Sejumlah santri mengaji Al Quran menggunakan penerangan lilin dan lampu minyak di masjid Pondok Pesantren Baitul Mustofa, Mojosongo, Solo, Jawa Tengah, Selasa (4/5/2021). Pengajian dengan penerangan lilin dan lampu minyak tersebut dilakukan untuk melatih | Maulana Surya/ANTARA FOTO
09 May 2021, 03:20 WIB

Memuliakan Bulan Alquran

Kitab-kitab samawi sebelum Alquran juga diturunkan pada bulan Ramadhan.

OLEH ANDRIAN SAPUTRA

 

Ramadhan identik dengan Alquran. Pada bulan ini, wahyu pertama kali diturunkan kepada Rasulullah SAW. Tidak berlebihan jika kaum Muslimin meneruskan tradisi para ulama untuk mengkhatamkan dan menghafal kitab suci. Semoga syiar Alquran yang sudah menggema tak lagi reda saat Ramadhan meninggalkan kita.

Meraih Kemuliaan Alquran

Terkait

 

 

 

Keutamaan membaca Alquran tak ingin dilewatkan para member One Day One Juz (ODOJ). Sejak awal Ramadhan, mereka mengisinya dengan berbagai kegiatan termasuk dengan mengadakan Gebyar Ramadhan yang puncaknya diisi dengan tilawah Alquran seribu orang secara daring.

Ketua Umum ODOJ Bakat Setiaji menjelaskan, program membaca Alquran Bareng (Mabar) antusias diikuti para member di masing-masing daerah. Program ini pun memfokuskan pada koreksi tahsin masing-masing member agar sesuai kaidah ilmu tajwid. 

Bakat menjelaskan, para member terus diberikan motivasi agar istiqamah dalam bertadarus Alquran setiap hari. Menurut dia, ada kenaikan member ODOJ selama Ramadhan.

Saat ini total ada 127.233 orang di daerah yang aktif dan konsisten dalam bertadarus Alquran setiap harinya. "Jadi peningkatannya luar biasa Ramadhan karena masyarakat Muslim Indonesia itu mereka punya semangat, tetapi butuh pemantik sehingga mereka bergabung di ODOJ untuk memperoleh inspirasi, sehingga terpacu," kata Setiaji.

Ia menjelaskan, ODOJ mendorong anggotanya untuk istiqamah membaca Alquran terlebih saat Ramadhan. Secara bertahap, bahkan muncul kesadaran para member untuk memperbaiki bacaan, memahami makna dengan mengikuti kajian tafsir.

 
Masyarakat Muslim Indonesia itu punya semangat, tetapi butuh pemantik sehingga mereka bergabung di ODOJ untuk memperoleh inspirasi, sehingga terpacu.
 
 

 

Dengan membiasakan diri bertadarus, dia menjelaskan akan membuat seseorang semakin lancar dan mudah dalam mengkhatamkan Alquran. Biasanya, menurut Setiaji, para member konsisten melaporkan bacaan Alqurannya di masing-masing grup daring maksimal pukul 8 malam. Dengan begitu, para anggota akan terpacu dengan sesama anggota lainnya yang telah melaporkan hasil bacaannya setiap hari.  

"Kita luangkan waktu untuk membaca Alquran bukan mencari waktu luang. Dan mereka pun menemukan ritmenya, ada yang selesai satu juz setelah Subuh, ada yang Dhuha, ada yang Zhuhur," jelas dia.

Alquran memang memiliki status istimewa di dada setiap Muslim. Allah SWT menurunkan ayat-Nya pertama kali kepada Nabi Muhammad SAW pada 17 Ramadhan di Gua Hira. Wahyu pertama yang diturunkan adalah surat Al-Alaq ayat 1-5.

Pakar Tafsir Alquran, Prof KH Ahsin Sakho Muhammad menjelaskan, Malaikat Jibril datang dan merangkul Nabi Muhammad kemudian menyuruhnya membaca di Gua Hira. Namun Nabi bertanya-tanya tentang apa yang harus dibacanya.

photo
Sejumlah santri pesantren Daarul Quran Al Kautsar, Cibinong, Bogor, Jawa Barat membaca Alquran secara bersama-sama dengan menerapkan jaga jarak dan menggunakan masker, Kamis (7/5/2021). Kegiatan mengkhatamkan Alquran tersebut rutin dilaksanakan pada bulan Ramadhan - (Prayogi/Republika)

Tiga kali perintah membaca itu ditujukan kepada Nabi Muhammad, setelah itu malaikat melanjutkan dengan membaca ayat 1-5 surah al-Alaq. Prof Ahsin menjelaskan turunnya lima ayat surah al-Alaq mengandung makna menggugah manusia untuk melakukan kegiatan intelektual berlandaskan nilai-nilai Rabbani. Terlebih pada masa itu orang-orang Arab banyak yang tidak bisa membaca dan menulis. 

