Asma Nadia | Daan Yahya | Republika
08 May 2021, 03:45 WIB

Mudik, Antara Biasa atau Terbiasa

Merasa segala sesuatunya sudah normal, sebagian besar masyarakat mulai beraktivitas biasa.

OLEH  ASMA NADIA

Ada perbedaan besar antara biasa atau wajar dengan terbiasa. Biasa adalah situasi normal saat semua berjalan seperti sebelumnya atau umumnya.

Sedangkan terbiasa, bermakna yang tidak selalu lumrah tetapi karena kita sudah menjalani secara rutin, terasa seperti kewajaran. Terbiasa, bisa saja mengandung nuansa negatif tetapi diri kita sudah menoleransi dan beradaptasi.

Yang berbahaya, ketika kita merasa segalanya baik-baik saja padahal sebenarnya situasinya buruk. Lebih berbahaya lagi karena sudah terbiasa, akhirnya kita menganggap seolah lumrah padahal sebenarnya telah menyimpang dari ideal.

Terkait

Kita sudah melewati pandemi lebih dari setahun. Satu demi satu fasilitas masyarakat, layanan publik kembali beroperasi. Satu-satunya yang belum normal adalah belajar mengajar tatap muka. Jika Juli ini  sekolah dibuka, tentu semua kian terasa kembali pulih. 

 
Yang berbahaya, ketika kita merasa segalanya baik-baik saja padahal sebenarnya situasinya buruk.
 
 

Merasa segala sesuatunya sudah normal, sebagian besar masyarakat mulai beraktivitas biasa, termasuk di bulan Ramadhan dan menyambut Idul Fitri. Tak sedikit yang sejak lama merencanakan dan bersiap mudik.            

Meski harusnya  kita tetap  waspada, sebab situasi sejatinya belum pulih, hanya kita yang terbiasa. Bagaimana kondisi Indonesia terkait Covid-19, lebih tepatnya bisa dilihat dari cara bangsa lain memandang negeri kita saat ini.

Arab Saudi membuka kembali penerbangan internasional pada 17 Mei mendatang. Namun Indonesia menjadi salah satu negara yang dianggap tidak aman, hingga penerbangan dari Indonesia dilarang karena alasan pandemi. 

Ya, Indonesia satu dari 20 negara di dunia dalam daftar yang dilarang melakukan penerbangan ke Arab Saudi. Bersama Indonesia ada AS, Inggris, India, Jerman, Argentina, Irlandia, Pakistan, UEA, Italia, Brasil, Portugal, Turki, Afrika Selatan, Prancis, Lebanon, Mesir, dan Jepang.

Dengan kata lain, Tanah Air tercinta masih dianggap negara paling berisiko. Bukan tanpa alasan. Pemerintah Saudi mencatat, banyak jamaah Indonesia yang ternyata positif ketika tiba di negeri kelahiran Rasulullah SAW tersebut.

 
Dengan kata lain, Tanah Air tercinta masih dianggap negara paling berisiko. Bukan tanpa alasan. 
 
 

Sejak Desember 2020 hingga Februari 2021, sekitar 109 jamaah Indonesia terkonfirmasi positif dari total 1.600 jamaah. Dikhawatirkan, jika musim haji tiba, bukan mustahil jamaah Indonesia juga akan termasuk dalam daftar dilarang, meski kita berharap hal ini tidak terjadi.

Fakta di atas jelas menunjukkan Indonesia belum pulih, masih dalam keadaaan siaga. Memang tidak separah India yang per hari bisa mencapai 300 ribuan kasus baru, tapi bukan berarti kita sudah boleh bersantai dan lengah.

Salah satu sebab kasus melonjak di India, sebagian besar masyarakat awalnya cenderung mengabaikan bahaya Covid-19. Seorang teman di India bercerita bagaimana perilaku masyarakat di sekitarnya yang terkesan sangat santai.

Sehari-hari segalanya berjalan seperti biasa dan tak tampak sedang pandemi. Pasar ramai, orang berkerumun, dan menurutnya tidak banyak yang mengenakan masker. Bahkan dia bercerita, dirinya dijadikan kelakar orang sekitar saat memakai masker. 

Situasi tersebut cukup menggambarkan, kesadaran warga dan kemampuan pemerintah mengedukasi masyarakat, sangat penting dalam menghadapi wabah. 

Masih panjang perjuangan yang harus kita lalui bersama. Mendekati Idul Fitri, merebak kekhawatiran tambahan. Meski pemerintah telah memberi peringatan tegas bagi para pemudik, bahkan mengumumkan akan melakukan pemeriksaan ketat pekan ini. 

 
Masih panjang perjuangan yang harus kita lalui bersama. Mendekati Idul Fitri, merebak  kekhawatiran tambahan. 
 
 

Sayangnya batas waktu itu bukan disikapi positif sebagai kehati-hatian, malah membuat masyarakat berdesak-desakan memenuhi semua pintu mudik. Berbondong-bondong pulang kampung sebelum pemeriksaan diperketat dan mudik dilarang.

Padahal peringatan tersebut ibarat lampu kuning di sudut lalu lintas. Sedianya, pengemudi harus mengurangi kecepatan. Namun, pengemudi malah menekan pedal gas lebih dalam agar kendaraan bisa menerobos sebelum lampu lalu lintas berubah warna.

Akhirnya upaya mengamankan direspons salah dan malah menimbulkan bahaya. Di Indonesia, tanpa pandemi pun fenomena mudik setiap tahun selalu meninggalkan catatan panjang korban, termasuk korban jiwa akibat kemacetan dan kecelakaan jalan raya.

Jika mudik tidak dilarang, jumlah korban membengkak, korban kemacetan, ditambah akibat terpapar pandemi. Pemerintah sudah berusaha menjaga dan mengamankan, masyarakat harus mawas diri dan sebisa mungkin menghindari mudik Lebaran selama pandemi.

Situasi yang terlihat seakan normal, mudah-mudahan tidak membuat kita teperdaya.

Dulu terasa mengejutkan mendengar berita ada warga terpapar Covid-19. Kini saking seringnya, kita seolah turut terbiasa bahkan saat mendengar kabar duka penderita yang meninggal. Tetap biasa meski di antara mereka ada sosok yang kita kenal.          

Dulu kita menjaga jarak begitu ketat, lalu berangsur mulai berani merapat dan akhirnya terbiasa kembali tak menjaga jarak. Padahal sekali lagi, pandemi masih jauh dari usai. 

Maka, mari berpikir untuk kepentingan semua. Masih harus banyak sabar dan menahan diri. Menjelang Idul Fitri, sebisanya kita bantu pemerintah mengurangi kerumunan mudik, demi keselamatan bersama.


×