Presnel Kimpembe PSG, kanan, menantang Kevin De Bruyne dari Manchester City pada pertandingan leg pertama semifinal Liga Champions antara Paris Saint Germain dan Manchester City di stadion Parc des Princes, di Paris, Prancis, Rabu, 28 April 2021. | AP/Thibault Camus
06 May 2021, 09:46 WIB

Buah Kerja Keras Manchester City

Manchester City untuk kali pertama bisa tampil ke final Liga Champions.

MANCHESTER — Kutukan itu tersisih juga. Empat musim terakhir Manchester City hanya mampu melangkah paling jauh hingga perempat final. Namun, dua gol dari Riyad Mahrez ke gawang Paris Saint-Germain (PSG) di Stadion Etihad, Rabu (5/4) dini hari WIB, itu membawa City untuk kali pertama tampil ke final Liga Champions.

City mengantongi tiket ke final seusai menang dua gol tak berbalas dari PSG pada laga leg kedua semifinal. Secara agregat, tim besutan Pep Guardiola itu unggul 4-1 dari PSG. Alhasil, sembilan musim selalu tampil di kompetisi paling elite di Benua Biru, menjadi terasa paripurna pada malam itu.

Semua riang gembira. Guardiola dan seluruh pemainnya meluapkan kebahagiaan karena bisa membawa klub yang dimiliki pengusaha asal Abu Dhabi, Sheikh Mansour, itu tampil ke final.

"Mencapai final saat ini memang masuk akal, melihat apa yang telah kami lakukan dalam empat atau lima tahun terakhir, rasanya kami layak untuk berada di partai final ini,” kata Guardiola, dikutip dari laman resmi UEFA, Rabu (5/5).

Pada laga ini, City tampil sangat efektif. Mahrez merampungkan efektivitas penampilan City itu melalui gol yang dicetaknya pada menit ke-11 dan menit ke-63. Guardiola mengaku bangga dengan performa luar biasa pemainnya. Bukan hanya pada mereka yang tampil di lapangan, melainkan semua pemain yang juga duduk di bangku cadangan. Ia menyatakan, semua orang telah memberikan kontribusi untuk tim dan layak untuk dimainkan.

"Ini luar biasa. Sekarang waktunya menikmati. Kami harus memenangkan liga dan kami punya dua atau tiga pekan untuk mempersiapkan final," ujar mantan pelatih Barcelona dan Bayern Muenchen tersebut.

Guardiola, yang kali terakhir merasakan final Liga Champions pada 2011, melihat penampilan anak asuhnya telah terlihat konsisten dan solid. Namun, tugas pelatih berusia 50 tahun itu belum sesungguhnya purna.

Partai puncak Liga Champions, yang rencananya digelar di Stadion Attaturk Olimpic, Istanbul, Turki, pada 29 Mei mendatang, tentunya menjadi ujian yang harus dituntaskan oleh Guardiola. Di final nanti, City menanti pemenang antara Chelsea dan Real Madrid. Saat berita ini ditulis, keduanya memiliki skor imbang 1-1 dari hasil laga leg pertama di Bernabeu.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Manchester City (mancity)

Partai final nanti membukakan peluang juga kepada City untuk mengawinkan gelar pada musim ini. Selain Liga Champions, the Citizens berpeluang besar merengkuh titel Liga Primer Inggris. Tinggal menyisakan empat partai lagi, City sudah mengantongi keunggulan 13 poin dari pesaing terdekatnya, Manchester United, yang duduk di peringkat kedua klasemen sementara.

Jika City menorehkan catatan historis di pentas Liga Champions musim ini, PSG justru menjadi pesakitan. Les Parissien, yang urung merengkuh titel Liga Champions pada musim lalu karena dibekap Bayern Muenchen di partai final, kali ini kembali harus gigit jari.

Ambisi untuk memuaskan dahaga trofi Liga Champions seusai kegagalan musim lalu itu kembali terkubur. Secara khusus, pelatih PSG Mauricio Pochettino enggan menggunakan absennya Kylian Mbappe dalam kekalahan di laga leg kedua partai semifinal Liga Champions. Tidak hanya itu, dalam beberapa momen pertandingan, Pochettino juga menilai, anak-anak asuhnya bisa mengendalikan permainan.

''Tidak mudah bisa mencatatkan peluang dan mendominasi permainan saat menghadapi City. Namun, terkadang Anda membutuhkan keberuntungan di sepak bola,” kata Pochettino.

“Pada akhirnya, mereka lebih tajam dan klinis di depan gawang. Mereka bisa mencetak gol dalam situasi di mana kami tengah menguasai permainan,'' ujar eks pelatih Tottenham Hotspur tersebut.

Di sisi lain, Pochettino juga menyoroti fakta bahwa dalam dua leg semifinal ini timnya harus selalu menerima kartu merah—yang jelas menjadi keuntungan besar bagi City.

Pada leg pertama, PSG kehilangan Idrissa Gueye ketika City sudah unggul 2-1 dan di Etihad hal serupa terjadi pada Angel Di Maria yang dikartu merah saat tuan rumah sudah unggul 2-0.

"Dalam 180 menit, untuk 40 atau 45 menit kami harus tampil dengan 10 pemain. Itu jelas keuntungan besar (bagi lawan),” kata Pochettino.

photo
Kevin De Bruyne dari Manchester City, kiri ke-2, merayakan bersama rekan satu timnya setelah mencetak gol pertama timnya selama pertandingan sepak bola leg pertama semifinal Liga Champions antara Paris Saint Germain dan Manchester City di stadion Parc des Princes, di Paris, Prancis, Rabu, 28 April , 2021. - (AP/Thibault Camus)

 


×