Jamaah haji menjaga jarak saat melaksanakan tawaf di Masjidil Haram, 2020. | Reuters
25 Apr 2021, 21:25 WIB

Kerinduan Umrah Ramadhan

Selama Ramadhan, ada 50 ribu jamaah yang diizinkan melaksanakan umrah di dua kota suci.

OLEH ANDRIAN SAPUTRA

Jamaah Indonesia kembali harus menahan rindu untuk berangkat umrah di bulan Ramadhan. Keputusan Arab Saudi untuk menangguhkan visa 20 negara termasuk RI membuat jamaah Tanah Air harus gigit jari. Umrah Ramadhan di Tanah Suci tetap terselenggara meski hanya dengan 50.000 orang jamaah. Kita hanya bisa berdoa dan berintrospeksi semoga pintu Tanah Suci terbuka kembali.

Menanti Izin Umrah

Arab Saudi semakin mengetatkan keamanan dan penerapan protokol pencegahan Covid-19 dalam pelaksanaan ibadah umrah. Otoritas Dua Masjid Suci bahkan mengerahkan petugas khusus untuk mengatur jamaah umrah agar dapat menerapkan jaga jarak sosial saat memasuki Masjidil Haram.

Terkait

Seperti dilansir Saudi Gazette, Presidensi Umum Urusan Dua Masjid Suci-Administrasi Umum Pengendalian dan Pengelompokan Kerumunan di Masjidil Haram telah mengerahkan 750 petugas khusus untuk membantu jamaah umrah agar dapat melaksanakan ibadah dengan tenang. 

Menurut Direktur Administrasi Umum untuk Pengendalian dan Pengelompokan Massa Osama al-Hujaili, para petugas itu dikerahkan bergiliran setiap hari selama 24 jam. Mereka disebar ke area mataf, lantai satu mataf, lantai dasar dan lantai satu Mas'aa, hingga pintu masuk Masjidil Haram.

"Kami mengimbau kepada jamaah umrah untuk mematuhi waktu yang telah ditentukan (dalam pelaksanaan ibadah) sebagaimana ditentukan di aplikasi Eatmarna. Dan memakai masker, serta mematuhi jaga jarak sosial," kata al-Hujaili.

 
Kami mengimbau kepada jamaah umrah untuk mematuhi waktu yang telah ditentukan sebagaimana ditentukan di aplikasi Eatmarna.
 
 

Selama Ramadhan 1442 H, ada sebanyak 50 ribu jamaah yang setiap hari diizinkan untuk melaksanakan umrah di dua kota suci. Sebelum Ramadhan, tercatat ada 10 juta jamaah haji dari dalam dan luar negeri yang melaksanakan umrah dengan menggunakan aplikasi Eatmarna setelah dibukanya lagi umrah secara bertahap pada 4 Oktober 2020. Akan tetapi, sampai saat ini, Arab Saudi belum mengizinkan umrah jamaah internasional dari 20 negara, termasuk Indonesia. 

Maskapai Saudi Arabian Airlines dilaporkan akan melanjutkan penerbangan internasionalnya mulai 17 Mei, tetapi itu tidak berlaku bagi 20 negara yang belum diberi izin. Penangguhan masuknya warga negara asing dari 20 negara merupakan bagian dari langkah Arab Saudi untuk memerangi virus korona.

Negara-negara itu antara lain Argentina, Uni Emirat Arab, Jerman, Amerika Serikat, Indonesia, India, Jepang, Irlandia, Italia, Pakistan, Brasil, Portugal, Inggris Raya, Turki, Afrika Selatan, Swedia, Swiss Konfederasi, Prancis, Lebanon, dan Mesir.

Pada akhir pekan kemarin, Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi mengumumkan, sertifikat vaksinasi yang menjadi bukti seseorang telah divaksin di negara masing-masing menjadi hal yang wajib bagi jamaah umrah luar negeri. Hal itu disampaikan Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi Hisham Saeed.

photo
Jamaah melaksanakan shalat berjamaah dengan menjaga jarak guna mencegah penularan virus Covid-19, di Masjidil Haram, Makkah, Saudi, 18 Oktober 2020. -- RaesahAlharmin/Handout via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS PICTURE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. NO RESALES. NO ARCHIVES. MANDATORY CREDIT - (X80001)

Berdasarkan mekanisme bagi jamaah yang datang dari luar negeri selama Ramadhan, Saeed mengatakan, informasi tentang status kesehatan para jamaah akan terkait dalam aplikasi Tawakkalna Kementerian Kesehatan Arab Saudi.

Jamaah haji luar negeri yang telah memiliki sertifikat vaksinasi kemudian melanjutkan ke pusat inaya (perawatan) di Makkah untuk memverifikasi keaslian sertifikat. Setelah itu, petugas akan menetapkan tanggal dan waktu pelaksanaan umrah dan shalat di Masjidil Haram bagi jamaah tersebut.

Ada beberapa langkah yang harus diikuti jamaah umrah dari luar negeri sebelum menjalankan ibadah. Jamaah luar negeri harus ke Inaya Center enam jam sebelum melakukan umrah, memverifikasi status vaksinasi, memakai gelang digital, menunjukkan gelang setibanya di al-Shubaika Assembly Center untuk memverifikasi data dan izin, serta mematuhi tanggal dan waktu yang diberikan untuk melakukan umrah.

Jamaah dari luar negeri pun diharuskan menjalani karantina di hotelnya masing-masing di Makkah selama tiga hari setelah tiba di Arab Saudi.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama Khoirizi Dasir mengatakan, Pemerintah Indonesia terus berupaya agar Arab Saudi segera membuka izin umrah bagi jamaah Indonesia. Kendati demikian, Khoirizi mengatakan, Pemerintah Arab Saudi belum memberikan respon.

