Kecenderungan Syaqiq pada sufi bermula dari ekspedisi niaga yang ditempuhnya. | Pxhere
09 May 2021, 04:52 WIB

Ketika Sufi Memetik Hikmah

Kecenderungan Syaqiq pada sufi bermula dari ekspedisi niaga yang ditempuhnya.

 

OLEH HASANUL RIZQA

Tasawuf merupakan suatu jalan yang bertujuan mendekatkan diri seorang insan dengan Tuhannya. Salah seorang tokoh sufi yang dikenal dalam sejarah Islam ialah Imam Syaqiq al-Balkhi.

Sebagai anak seorang hartawan, dia dapat meraih berbagai kenikmatan duniawi secara instan. Akan tetapi, hiruk-pikuk dunia pada akhirnya tak menarik hatinya.

Terkait

Kecenderungannya pada jalan salik bermula dari ekspedisi niaga yang ditempuhnya. Waktu itu, pemuda ini sedang menuju ke Turki untuk keperluan bisnis. Belum sampai tujuan, dia singgah di sebuah daerah.

Didorong rasa penasaran, Syaqiq al-Balkhi lantas memasuki sebuah kuil tempat penyembahan berhala. Di dalamnya, ia menemukan banyak sekali patung berwujud manusia. Sementara, di depan patung-patung itu tampak puluhan rahib yang berkepala botak dan tidak berjanggut. Mereka sedang menyembah benda-benda tak bernyawa itu.

Syaqiq lalu menghampiri seorang dari mereka dan berkata, “Untuk apa kamu bersujud pada berhala? Padahal, kamu diciptakan oleh Zat Yang Maha Hidup, Maha Mengetahui, Maha Kuasa. Sembahlah Allah, jangan menyembah patung-patung yang tidak memberikan manfaat ataupun mudarat kepadamu!”

Rahib yang diajaknya bicara hanya diam sesaat, lalu menjawab ringan, “Kalau benar bahwa Tuhan yang Anda sebut itu Maha Kuasa memberikan rezeki bahkan di negerimu sendiri, mengapa Anda jauh-jauh datang ke sini untuk berniaga?”

Mendengar perkataan itu, Syaqiq terkejut. Begitu keluar dari biara itu, hatinya seperti terguncang. Baru kali ini dia sadar, selama ini terlalu mengejar dunia dan seolah-olah mengabaikan Allah. Padahal, Dialah Zat Yang Maha Pemberi rezeki. Sejak itu, ia berupaya zuhud terhadap dunia. Ia mulai menyelami tasawuf seutuhnya.

 
Begitu keluar dari biara itu, hatinya seperti terguncang. Baru kali ini dia sadar, selama ini terlalu mengejar dunia dan seolah-olah mengabaikan Allah.
 
 

Pada awal-awal perjalanannya sebagai seorang sufi, Syaqiq pun menjumpai kejadian lain. Di suatu daerah, ia berpapasan dengan seorang budak yang asyik bersenang-senang. Padahal, daerah tersebut waktu itu sedang dilanda kemarau berkepanjangan. Paceklik terjadi lama sehingga krisis ekonomi merajalela.

Syaqiq begitu heran dengan keceriaan yang tampak di wajah sang budak. Akhirnya, ia pun menyapa dan berbicara dengannya.

“Kesenangan apa yang sedang kamu lakukan ini? Bukankah orang-orang sedang dilanda kesusahan karena paceklik?” tanyanya.

“Tuan, mereka mungkin mengalami paceklik. Tapi, saya tidak,” jawab si budak dengan polosnya.

“Apa maksudmu?”

“Tuan, majikanku memiliki kebun yang subur di suatu perkampungan di luar sana. Hasilnya sanggup untuk mencukupi keperluannya dan budak-budaknya,” jelas budak tersebut.

Perkataan budak itu langsung mengetuk nuraninya. Dalam hati, Syaqiq bergumam, “Budak ini tidak khawatir akan rezekinya karena merasa majikannya masih punya kebun yang subur. Padahal, baik dirinya maupun si majikan hanyalah manusia. Maka patutkah seorang hamba Allah mengkhawatirkan rezekinya, padahal ia punya Tuhan Yang Maha Kaya lagi Mahapemurah?”

 
Budak ini tidak khawatir akan rezekinya karena merasa majikannya masih punya kebun yang subur.
 
 

Delapan perkara

Kisah berikutnya dialami Imam Syaqiq al-Balkhi tatkala dia berusia sepuh. Kala itu, ia sudah cukup lama menjadi seorang mursyid. Muridnya berjumlah puluhan, berasal dari banyak negeri. Di antara mereka adalah Hatim al-Asham.

Suatu hari, Syaqiq bertanya kepada muridnya itu, “Sudah berapa lama engkau menuntut ilmu dariku?”

“Sudah 33 tahun, ya Syekh,” jawabnya.

“Apa saja yang sudah kau pelajari selama 33 tahun itu?”

“Hanya delapan hal,” jelas Hatim, singkat.

Syaqiq terpana, “Innalillahi! Dalam waktu sepanjang itu, hanya delapan hal yang kau pelajari? Apa saja itu?” cecarnya.

Pertama, setiap manusia memiliki kekasih, tetapi kekasihnya itu pasti akan meninggalkannya sendirian begitu ia mati dan jasad terbujur di liang lahat. Maka kupilih amal kebaikan sebagai kekasihku.

Kedua, aku berjuang melawan hawa nafsuku agar tunduk kepada Allah SWT. Sebab, kuyakin janji Allah dalam Alquran. Ketiga, kulihat manusia banyak menumpuk harta, padahal ‘apa yang di sisi Allah akan kekal’ (QS an-Nahl: 96).

Keempat, kulihat banyak orang mengejar jabatan. Padahal, ‘orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa’ (QS al-Hujurat:13). Kelima, kumelihat manusia saling mencela karena hasad, padahal semuanya telah dibagi oleh Allah. Maka kutinggalkan dengki dan tidak bermusuhan dengan seorang pun.

Keenam, manusia banyak saling menzalimi dan membunuh, padahal ‘setan itu adalah musuh bagimu’ (QS al-Fathir:6). Maka kujadikan setan sebagai satu-satunya musuhku.

Ketujuh, kulihat orang banyak menghinakan diri sendiri dengan berbuat maksiat hanya karena harta. Padahal, 'Tiada satu pun binatang melata di bumi, melainkan Allah telah menanggung rezekinya' (QS Hud:6). Maka kusibukkan diri dengan taat kepada Allah. Tidak pernah mengkhawatirkan rezeki yang telah dijamin Allah untukku.

Terakhir, kulihat banyak manusia merasa bergantung ke sesama makhluk-Nya. Padahal, ‘barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkannya’ (QS ath-Thalaq: 3). Maka aku bertawakal hanya kepada Allah.”

Imam Syaqiq tersenyum dan berkata kepada muridnya itu, “Engkau benar, wahai Hatim.”


×