Ketua Umum Partai Ummat Ridho Rahmadi menggelar konferensi pers di Yogyakarta, Kamis (29/4). Konferensi pers ini menjelaskan terkait deklarasi Partai Ummat. Dalam partai ini Amien Rais menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro Partai Ummat. | Wihdan Hidayat / Republika
04 May 2021, 03:45 WIB

Tiga Parpol Baru Adu Strategi Dekati Pemilih

Tiga partai politik baru diprediksi akan merebutkan ceruk suara umat Islam di Indonesia.

JAKARTA—Tiga partai politik baru diprediksi akan merebutkan ceruk suara umat Islam di Indonesia. Ketiganya, Partai Ummat, Masyumi, dan Gelora resmi dideklarasikan menambah jumlah parpol Islam di Indonesia.

Ketua Umum Partai Ummat Ridho Rahmadi akan fokus menggarap segmen milenial dengan memanfaatkan pendekatan teknologi informasi (IT) dan artificial intelligence (AI). Ridho dalam pidato perdananya yang disiarkan di akun Youtube pribadinya pada Ahad (2/5) malam menyampaikan, pengembangan IT dan AI dapat mengekselerasi banyak hal penting untuk bangsa Indonesia.

Ia bahkan menyebut IT dan AI bisa dimanfaatkan untuk membangun karakter bangsa yang beradab dan berakhlak. "Dalam proyeksi jangka panjang, kita dapat menggunakan IT dan AI untuk membangun pilar kedaulatan bangsa dan menjadikan bangsa Indonesia sebagai referensi global kemajuan peradaban," kata Ridho dalam pidato pertamanya yang dikutip Republika, Senin (3/5).

Ridho juga akan fokus pada investasi politik dengan mengajak generasi muda untuk ikut berperan dalam dunia politik Indonesia. Generasi muda ini nantinya dapat menjadi agen perubahan dalam dunia politik Indonesia. Selain itu, generasi muda seperti milennial hingga generasi Z dapat menghasilkan berbagai produk IT dan AI untuk pengembangan Indonesia.

Terkait

"Anak-anak muda Indonesia akan menjadi model pembangunan yang cepat, bergegas, tegas dan insya Allah tuntas," tegas Ridho.

Ketua Umum Partai Masyumi, Ahmad Yani memiliki pendekatan berbeda untuk menarik simpati masyarakat Indonesia. Masyumi melihat ada sekitar 20 persen golongan putih (golput) yang bisa diyakinkan partai Islam. "Golput ini kan bisa dikategorikan dua hal, yang pertama mereka yang golput ini memang menganggap instrumen demokrasi ini tidak sama dengan Islam. Oleh karena itu kita mau ajak, ini cukup besar suara ini," ujarnya.

Kedua, mereka yang golput adalah mereka yang menganggap partai politik tidak lagi memperjuangkan kepentingan rakyat dan menampung aspirasi rakyat. Bahkan masyarakat cenderung melihat partai-partai itu menjadi beban terhadap negara.

"Mereka banyak terlibat kasus-kasus korupsi, oleh karena itu Masyumi ingin hadir mengembalikan lagi politik moral, politik etik di dalam rangka mengisi jabatan-jabatan kenegaraan itu," kata Yani.

Sementara, Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah mengeklaim pihaknya mengusung manajemen politik yang baru. Mantan kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengaku juga sudah berkonsultasi dengan Presiden Joko Widodo terkait peluang Gelora ke depan.

"Saya juga sudah ketemu Pak Jokowi dan juga sudah tanya-tanya ada peluang tidak buat kita, katanya besar peluangnya," ujar Fahri dalam keterangan tertulis yang sudah dikonfirmasi Republika, Senin (3/5).

photo
Wakil Ketua DPR periode 2014-2019 Fahri Hamzah menjawab pertanyaan wartawan usai mengikuti Upacara Penganugerahan Tanda Kehormatan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (13/8/2020). Negara menganugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Nararya kepada Fahri Hamzah yang disematkan oleh Presiden Joko Widodo. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj. - (Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO)

Fahri mengeklaim, partainya akan menyisir setiap desa di Indonesia untuk menggaet pemilih. “Sekarang kita masuk desa, kalau dulu ABRI masuk desa, sekarang Gelora masuk desa," ujar Fahri.

Gelora didirikan oleh sejumlah mantan kader PKS. Partai Masyumi disebut menjadi kelahiran baru dari mereka anak-anak kader Masyumi yang dibubarkan era Presiden Soekarno. Sementara, Partai Ummat didirikan mantan ketua umum Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais. 


×