Hikmah Republika Hari ini | Republika
06 May 2021, 03:30 WIB

Puasa dan Kejujuran Kolektif

Kejujuran adalah tanda bukti keimanan. Orang mukmin pasti berpuasa dan pasti jujur.

OLEH AHMAD AGUS FITRIAWAN

Ibadah puasa identik dengan pelatihan diri untuk bersikap jujur. Puasa bukanlah ibadah raga, tapi ia merupakan ibadah hati, hanya mukmin yang puasa dan Allah sajalah yang tahu bahwa dirinya sedang puasa.

Kejujuran adalah tanda bukti keimanan. Orang mukmin pasti berpuasa dan pasti jujur. Kalau tidak puasa dan tidak jujur, keimanannya sedang terserang penyakit kemunafikan.

Pernah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah mungkin seorang mukmin itu kikir?”

Terkait

Rasul SAW menjawab: “Mungkin saja.”

Sahabat bertanya lagi: “Apakah mungkin seorang mukmin bersifat pengecut?”

Rasul menjawab: “Mungkin saja.”

Sahabat bertanya lagi, “Apakah mungkin seorang mukmin berdusta?”

Rasulullah menjawab: “Tidak.” (Imam Malik dalam kitab al-Muwaththo’)

Kejujuranlah yang menyelamatkan bahtera kebahagiaan keluarga, masyarakat, dan negara. Dan kejujuran pulalah yang menyelamatkan seorang Muslim dari siksa api neraka di kemudian hari.

Kejujuran adalah sendi akhlak dan pokok kemanusiaan manusia. Tanpa kejujuran, agama tidak lengkap, akhlak tidak sempurna, dan seorang manusia tidak sempurna menjadi manusia. Di sinilah urgensinya kejujuran bagi kehidupan. 

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tetap berpegang eratlah pada kejujuran. Walau kamu seakan melihat kehancuran dalam berpegang teguh pada kejujuran, tapi yakinlah bahwa di dalam kejujuran itu terdapat keselamatan.” (Abu Dunya).

Seorang mukmin tidak cukup hanya jujur dalam ucapan dan perbuatan, tapi harus jujur dalam niat sehingga semua ucapannya, perbuatannya, kebijakannya, dan keputusannya harus didasarkan atas tujuan mencari mardlatillah

Kejujuran inilah yang mendorong Umar bin Khattab memiliki tanggung jawab luar biasa dalam memerintah khilafah Islamiyah. Beliau pernah berkata: “Seandainya ada seekor keledai terperosok di Baghdad (padahal beliau berada di Madinah), pasti Umar akan ditanya kelak: “Mengapa tidak kau ratakan jalan untuknya?”

Bangsa yang tak henti-hentinya diterpa musibah dan krisis sangat membutuhkan manusia-manusia jujur, baik dalam ucapan, perbuatan, maupun niat. Sungguh bangsa Indonesia, umat Islam secara khusus sangat membutuhkan pribadi-pribadi yang jujur, baik sebagai rakyat maupun pemimpin, seorang pegawai maupun direktur, pedagang maupun pembeli, suami dan istri, ayah dan anak, keluarga, lingkungan dan dalam berbagai lini kehidupan lainnya.

Bahwa dengan kejujuranlah, hidup suatu bangsa akan menjadi tenteram, nyaman dan sejahtera. Bahkan akan kokoh dan tegak berdiri, sehingga jauh dari tipu daya dan curang. Karena itulah Rasulullah SAW mengingatkan: “Kamu sekalian wajib jujur karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa kepada surga.”

Marilah kita jadikan puasa Ramadhan ini sebagai titik awal perbaikan kejujuran individu dan kolektif menuju kesalehan diri dan sosial, sehingga berbuah pada “baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur” (negeri yang makmur, dan dinaungi ampunan Allah SWT).

Wallahu a'lam.


×