Cover Islam Digest edisi 18 April 2021 Fath Makkah. Saat berhasil menguasai Makkah, Rasulullah SAW mengampuni seluruh Quraisy. Fath Makkah menjadi penaklukkan yang penuh moral dan kasih sayang. | Islam Digest/Republika
18 Apr 2021, 10:04 WIB

Menjemput Kemenangan dalam Fath Makkah

Beberapa peristiwa terjadi sebelum pelaksanaan misi membebaskan Kota Makkah.

OLEH HASANUL RIZQA

Perjanjian Hudaibiyah menampakkan dampak positif kepada kaum Muslimin. Seperti yang telah disepakati, Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya tidak bisa melaksanakan ziarah ke Baitullah pada tahun ketika perjanjian tersebut ditandatangani. Akan tetapi, mereka dapat melakukan ibadah itu setahun kemudian.

Inilah yang disebut sebagai Umratul Qadha atau umrah yang tertunda. Pada tahun ketujuh Hijriah, Rasulullah SAW berangkat bersama rombongan Muslimin ke Makkah guna menunaikan ibadah tersebut.

Demi mematuhi Perjanjian Hudaibiyah, orang-orang Quraisy pun menyingkir sejenak ke perbukitan. Dalam bayangan mereka, Nabi SAW dan para sahabatnya mengalami kepayahan setelah bertahun silam diusir dari kota ini.

Terkait

Faktanya, kaum musyrikin seakan tak percaya dengan mata kepala sendiri. Mereka menyaksikan betapa luar biasa banyak jumlah pengikut Rasulullah SAW. Menurut berbagai riwayat, total jamaah umrah ini mencapai 2.000 orang atau lebih banyak 400 orang dibandingkan rombongan tahun sebelumnya.

Tidak hanya dari segi kuantitas. Kualitas Muslimin pun sungguh-sungguh menakjubkan. Umat Islam begitu taat kepada Nabi SAW. Beliau pun hanya menyuruh kepada perkara-perkara yang baik dan mencegah dari perbuatan mungkar (amar ma’ruf nahi munkar).

Alangkah besarnya pengaruh yang ditinggalkan oleh pemandangan demikian. Segala yang diajarkan Islam sesungguhnya telah mengangkat martabat manusia ke tingkat yang paling tinggi. Maka, tak sedikit tokoh Quraisy yang terpesona. Beberapa bahkan berpaling dari kemusyrikan dan menyatakan iman serta Islam. Di antaranya adalah Khalid bin Walid, Amr bin Ash, dan Utsman bin Talha.

 
Usai Umratul Qadha, sebenarnya Rasulullah SAW dan Muslimin menyadari betapa lemahnya kini kedudukan Quraisy.
 
 

Usai Umratul Qadha, sebenarnya Rasulullah SAW dan Muslimin menyadari betapa lemahnya kini kedudukan Quraisy. Bagaimanapun, beliau belum merasa perlu untuk langsung membebaskan Makkah. Lagipula, Perjanjian Hudaibiyah baru setahun berjalan. Dari pihak umat Islam, sama sekali tak tebersit untuk melanggar kesepakatan damai yang telah dibuat.

Justru, yang kerap mencoreng perdamaian adalah kubu musyrikin. Misalnya, pembunuhan yang dilakukan elite Bani Sulaim terhadap puluhan dai yang hendak mengajarkan Islam kepada masyarakat setempat. Konflik-konflik kecil itu segera dapat diatasi. Akan tetapi, ancaman terbesar terhadap Muslimin belum juga reda, khususnya yang datang dari arah utara.

Setelah Perjanjian Hudaibiyyah, Rasullulah SAW mengirimkan surat-surat dakwah sekaligus berdiplomasi kepada para penguasa negeri sekitar Jazirah Arab. Di antara para penerima surat itu ialah kaisar Romawi Timur (Bizantium) Heraklius, raja Persia Kisra, dan raja Mesir Muqauqis. Korespondensi juga ditujukan kepada gubernur Syam (Suriah) yang bernama Hanits bin Abi Syamr al-Ghassani.

 
Jalannya Perang Mu’tah tidak sebanding, yakni 3.000 Muslimin melawan 200 ribu pasukan koalisi Bizantium.
 
