selama pertandingan sepak bola leg pertama babak 16 besar Liga Eropa UEFA antara Slavia Praha dan Glasgow Rangers di stadion Eden di Praha, Republik Ceko, Kamis, 11 Maret 2021. | AP/Petr David Josek
20 Apr 2021, 11:04 WIB

Huru-hara Liga Super Eropa

UEFA mengeluarkan pernyataan resmi mengecam rencana liga sempalan tersebut.

MADRID — Pentas sepak bola Eropa gempar sepanjang Ahad (18/4), setelah rumor yang terendus sejak beberapa tahun silam menjadi kenyataan. Sejumlah klub tradisional Eropa yang punya sejarah dan basis massa besar di dunia memproklamasikan munculnya UEFA Super League atau Liga Super Eropa.

Mulai dari otoritas penyelenggara liga domestik, asosiasi sepak bola, hingga Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) terpaksa mengeluarkan pernyataan resmi mengecam rencana liga sempalan tersebut. Sebab, Liga Super Eropa ini dianggap pesaing nyata Liga Champions, kompetisi teratas antarklub Eropa yang berada di bawah naungan UEFA.

Ancaman keras dari UEFA terhadap klub-klub yang menginisiasi dan membentuk kompetisi tersebut seolah tidak digubris. Padahal, ancaman tersebut begitu keras, klub-klub peserta tidak akan diperkenankan merumput di kompetisi domestik, Eropa, dan internasional. Para pemain di klub-klub tersebut juga tidak diberikan kesempatan untuk memperkuat negaranya masing-masing di level internasional.

Langkah ini pun disepakati oleh para penyelenggara kompetisi domestik dan asosiasi negara, mulai dari Liga Primer Inggris dan FA, La Liga dan RFEF, hingga Lega Serie A dan FIGC. Dukungan dari Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) dan enam konfederasi juga kuat. UEFA siap menempuh langkah apa pun untuk menghentikan gelaran Liga Super Eropa.

Terkait

"Kami akan tetap bersatu dan melakukan apa pun untuk menghentikan proyek sinis tersebut, proyek yang lebih banyak berisikan kepentingan-kepentingan segelintir klub," demikian pernyataan resmi UEFA.

Di sisi lain, klub-klub pendiri Liga Super Eropa tetap bersikukuh untuk merealisasikan rencana kompetisi tersebut. Mereka berdalih ini bentuk tanggung jawab dari 12 klub besar Eropa untuk membawa sepak bola ke level lebih tinggi.

"Sepak bola satu-satunya olahraga global yang ditonton lebih dari empat miliar orang. Sudah menjadi tanggung jawab kami sebagai klub-klub besar, untuk menjawab gairah mereka akan olahraga ini," kata Presiden Real Madrid Florentino Perez yang menjadi ketua liga ini, dalam keterangan resminya.

Liga Super Eropa akan melibatkan 20 tim dengan 15 tim peserta tetap dan lima tim dari kualifikasi setiap tahun. Seluruh tim peserta akan dibagi ke dalam dua grup yang masing-masing berisi 10 tim. Pertandingan kandang dan tandang akan dilakukan pada babak perempat final dan semifinal, sementara final akan dilangsungkan di tempat netral.

Liga ini dilaporkan dapat menghasilkan 3,1 miliar pound atau Rp 62,4 triliun. Bandingkan dengan distribusi hadiah uang dan hak siar televisi oleh UEFA kepada klub-klub yang berpartisipasi dalam semua kompetisi Eropa setiap tahun sebesar 3 juta pound (Rp 60,5 triliun).

Madrid menjadi salah satu inisiator atau klub pendiri dari Liga Super Eropa. Selain Madrid, ada 11 klub lain: enam dari Inggris, tiga mewakili Italia, dan dua klub dari Spanyol. Dari Liga Primer Inggris, ada Manchester United, Manchester City, Liverpool, Arsenal, Chelsea, dan Tottenham Hotspur. Italia diwakili Juventus, Inter Milan, dan AC Milan. Kemudian ada Barcelona dan Atletico Madrid bersama Madrid dari Spanyol.

 
Madrid menjadi salah satu inisiator atau klub pendiri dari Liga Super Eropa.
 
 

Dari lima liga top Eropa, hanya klub-klub besar dari Liga Jerman dan Liga Prancis, termasuk Bayern Muenchen dan Paris Saint-Germain (PSG), yang menolak bergabung dalam pembentukan kompetisi ini. Kabarnya, ide pembentukan kompetisi yang mempertemukan klub-klub elite Eropa ini datang dari pemilik Liverpool John W Henry dan pemilik Manchester United Joel Glazer yang disambut baik para presiden klub lainnya.

Seperti dilansir New York Times, ide pembentukan Liga Super Eropa ini tidak terlepas dari upaya klub-klub besar tersebut untuk bisa menyeimbangkan neraca keuangan, terutama pasca-tekanan hebat terhadap keuangan klub dalam satu setengah tahun terakhir akibat pandemi Covid-19.

Berdasarkan catatan salah satu laman yang mengupas ekonomi dan bisnis sepak bola, 12 klub pendiri Liga Super Eropa mengalami total kerugian mencapai 1,2 miliar poundsterling (Rp 24,2 triliun) pada musim 2019/2020 yang jumlahnya terus bertambah. Potensi untuk mendapatkan kucuran dana segar pun datang dari kemungkinan dibentuknya kompetisi baru, yang lebih menjanjikan secara finansial.

Pembicaraan rahasia telah berlangsung selama bertahun-tahun tentang menghasilkan pot hadiah yang lebih besar untuk tim-tim terbesar, tetapi sebuah rencana telah dipercepat selama setahun terakhir. Skema yang ditanggung oleh perusahaan investasi AS JP Morgan akan menggunakan format NBA, merilis hibah infrastruktur mulai dari 89 juta pound hingga 310 juta pound per klub yang terlibat untuk menutupi kerugian selama Covid-19.

Selain investasi dari JP Morgan, kucuran dana dari hak siar juga diandalkan untuk bisa menambah pundi-pundi kekayaan dari klub-klub tersebut. DAZN, yang saat ini memegang lisensi Liga Italia, dikabarkan siap mengambil hak siar Liga Super Eropa tersebut.

Belum lagi dengan potensi pengiklan dari berbagai sektor. Rencananya setiap laga Liga Super Eropa akan digelar pada pertengahan pekan sehingga tidak akan mengganggu kompetisi domestik, yang biasanya digelar pada akhir pekan.


×