalamnya kita berlapang dada.

Benarkah ungkapan bahwa 'perbedaan di tengah umat Nabi SAW adalah rahmat'?

Pertama-tama, itu sebenarnya bukan sebuah hadis. Memang, sebagian mengatakan itu hadis dhaif. Namun, secara makna, jikalau maksudnya adalah perbedaan para mujtahid dalam melahirkan pendapat-pendapat fikih dalam masalah ijtihadiyah, itu bisa jadi maknanya benar.

Contohnya, membahas masalah bersentuhan dengan perempuan; apakah membatalkan wudhu atau tidak? Ketika bertawaf, kalau kita berpegang pada mazhab Syafii, maka bersentuhan dengan perempuan itu batal wudhu-nya. Tapi, sungguh akan menyulitkan sekali waktu itu. Sebab, kondisinya berdesak-desakan dan pasti akan bersentuhan dengan yang bukan mahramnya.

Mau tidak mau, akhirnya waktu itu kita akan beralih pada mazhab Hanafi yang menyatakan, (bersentuhan dengan lawan jenis) itu tidak sampai membatalkan wudhu.

Makanya, dikatakan ikhtafu ummati rahmah (perbedaan umatku itu adalah rahmat). Kalau yang dimaksud adalah perbedaan di antara para mujtahid dalam menghasilkan pendapat fikih terkait furuiyah, itu bisa jadi rahmat. Namun, kalau perbedaan masalah ushuliyah, itu jelas bukan rahmat. Umpamanya, perbedaan tentang hukum shalat yang wajib, zakat, dan lain-lain.

Bagaimana semestinya umat menyikapi ikhtilaf di antara alim ulama?

Umat seharusnya memahami bahwa ketika para ulama berbeda pandangan dalam masalah-masalah ijtihadiyah, itu hal yang biasa. Jangankan para ulama sekarang. Para sahabat dahulu pun, yang masanya paling dekat dengan Nabi Muhammad SAW, tetap berbeda pandangan. Apalagi, para ulama yang muncul setelahnya. Tentunya perbedaan itu akan lebih terjadi.

Kalau misalnya mengikuti seorang imam, kiai, syekh, atau mazhab, maka jangan bersikap fanatik. Dalam artian, seolah-olah yang benar hanya diri atau kelompoknya. Ini yang harus dihindari sebenarnya. Sebab, mental seperti itu bisa menjadi pangkal perpecahan di tengah umat.

Seperti apa contoh dari salafus salih ketika mereka berikhtilaf?

Ketika berikhtilaf, para salafus salih, terutama kalangan sahabat Nabi SAW, itu tidak sampai menyebabkan berpecah belah. Khilafnya memang sangat banyak sekali. Kita lihat beberapa di antaranya yang paling terkenal. Misalnya, ketika Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat untuk tidak shalat di Bani Quraizhah.

Beliau bersabda, “Janganlah sekali-kali kalian shalat ashar kecuali di Bani Quraizhah.” Nah, di tengah perjalanan, ternyata waktu Ashar sudah masuk. Sebagian sahabat berpandangan, tidak boleh shalat kecuali setibanya di Bani Quraizhah.

Kemudian, yang lainnya berpandangan, bukan itu yang dimaksud Rasulullah SAW. Yang diminta Nabi SAW adalah mereka segera untuk berangkat ke Bani Quraizhah agar tidak telat shalat Ashar.

Ketika perkara ini akhirnya disampaikan kepada Rasulullah SAW, beliau tidak mempersoalkan salah satu dari dua pendapat itu. Jadi, itu suatu contoh perbedaan pandangan di kalangan sahabat, bahkan ketika Nabi SAW masih hidup.

Contoh lainnya, masalah musafir ketika junub dan tidak mendapati air. Di antara pendapat yang masyhur dari Umar bin Khattab, musafir itu tidak boleh bertayamum sampai mendapatkan air. Para sahabat lainnya ada yang tidak menerima pendapat itu. Merujuk pada surah an-Nisa ayat 43.

Bagaimana adab bila berbeda pandangan dengan sesama Muslim?

Ketika kita berbeda pandangan dengan sesama Muslim, sebanarnya ada dua sikap yang perlu ktia lakukan. Yang pertama, sebagai pengikut suatu mazhab, misalnya, kita tidak boleh menyerang orang-orang yang berbeda pandangan. Sebab, para imam kita saja tidak pernah saling menyerang antara mereka. Antarsesama alim ulama tidak pernah saling mencaci, saling merendahkan.

Contoh saja, kita tidak pernah mendengar Imam Syafii menjelek-jelekkan Imam Ahmad. Jadi, memang seharusnya kita tidak boleh saling menjelekkan, termasuk dalam ikhtilaf masalah ijtihadiyah. Kita harus melihat bahwa pemahaman orang itu bukan wahyu. Janganlah gara-gara berbeda pandangan, kemudian kita saling mencela dan mencaci.

Kedua, kita harus memiliki sikap moderat. Ketiga, bersabar dan berlemah-lembut, serta pandai dalam mengatur perbedaan dengan baik. Adapun yang keempat, tidak sampai fanatik. Sebab, fanatisme ini adalah pangkal perkelahian orang-orang yang berbeda pandangan dalam masalah ijtihadiyah.

