Joan Laporta, Presiden Barcelona FC | EPA-EFE/Alejandro Garcia
19 Apr 2021, 10:56 WIB

Era Baru Barcelona?

Laporta bersama Barcelona akan kembali ke era kejayaan dengan mengumpulkan trofi demi trofi.

OLEH REJA IRFA WIDODO

Joan Laporta saat ini mungkin tengah membusungkan dada. Presiden baru Barcelona itu menyodorkan bukti instan dari janji kampanyenya sebelum terpilih menjadi orang nomor satu di Camp Nou. Laporta menegaskan, bersamanya Barcelona akan kembali ke era kejayaan dengan mengumpulkan trofi demi trofi.

Ahad (18/4) dini hari tadi, Barcelona baru saja menggenggam gelar juara Copa del Rey 2020/2021. Lionel Messi dkk menaklukkan Athletic Bilbao 4-0 di La Cartuja, Sevilla. Bek Barcelona Gerard Pique mengatakan, ini trofi paling bergengsi yang pernah didapatkan Blaugrana, tapi kemenangan ini memiliki arti begitu besar. Bagi Pique, ini bukanlah akhir, melainkan awal.

Ini memang awal baru bagi Barcelona, setidaknya untuk pelatih Ronald Koeman ataupun Laporta. Bagi kedua sosok tersebut, Copa del Rey musim ini adalah trofi pertama mereka sejak resmi kembali menjadi bagian klub Katalunya tersebut pada periode kedua. Pada periode pertama Koeman berstatus pemain Barcelona yang meraih sejumlah gelar bergengsi. Laporta juga sudah merasakan hal serupa saat duduk sebagai presiden klub pada 2003 sampai 2010.

Terkait

Lantas, apakah gelar ini pertanda Barcelona memulai kembali era kejayaan mereka? Buat saya, terlalu dini untuk menyatakannya. Saya lebih setuju menyebut ini pijakan awal Barcelona melesat lebih tinggi.

Terlepas dari status Barcelona sebagai tim tersukses di Copa del Rey dengan torehan 31 koleksi trofi, gelar juara musim ini terasa begitu istimewa apabila ingatan kita ditarik kembali pada akhir musim lalu. Blaugrana digusur Real Madrid dari puncak klasemen sementara pada 10 laga terakhir La Liga. Messi dkk akhirnya harus puas finis di peringkat kedua La Liga. Blaugrana terhenti di perempat final Copa del Rey dan puncaknya dipermalukan Bayern Muenchen 2-8 di perempat final Liga Champions.

Barcelona berada di titik terendah. Torehan nirgelar pada sepanjang musim lalu menjadi konsekuensi logis dari tak meyakinkannya penampilan mereka awal musim ini. Dari delapan laga awal La Liga, Barcelona memetik tiga kemenangan, tiga kekalahan, dan dua hasil imbang. Inkonsistensi menjadi pekerjaan rumah terbesar Koeman. 

Masalah internal klub tampaknya menjadi penyebab terbesarnya. Konflik pemain kunci dengan Josep Maria Bartomeu yang saat itu menjadi presiden meletup keluar. Puncaknya saat Messi menyatakan ingin pergi, tapi kemudian mengurungkan niat.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh FC Barcelona (fcbarcelona)

Kusutnya problematika itu perlahan terurai dengan mundurnya Bartomeu dari kursi presiden dan terpilihnya Laporta menjadi orang nomor satu. Sinyal konsistensi mulai ditunjukkan Barcelona meskipun tersingkir di babak 16 besar Liga Champions. Koeman juga perlahan keluar dari tekanan meski awalnya dikritik karena keputusan membuang Luis Suarez dan tak konsistennya penampilan Blaugrana.

Tantangan terbesar adalah menjaga momentum juara Copa dan meneruskannya di delapan laga sisa La Liga Spanyol musim ini. Meski duduk di peringkat ketiga, Barcelona masih memiliki peluang untuk juara karena hanya terpaut dua poin dari Atletico Madrid duduk di peringkat teratas. Jika finis nomor satu pada akhir musim, fan Barcelona bolehlah mulai bermimpi masa kejayaan bergelimang trofi akan kembali terulang.


×