"Kata iqra itu pekerjaan intelektual, kata bismi rabbika itulah landasan spiritual. Iqra menggerakan semua potensi manusia untuk bisa menjadikan dirinya eksis dalam pendidikan melalui membaca, pengamatan dan seluruh yang berkaitan dengan dunia intelektual," kata Prof Ahsin kepada Republika beberapa waktu lalu. 

Prof Ahsin menjelaskan, berbeda dengan kitab samawi lainnya yang diturunkan secara menyeluruh, Alquran justru diturunkan secara gradual. Ini sekaligus menjadi keistimewaan Alquran itu sendiri.

Alquran, kata Prof Ahsin, sebagai kitab tarbiyah mengenalkan manusia terlebih dulu kepada keesaan Allah SWT. Setelah terbentuknya tatanan masyarakat yang beriman, secara bertahap Alquran menjelaskan syariat Islam sebagai pedoman seorang Muslim.

 
Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa kitab-kitab samawi sebelum Alquran juga diturunkan pada bulan Ramadhan.
 
 

 

"Menggarap fondasinya dulu. Dipupuk dulu keimanan kecintaannya kepada Allah dan Rasul. Kalau iman kepada Allah dan Rasul sudah masuk maka satu kewajiban, hukum apapun mereka akan terima, begitu juga lainnya. Jadi Alquran itu sangat  manusiawi sekali. Walau Allah adalah Tuhan semesta alam tapi tidak serta merta langsung harus ini, harus itu," kata dia.

Prof Ahsin mengatakan hak prerogatif Allah memilih bulan Ramadhan sebagai bulan diturunkannya Alquran. Allah yang mengetahui rahasia di baliknya.

Namun demikian dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa kitab-kitab samawi sebelum Alquran juga diturunkan pada bulan Ramadhan. Karena itu, menurut Prof Ahsin, Ramadhan juga disebut Syahrul Quran. Ramadhan menjadi momentum untuk mengasah diri dan meningkatkan spiritualitas manusia semakin baik. Karenanya membaca dan menghafal Alquran adalah ibadah yang utama dalam mengisi Ramadhan.  

Ahli Tafsir Ustaz Amir Faishol Fath mengungkapkan saat Ramadhan, Rasulullah dengan malaikat Jibril membaca Alquran. Begitupun para sahabat yang berlomba-lomba mengkhatamkan Alquran saat bulan suci.

photo
Seorang pria membaca Alquran pada bulan suci Ramadhan di masjid, Peshawar, Pakistan, Jumat (23/4/2021). Bulan suci Ramadhan dimanfaatkan umat Islam di penjuru dunia untuk memperbanyak amalan dan ibadah di antaranya dengan melakukan tadarus Alquran. EPA-EFE/BILAWAL ARBAB - (EPA-EFE/BILAWAL ARBAB)

Para ulama semisal Imam Syafii bahkan mengkhatamkan Alquran 60 kali selama Ramadhan. Hal ini karena begitu mulianya bulan suci Ramadhan dan keutamaan mengisinya dengan membaca Alquran.

Sementara dalam sebuah hadis dijelaskan tentang membaca satu huruf Alquran adalah bernilai satu kebaikan. Sedangkan orang yang mampu menghafalkan Alquran, jelas dia, akan membuat kedudukannya lebih tinggi dibanding orang-orang lainnya di akhirat. 

"Jadi kalau ingin meraih pahala sebanyak-banyaknya, perbanyaklah membaca Alquran. Yang membacanya bagus kata Nabi akan dikumpulkan dengan malaikat. Kalau yang belum lancar dapat dua pahala. Makanya Ramadhan ini kesempatan mengisi waktu dengan Alquran, sebab membaca Alquran ini ibadah yang tak dibatasi waktunya oleh Allah," kata Ustaz Amir yang juga kerap menjadi juri ajang hafiz cilik.

 
Ramadhan ini kesempatan mengisi waktu dengan Alquran, sebab membaca Alquran ini ibadah yang tak dibatasi waktunya oleh Allah.
 
 

Agar istiqamah membaca dan menghafal Alquran, Ustaz Amir menjelaskan, seseorang harus mempelajari terlebih dulu keutamaan membaca dan menghafal Alquran. Selain itu, dia harus mencari teman yang dapat menjaga semangat dalam membaca dan menghafal Alquran.

Motivasi membaca dan menghafal Alquran juga dapat diperoleh dari membaca kisah-kisah orang-orang terdahulu yang bersungguh-sungguh dalam membaca dan menghafal Alquran.

Ustaz Amir pun membagikan tips agar dapat dengan mudah menghafalkan Alquran di antaranya memupuk kemauan yang kuat untuk menghafal 30 juz. Dia juga harus menentukan target harian dan melakukan murajaah setiap pekannya.

Ayat-ayat yang telah hafal baiknya juga dibaca ketika shalat agar lebih terbiasa. Dapat juga dilakukan murajaah setiap bulannya. Selain itu, dia menjelaskan,  harus ada guru yang dapat membimbing dalam menghafal agar terhindar dari kekeliruan saat membaca.


×