Pengendara melintas disamping mural yang bertemakan kampanye melawan Covid-19 yang ada di kawasan Tanah Tinggi, Tangerang, Banten, Rabu (20/1/2021). Kampanye dalam bentuk mural melawan COVID-19 dan imbauan 3M yaitu Memakai masker, Mencuci tangan dengan sa | MUHAMMAD IQBAL/ANTARA FOTO
20 Apr 2021, 11:07 WIB

Kawasan ‘Bandit’ Tanah Tinggi Bertransformasi Lewat Mural

Tanah Tinggi sekarang menjadi kawasan yang indah.

TANGERANG – Wilayah Tanah Tinggi, Kota Tangerang, mengubah identitasnya dari kawasan yang dicap zona hitam kriminalitas menjadi wilayah yang indah. Keindahan Tanah Tinggi terimplementasikan lewat karya-karya mural tangan seniman yang digoreskan pada dinding-dinding samping rel kereta dekat Stasiun Tanah Tinggi.

Kawasan Tanah Tinggi bertransformasi menjadi wilayah dengan sebutan Kampung Pink yang merupakan akronim dari ‘Paling Indah Ni Kampung’. Kelahiran Kampung Pink sejak 17 September 2020 lalu telah meruntuhkan penilaian tentang wilayah itu sebagai kampung yang banyak peredaran narkoba dan perjudian.

“Kampung Pink awalnya diinisiasi oleh sembilan preman yang ingin menebar kebaikan dan mengubah diri yang tadinya tersangkut kasus narkoba dan judi. Konsepnya lebih kepada perubahan perilaku masyarakat Tanah Tinggi,” ujar inisiator Kampung Pink Ibnu Jandi mengawali perbincangan dengan Republika di Tanah Tinggi, Kota Tangerang akhir pekan lalu.

Jandi menjelaskan, dia bersama dengan inisiator lainnya sepakat untuk membuat konsep Kampung Pink dengan menghadirkan nilai-nilai artistik yang menggugah, yakni melalui karya seni mural. Dia mengatakan, tema yang diangkat bersifat situasional dan mengikuti perkembangan masyarakat.

Terkait

Berdasarkan pengamatan Republika, karya-karya mural yang dihadirkan di Kampung Pink memiliki beragam tema. Di antaranya tampak karya mural bertema pandemi Covid-19 terpampang di salah satu sisi dinding dengan menghadirkan gambar para pemimpin daerah se-Tangerang Raya sambil mengenakan masker. Terdapat pula gambar sejumlah ikon Kota Tangerang.  

Di sisi dinding lainnya, ada karya mural bertema religi, seperti wajah tokoh Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dan tokoh Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy'ari. Di sisi barat, temanya lebih kepada kalangan anak-anak, di antaranya terdapat gambar tokoh kartun Disney Frozen serta robot.

Bergerak ke sisi timur, tema sejarah hingga hikayat terpancar. Tampak seorang seniman dengan menggunakan tangga kayu tengah menggambar dan mengecat wajah tokoh mitologi Jawa, Nyi Roro Kidul.

“Karya seniman lebih kepada pop art, milenial, dan yang digandrungi masyarakat. Kalau enggak disentuh seni mural, konsepnya (Kampung Pink) enggak indah karena tujuannya untuk memperindah kampung supaya jadi kampung wisata,” ujar dia.

Saat ini, para seniman telah mengerjakan sekitar 300 meter dinding dari target sepanjang 1 kilometer. Ditargetkan karya-karya mural itu rampung pada Agustus 2021. Dia berharap, dengan rampungnya seluruh karya mural nantinya tempat itu bisa diresmikan sebagai kampung wisata mural.

Menurut catatan Jandi, untuk menciptakan Kampung Pink, biaya yang dikeluarkan mencapai hingga Rp 3,5 miliar. Biaya itu didukung dari berbagai pihak, mulai dari swadaya hingga dari Pemerintah Kota Tangerang.

Ale, salah satu seniman yang membuat karya mural di Kampung Pink mengatakan, mural yang dihadirkan di kampung tersebut bukanlah sekadar gambar. Dia ingin gambar-gambar itu bisa hidup dan memberi pesan moral, serta dapat menggugah masyarakat untuk lebih peduli pada lingkungan.

“Karena, misalnya, orang kalau lihat ada sampah, lalu lihat gambar (karya mural), perilakunya bisa berubah, dia akan pungut. Kalau enggak ada gambar, cenderung bodo amat, begitu ada gambar mereka lebih perhatian, jadi bisa langsung mengubah perilaku,” tutur Ale.

Tamim, seorang warga di Kampung Pink mengaku senang dengan adanya perubahan baik yang terjadi di kampungnya. Saat ini, kata dia, yang sedang dikembangkan dari aspek kulinernya, sehingga ada peluang dalam meningkatkan perekonomian di wilayah itu.

“Jadi, masyarakat bisa lebih maju dan mandiri. Ada penghasilan dari sini,”  kata dia.


×