 

Dalam perjalanan, di sekitar daerah Mu’tah, al-Harits bin Umair selaku utusan Nabi SAW untuk Syam dicegat penguasa setempat, yakni Syurahbil bin ‘Amr al-Ghassani. Bahkan, Ibnu Umair lantas dibunuh dengan kejamnya. Pada tahun yang sama, para delegasi Rasulullah SAW untuk Banu Sulayman dan Dhat al Talh juga dibunuh pemimpin lokal.

Setelah menerima kabar ini, Nabi SAW menyusun pasukan untuk bertolak ke Mu’tah. Pasukan tersebut dipimpin Khalid bin Walid yang baru tiga bulan memeluk Islam.

Jalannya Perang Mu’tah tidak sebanding, yakni 3.000 Muslimin melawan 200 ribu pasukan koalisi Bizantium. Namun, atas izin Allah SWT, strategi yang diterapkan Khalid terbukti sukses. Muslimin berhasil memukul mundur ribuan prajurit Romawi.

photo
Saat berhasil menguasai Makkah, Rasulullah SAW mengampuni seluruh Quraisy. Fath Makkah menjadi penaklukkan yang penuh moral dan kasih sayang. - (EPA)

Peristiwa al-Watir

Pulanglah Khalid bin Walid dan pasukannya yang tersisa ke Madinah. Kabar ini sampai pula ke Makkah. Dalam penilaian orang-orang Quraisy, Muslimin telah kalah perang. Artinya, umat Islam tidak lagi kuat secara militer. Maka, inilah saatnya menyerang: abaikan saja Perjanjian Hudaibiyah.

Di antara butir-butir kesepakatan Hudaibiyah adalah suku-suku Arab manapun bebas bersekutu kepada salah satu kubu, apakah Nabi Muhammad SAW ataukah Quraisy. Ketika itu, Bani Khuzaa telah bergabung dengan kubu Rasulullah SAW, sedangkan Bani Bakr dengan Quraisy.

Sebenarnya, sudah ada permusuhan yang lama antara Khuzaa dan Bakr. Namun, konflik itu mereda sejak masing-masing berkawan dengan pihak-pihak yang terikat Perjanjian Hudaibiyah.

Pada tahun kedelapan Hijriah, pihak Bani Bakr menyerang Bani Khuzaa yang sedang berada di oasis sendiri yang bernama al-Watir. Tak sedikit orang Khuzaa yang terbunuh akibat serangan itu.

 
Pada tahun kedelapan Hijriah, pihak Bani Bakr menyerang Bani Khuzaa yang sedang berada di oasis sendiri yang bernama al-Watir.
 
 

Seorang tokoh Khuzaa, Amr bin Salim, lekas memacu kudanya ke Madinah untuk melapor kepada Rasulullah SAW. Setelah mendengarkan keterangannya, beliau bersabda, “Amr bin Salim, engkau mesti dibela.”

Di Makkah, kaum Quraisy justru ciut nyalinya. Kini, mereka mulai mencemaskan dampak dari peristiwa berdarah di al-Watir. Para pemuka setempat lantas mengutus Abu Sufyan bin Harb untuk menemui Nabi SAW di Madinah. Tujuannya adalah memperbarui dan meneruskan perjanjian gencatan senjata.

Namun, Nabi SAW tidak mengucapkan sepatah kata pun. Abu Sufyan lantas menemui Abu Bakar dan Umar bin Khattab dengan harapan kedua sahabat itu dapat membujuk beliau. Akan tetapi, gayung tak bersambut. Kembalilah dia ke Makkah dengan perasaan kecewa.

Sesudah itu, Rasulullah SAW secara diam-diam menyusun taktik pemberangkatan pasukan Muslim ke Makkah. Seorang sahabat yang mengetahui hal ini ialah Hathib bin Abu Balta'ah. Ia lalu menyusun surat peringatan kepada Quraisy. Isinya membeberkan rencana Nabi SAW yang hendak segera menyerang Makkah.