 
Indonesia terus melakukan diplomasi, lobi, koordinasi, dan komunikasi.
 
 

"Indonesia terus melakukan diplomasi, lobi, koordinasi, dan komunikasi, baik langsung maupun tidak dengan pihak-pihak terkait di Tanah Air maupun di Arab Saudi, tetapi sampai saat ini belum ada satu statement resmi dari Pemerintah Arab Saudi untuk negara Muslim, termasuk Indonesia, tentang penyelenggaraan haji dan umrah 2021,” ujar dia kepada Republika

Untuk musim Ramadhan ini, dia menegaskan, Saudi hanya mengizinkan umrah terbatas untuk warga Saudi dan ekspatriat. Mereka pun disyaratkan untuk mendaftar ke aplikasi yang ada di Saudi terlebih dahulu. Selain itu, mereka mesti mendapatkan vaksin dan mengikuti protokol kesehatan yang ketat, termasuk karantina selama 72 jam.

Pekan lalu, Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Esam Abid Althagafi juga mengaku belum mendapatkan informasi dari negaranya mengenai rencana dibukanya kembali layanan haji ataupun umrah untuk jamaah Indonesia.

Hal itu disampaikan Esam Abid Althagafi saat menerima kunjungan Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama, Khoirizi, di Kedutaan Besar Arab Saudi, Jakarta. Dalam pertemuan itu, Dubes berjanji akan segera memberikan informasi jika sudah ada keputusan dari Pemerintah Saudi.

photo
Travel haji dan umrah kembali mulai bergeliat. - (Thoudy Badai/Republika)

 

Masa Sulit Bagi Travel Umrah

Hingga saat ini, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi belum membuka pintu umrah bagi 20 negara, termasuk Indonesia. Dampaknya pun terasa bagi para pengusaha biro perjalanan umrah yang rutin mengantar jamaah melaksanakan ibadah ke Tanah Suci sebelum diberlakukannya larangan dari Saudi. 

Pemilik penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU) Taqwa Tours, Rafiq Jauhari, mengakui bahwa belum dibukanya izin umrah telah memukul keuangan biro travel umrah. Ia menjelaskan, pada awal pandemi Covid-19 yang membuat akses ibadah haji dan umrah ditutup oleh Pemerintah Saudi, sejumlah travel umrah di Tanah Air yang termasuk juga Taqwa Tours masih berusaha bertahan. Rafiq mengatakan, kantor mereka masih buka dan karyawan bisa bekerja meski terdapat perubahan pada jadwal masuk kerja.  

Menurut Rafiq, setelah pandemi Covid-19 berjalan setahun, banyak travel umrah, terutama kantor cabang, terpaksa tutup karena masalah keuangan. Akibatnya, ujar Rafiq, banyak karyawan travel umrah yang dirumahkan. Selama penutupan umrah bagi jamaah Indonesia, Rafiq mengaku telah ada 10 persen jamaah umrah yang mengundurkan diri dari travel yang dikelolanya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by NRA Group Official (nragroupofficial)

Sementara itu, ada 90 persen jamaah lainnya masih memercayakan biayanya kepada Taqwa Tours. Mereka masih berharap pintu umrah dapat dibuka kembali. 

"Walaupun Taqwa Tours sudah berkomitmen tidak akan menahan uang jamaah sepeser pun, tetapi biaya yang telah disetorkan jamaah tetap belum bisa dikembalikan sepenuhnya mengingat sebagiannya masih tertahan di maskapai. Kami berharap pemerintah dapat membantu memediasi kami dengan maskapai terhadap uang yang masih tertahan,”ujar dia kepada Republika, beberapa waktu lalu.

Rafiq juga  berharap pemerintah melonggarkan perizinan, seperti surveillance rutin dan akreditasi yang prosesnya memerlukan biaya tak sedikit. “Entah berupa meniadakan sementara proses perizinan atau menggratiskan semua proses yang ada," ungkap dia.

Rafiq mengatakan, selama masa pandemi, ia mencoba beradaptasi dengan cepat. Lantai dasar kantor travel yang dikelolanya pun diubah menjadi toko. Dengan cara tersebut, travel masih dapat mempertahankan karyawannya dengan dilibatkan dalam pengelolaan toko.

 
Dampak bagi travel sangat besar. Industri ini tiarap.
 
 

Kondisi serupa juga dialami biro travel haji dan umrah Garis Lurus. Direktur Garis Lurus Aan Andriyatin mengatakan, belum dibukanya izin ibadah umrah bagi jamaah Indonesia hingga saat ini telah membuat kondisi yang cukup menyulitkan bagi travel-nya. Para jamaah umrah berharap izin dapat segera dibuka karena sudah terhalang lebih dari setahun sejak 24 Februari 2020. Begitu pun travel umrah yang  kondisinya semakin sulit. 

"Dampak bagi travel sangat besar. Industri ini tiarap. Yang awal nya 50 persen WFH-50 persen WFO bergantian memberikan layanan untuk umat, berharap umrah dibuka. Kemudian, 50 persen dirumahkan atau diberhentikan dan 50 persen WFH. Semoga kondisi ini membaik," kata Aan. 

Menurut Aan, untuk tetap bertahan di tengah pandemi, kantor-kantor travel saat ini  berusaha mengalihkan kegiatan usahanya sesuai kondisi. Namun, ia mengatakan, beberapa biro travel terpaksa tutup.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by UMROH JOGJA ZHAFIRAH PUSAT (zhafirahumrohhajj)


×