Sejumlah santri memotret hasil budi daya ikan koi dengan telepon pintarnya yang akan dijual melalui media sosial di Pondok Pesantren Al Barokah, Wonosari, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (1/4). Bank Indonesia (BI) akan memperkuat holding himpunan ekonomi bisni | ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho
22 Apr 2021, 04:00 WIB

BI akan Perkuat Holding Bisnis Pesantren

Bank Indonesia yakin pesantren dapat menjadi kekuatan strategis dan pemain kunci dalam perkembangan industri halal.

 

JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) akan memperkuat holding himpunan ekonomi bisnis pesantren (Hebitren) guna memberdayakan aktivitas ekonomi syariah di lingkup pesantren. Hal itu sejalan dengan strategi bank sentral dalam implementasi kebijakan korporatisasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) termasuk unit usaha syariah di pesantren.

“Aktivitas ekonomi di pesantren sebenarnya sudah dimulai lama tapi belum optimal. Oleh karena itu kami berdayakan pesantren dengan pembentukan Hebitren dan menjadi prioritas untuk dikembangkan ke depannya,” kata Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti dalam seminar virtual nasional Srikandi Ekonomi Syariah Bersinergi Mendukung Pemulihan Ekonomi di Jakarta, Rabu (21/4).

 
Potensi ini yang seharusnya memberikan inspirasi bagi para pelaku ekonomi yang ingin menggarap industri halal.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati
 

Destry menjelaskan, holding tersebut merupakan gabungan unit usaha dalam bentuk korporasi dari banyak pesantren di wilayah yang berdekatan. Menurut Destry, dengan adanya holding usaha, aktivitas ekonomi pesantren bisa menjadi semakin besar dan memiliki daya saing kuat dalam penetapan harga. BI berharap, holding tersebut juga akan meningkatkan akses keuangan dan pembiayaan termasuk peningkatan akses pasar serta peningkatan tata kelola pesantren.

Terkait

Holding pesantren diharapkan dapat berkontribusi aktif melalui pengembangan usaha syariah dalam mendukung pemulihan ekonomi nasional di tengah pandemi,” ujar Destry.

Besarnya komunitas pesantren yakni sebanyak 27.722 pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia, membuat Bank Indonesia yakin pesantren dapat menjadi kekuatan strategis dan pemain kunci dalam perkembangan industri halal. Selain itu, holding ini juga diharapkan dapat memberdayakan perempuan melalui berbagai program pengembangan usaha syariah yang melibatkan para santri putri.

BI berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, termasuk meningkatkan peran perempuan. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, perempuan Indonesia telah berkontribusi nyata dalam menggerakan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia yang inklusif.

Perry menjelaskan, sinergi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah dituangkan melalui pendekatan tiga pilar. Pilar pertama yakni pemberdayaan ekonomi syariah melalui pengembangan ekosistem rantai pasok halal atau halal value chain (HVC). Pilar kedua yaitu pendalaman pasar keuangan syariah baik komersial maupun sosial. Kemudian, pilar ketiga yaitu penguatan riset, asesmen dan edukasi, termasuk edukasi gaya hidup halal.

Perry mengatakan, sinergi dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah telah menunjukkan kinerja yang baik. Pada 2020, Indonesia mendapatkan peringkat keempat terkait pengembangan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE). Selain itu, industri keuangan syariah Indonesia berhasil naik ke peringkat kedua berdasarkan Islamic Finance Development Index.

photo
Menteri BUMN Erick Thohir (ketiga kiri) bersama Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya (tengah), Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa (kiri) dan Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji (kedua kiri) menyaksikan operasional perdana Pertashop di Ponpes Nurul Quran, Karang Pucung, Cilacap, Jateng, Ahad (11/4). Pertamina menargetkan pembangunan 10 ribu outlet Pertashop pada 2021 dengan 1.000 outlet dialokasikan untuk pesantren di seluruh Indonesia. - (ANTARA FOTO/Idhad Zakaria)

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan, peranan ekonomi syariah di Indonesia terus mengalami peningkatan. “Kita melihat peranan ekonomi syariah di mana aspirasinya terus meningkat sehingga perlu diwadahi dalam instrumen yang amanah, dipercaya, dan bisa terus dikembangkan kepercayaan itu,” kata Sri yang juga menjabat Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI).

Dalam laporan SGIE 2020-2021 tercatat, pengeluaran konsumen Muslim untuk makanan, minuman, farmasi, dan pariwisata halal mencapai 2,02 triliun dolar AS. Indonesia merupakan pasar dari produk halal terbesar di dunia.

“Potensi ini yang seharusnya memberikan inspirasi bagi para pelaku ekonomi yang ingin menggarap industri halal,” ujar Sri.


×