Surat yang dibuat Hathib itu akhirnya terungkap. Ali bin Abi Thalib menuturkan, beberapa waktu sebelum Pembebasan Makkah, dia bersama dengan Zubair dan Miqdad ditugaskan Nabi SAW untuk berangkat ke perkebunan Khakh. “Di sana, kalian akan bertemu seorang wanita yang membawa sepucuk surat. Ambil surat itu darinya,” demikian pesan Rasulullah SAW.

 
Di sana, kalian akan bertemu seorang wanita yang membawa sepucuk surat. Ambil surat itu darinya.
 
 

Ternyata, dari tangan perempuan itu ada sepucuk surat yang tertanda “dari Hathib bin Abu Balta'ah kepada para penduduk musyrikin di Makkah.” Di dalamnya, si penulis pun membeberkan beberapa rahasia Nabi SAW. Banyak sahabat yang merasa marah dengan “pengkhianatan” Hathib.

Akan tetapi, Rasulullah SAW memaafkannya. “Dia (Hathib) adalah salah seorang yang pernah mengikuti Perang Badar. Tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah telah mengangkat derajat semua kaum Muslimin yang mengikuti Perang Badar? Sampai-sampai Allah berfirman, Berbuatlah sekehendak hati kalian! Aku (Allah) telah mengampuni kalian,” sabda beliau.

Tak lama berselang, turunlah wahyu dari Allah, yakni surah al-Mumtahanah ayat pertama.

Pembebasan dimulai

Situasinya sekarang, Rasulullah SAW sudah menyiapkan kekuatan untuk menguasai Makkah. Sementara, orang-orang Quraisy pun telah mendapatkan kabar tentang rencana Muslimin dari Madinah itu. Moral penduduk musyrikin Makkah kian merosot drastis.

Apalagi, sekutu-sekutu Muslimin di luar Makkah, semisal Bani Hanifah, mulai menunjukkan dukungan nyata. Pemimpin Suku Hanifah, Tsumamah bin Utsal, masuk Islam.

Atas inisiatifnya sendiri, ia lantas menolak berhubungan niaga dengan masyarakat Makkah. Boikot ekonomi yang dilancarkannya berakibat fatal bagi kaum Quraisy. Mereka kesusahan, bahkan dibayang-bayangi ancaman kelaparan.

Petinggi Quraisy lalu menulis surat kepada Nabi SAW memohon agar Tsumamah menghentikan boikot tersebut. Beliau berhati lembut. Kepada pemimpin Bani Hanifah itu, Rasulullah SAW menyuruh agar embargo disetop. Walaupun distribusi pangan ke Makkah telah kembali normal, wibawa kaum Quraisy sudah runtuh sama sekali di hadapan Muslimin.

Pada hari itu, tanggal 10 Ramadhan tahun kedelapan Hijriah. Rasulullah SAW mulai bertolak dari Madinah dengan diiringi para pengikutnya. Kepemimpinan atas Kota Nabi untuk sementara diamanahkan kepada Kultsum bin Husain.

Rasulullah SAW mengirimkan surat kepada para pemimpin kabilah-kabilah Arab di sekitar Madinah. Mereka berasal dari Suku Aslam, Ghiffar, Mazinah, Juhainah, dan sebagainya. Semuanya bertemu di Zhahran, sebuah daerah antara Madinah dan Makkah. Rombongan umat Islam ini berjumlah sekitar 10 ribu orang.

Berita mengenai hal itu belumlah sampai ke telinga elite Quraisy. Rupanya, mereka masih berupaya untuk melobi Nabi SAW agar memperbarui Perjanjian Hudaibiyah dan mengabaikan tragedi berdarah di al-Watir.

 
Belum sempat kabur, tiga petinggi Quraisy itu ditangkap para sahabat Nabi SAW. Mereka lalu digelandang ke hadapan Rasulullah SAW.
 
 

Berangkatlah tiga orang utusan Quraisy, yakni Abu Sufyan, Hakim bin Hazam, dan Badil bin Waraqa'. Ketika lewat dekat Zhahran, ketiganya melihat Muslimin telah mendirikan tenda di sana.

Belum sempat kabur, tiga petinggi Quraisy itu ditangkap para sahabat Nabi SAW. Mereka lalu digelandang ke hadapan Rasulullah SAW. Pada saat itulah, Abu Sufyan menyatakan diri masuk Islam.