Setiap Ramadhan, fenomena ikhtilaf mungkin masih terasa, semisal perbedaan jumlah rakaat tarawih. Menurut Anda?

Ini sebenarnya masalah klasik. Sampai kapanpun, mungkin tidak akan menemukan titik temu. Karena itu, harus berlapang dada terhadap perbedaan-perbedaan yang terjadi di tengah umat.

Kalau ada yang melaksanakan shalat tarawih 20 rakaat, silakan. Melaksanakan 11 rakaat, juga silakan. Seperti dikatakan Ibnu Taimiyah, “Jika seseorang melakukan shalat tarawih sebagaimana mazhab Abu Hanifah, Syafii, dan Ahmad, yaitu 20 rakaat, atau sebagaimana mazhab Malik yaitu 36 rakaat, atau 13 rakaat, atau 11 rakaat, maka itu yang terbaik. Ini sebagaimana Imam Ahmad berkata, ‘Karena tidak ada apa yang dinyatakan dengan jumlah, maka lebih atau kurangnya jumlah rakaat tergantung pada berapa panjang atau pendek qiyam-nya'.” 

photo
ILUSTRASI Suasana perpustakaan masjid di Jakarta. Menurut Ustaz Denis Arifandi PS, penerjemahan kitab-kitab klasik adalah salah satu cara menjembatani ilmu-ilmu agama. - (DOK REP Prayogi)

Menerjemahkan Itu Menjembatani

Proses transmisi ilmu terjadi melalui banyak cara. Salah satunya adalah penerjemahan karya-karya yang berkualitas ke dalam bahasa sasaran. Dalam dakwah Islam, ahli terjemah pun memiliki peran yang tidak sedikit. Hal itu disampaikan Ustaz Denis Arifandi Pakih Sati Lc.

Menurutnya, kaum Muslimin dapat memetik hikmah dari kemajuan yang dicapai peradaban Islam masa silam. Pada zaman Kekhalifahan Abbasiyah, Baghdad menjadi kota kosmopolitan tempat pengkajian ilmu-ilmu dari pelbagai penjuru dunia. Sultan Abbasiyah kala itu mendukung transmisi keilmuan, utamanya dengan menyokong para penerjemah.

Ustaz Denis Arifandi terinspirasi dari peran kalangan pengalih bahasa pada era keemasan Islam. Sejarah membuktikan, buah kerja mereka memberikan sumbangsih luar biasa bagi peradaban. Merefleksikan hal itu, dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini pun menekuni dunia penerjemahan.

Hingga kini, pengasuh Pondok Pesantren Insan Utama International Islamic Boarding School (IIBS) Yogyakarta itu telah mengalihbahasakan kitab-kitab klasik karangan alim ulama salaf. Ia mengaku termotivasi untuk turut menjembatani warisan pengetahuan salafus salih agar sampai kepada generasi kini, khususnya Muslimin Indonesia yang belum bisa berbahasa Arab.

“Menerjemah kitab itu berarti menjembatani ilmu-ilmu dari masa mereka. Harapannya, ilmu itu sampai kepada orang-orang (pembaca) yang mungkin tidak memahami bahasa aslinya, bahasa Arab,” ujar Ustaz Denis saat dihubungi Republika, beberapa waktu lalu.

 
Menerjemah kitab itu berarti menjembatani ilmu-ilmu dari masa mereka.
 
 

Sejak kecil, mubaligh muda ini sudah mengenal bahasa Arab. Saat menempuh pendidikan di MAKN Koto Baru Padang Panjang, Sumatra Barat, dia mulai serius mempelajari penguasaan atas bahasa Arab. Pendidikannya kemudian berlanjut ke Fakultas Syariah Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam and Arab (LIPIA) Jakarta. Kemampuannya dalam menerjemahkan teks-teks berbahasa Arab pun kian terasah.

Begitu lulus dari LIPIA, Ustaz Denis meneruskan studi magister Hukum Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kini, ia sedang menempuh kajian doktoral Ilmu Syariah di kampus yang sama. Sampai sekarang, sudah cukup banyak naskah yang diterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Di antaranya adalah Kitab La Tahzan wabtasim lil Hayah karya Mahmud al-Mishry.

“Buku itu bagi saya, memberikan motivasi tersendiri. Salah satu kitab yang pernah saya terjemahkan,” tuturnya.

Buku-buku lain yang pernah dialihbahasakannya ialah Syarah Matan Abi Syuja' karya Musthafa Dibb al-Bugha dan Kitab Tarikh al-Tasyri' al-Islami karya Khudary Bek. Ia pun menulis buku sendiri, semisal Jejak Hidup dan Keteladanan Imam Empat Mazhab.

Begitu banyak alim yang menginspirasi. Untuk menyebut satu nama, Syekh Yusuf al-Qaradawi. “Kalau saya sendiri, sangat menyukai karya-karya beliau. Sosoknya juga sangat saya kagumi, begitu pula pandangan-pandangan fikihnya,” kata Ustaz Denis.


Terkini

×