Sesudah itu, di hadapan mualaf tersebut Nabi SAW bersabda, “Siapa saja yang masuk rumah Abu Sufyan, ia aman. Siapa saja menutup pintunya, ia pun aman. Siapa saja memasuki Masjidil Haram, ia juga aman.”

photo
Saat berhasil menguasai Makkah, Rasulullah SAW mengampuni seluruh Quraisy. Alhasil, Fath Makkah menjadi penaklukkan yang penuh moral dan kasih sayang. - (DOK REUTERS Amr Abdallah Dalsh)

Teladan Nabi di Fath Makkah

Penaklukan Makkah terjadi pada 10-20 Ramadhan tahun kedelapan Hijriah. Melalui misi tersebut, Nabi Muhammad SAW menguasai kepemimpinan atas kota tempat Masjidil Haram berada.

Sangat jauh dari kesan para penguasa yang bermental jahiliah, Rasulullah SAW justru memaafkan orang-orang yang dahulu pernah menindasnya. Tidak ada dendam sama sekali.

Nabi SAW memasuki Makkah al-Mukarramah dengan menaiki unta beliau yang bernama al-Qashwa. Di depan Ka’bah, wajah beliau tertunduk. Dari lisannya, keluar ungkapan syukur ke hadirat Allah SWT.

Nabi SAW lantas mengusap Hajar al-Aswad seraya bertakbir. Diiringi para pengikutnya, Rasulullah SAW kemudian bertawaf tujuh kali putaran. Setelah itu, beliau turun dari untanya dan mendekati Maqam Ibrahim. Di sana, sang khatamul anbiya mendirikan shalat dua rakaat.

Sesudahnya, Nabi SAW memerintahkan supaya gambar dan lukisan pada dinding Ka’bah dihilangkan. Demikian pula dengan berhala-berhala di sekeliling bangunan suci tersebut. Benda-benda mati itu sebelumnya dipuja-puja kaum musyrikin.

photo
Fath Makkah menjadi penaklukkan yang penuh moral dan kasih sayang. - (EPA)

Dengan tongkat di tangannya, Rasulullah SAW menunjuk pada sesembahan kafirin itu seraya membacakan surah al-Israa’ ayat 81. Artinya, “Dan katakanlah, 'Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.’ Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.”

Setelah menyuruh Bilal untuk mengumandangkan azan dari atas Ka’bah, Nabi SAW berpesan kepada khalayak, “Wahai sekalian orang-orang Quraisy! Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian keangkuhan jahiliyah dan berbangga dengan nenek moyang. Semua manusia berasal dari Adam, dan Adam itu diciptakan dari tanah.”

 
Janganlah engkau takut, sesungguhnya aku adalah anak seorang perempuan Quraisy yang makan dendeng di Makkah.
 
 

Dikisahkan, ketika Rasulullah SAW dan pasukannya memasuki Makkah, ada seorang warga Quraisy yang menatap beliau dengan raut wajah ketakutan. Begitu melihatnya, Nabi SAW pun berkata kepadanya, “Janganlah engkau takut, sesungguhnya aku adalah anak seorang perempuan Quraisy yang makan dendeng di Makkah.”

Ya, sewaktu dalam posisi kemenangan, beliau merangkul orang-orang yang dahulunya berbuat jahat kepada diri dan umatnya. Dalam kesempatan itu, beliau SAW berkata kepada penduduk Makkah, “Apa yang akan aku katakan dan lakukan menurut perkiraan kalian?”

Mereka menjawab, “Engkau adalah saudara kami yang pemurah dan putra paman kami yang penyayang.”

Beliau SAW kemudian bersabda, “Aku akan melakukan apa yang dilakukan saudaraku, Nabi Yusuf.”

Doa Nabi Yusuf diabadikan dalam Alquran surah Yusuf ayat ke-92. Artinya, “Dia (Yusuf) berkata: ‘Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.”

Mendengar pernyataan Nabi SAW itu, legalah hati orang-orang Makkah. Mereka kembali ke rumah masing-masing dengan suka cita. Yang terjadi kemudian, seluruhnya memeluk Islam.


Terkini

×