Jamaah haji menjaga jarak saat melaksanakan tawaf di Masjidil Haram, Makkah, 2020. Perjanjian Hudaibiyah merupakan awal dari peristiwa besar Pembebasan Kota Makkah. | Reuters
18 Apr 2021, 09:20 WIB

Telusur Sejarah Fath Makkah

Perjanjian Hudaibiyah merupakan awal dari peristiwa besar Pembebasan Kota Makkah.

OLEH HASANUL RIZQA

Rasulullah SAW membebaskan Makkah al-Mukarramah pada tahun kedelapan Hijriah, tepatnya pada bulan Ramadhan. Sejarah mencatat, Fath Makkah merupakan penaklukan yang penuh moral dan kasih sayang. Ada banyak hikmah di balik peristiwa ini.

Menjelang Fath Makkah

Ramadhan merupakan bulan yang istimewa. Allah SWT mewajibkan kaum Muslimin untuk berpuasa pada bulan ini. Alquran pun diturunkan pertama kali di bulan suci Ramadhan, tepatnya pada malam Lailatul Qadr.

Terkait

Dalam sejarah, berbagai peristiwa besar pernah terjadi pada bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriah ini. Di antaranya adalah Pembebasan Makkah (Fath Makkah). Misi yang dipimpin Rasulullah SAW itu berlangsung pada tanggal 10-20 Ramadhan tahun kedelapan Hijriah.

Keadaan musyrikin Makkah saat itu cenderung tidak berdaya. Mereka telah mengalami kemerosotan yang luar biasa dalam berbagai bidang. Sementara itu, pengaruh Nabi SAW makin kuat. Para pengikutnya tidak hanya terpusat di Madinah al-Munawwarah, melainkan tersebar di seluruh Jazirah Arab. Alhasil, arogansi kafir Quraisy dari waktu ke waktu kian meredup.

Fath Makkah merupakan puncak dari rentetan peristiwa penting yang terjadi sejak Perjanjian Hudaibiyah. Bermula dari mimpi Nabi SAW pada tahun keenam Hijriah. Suatu hari, beliau menyampaikan kepada para sahabat bahwa telah mendapatkan ilham dari Allah SWT melalui mimpi yang hakiki.

Dalam mimpinya itu, Muslimin dapat berhaji ke Baitullah, Makkah, dengan aman tenteram. Mendengar itu, mereka serentak mengucapkan alhamdulillah. Kabar gembira itu pun langsung tersebar ke seluruh Madinah.

Akan tetapi, masih tersisa satu pertanyaan. Dengan cara apakah Rasulullah SAW dan Muslimin memasuki Makkah? Apakah melalui pertempuran? Ataukah justru orang-orang Quraisy bertekuk lutut sehingga membukakan jalan?

 
Masih tersisa satu pertanyaan. Dengan cara apakah Rasulullah SAW dan Muslimin memasuki Makkah?
 
 

Nabi SAW menunjukkan bahwa tidak ada rencana berperang. Sampai pada bulan Dzulhijjah, beliau mengumumkan keinginannya untuk berhaji. Sekitar 1.400 orang sahabat, baik dari kalangan Anshar maupun Muhajirin, menyertai perjalanan Rasulullah SAW.

Dalam rihlah ini, beliau dan Muslimin seluruhnya mengenakan pakaian ihram. Itu sebagai tanda bahwa kedatangannya bukan untuk berkonflik, tetapi semata-mata berziarah ke Masjidil Haram.

Apalagi, Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang dimuliakan umumnya orang Arab. Berperang dalam bulan ini sangat terlarang. Kalaupun memaksakan diri untuk menyerang rombongan Nabi SAW, kaum Quraisy tidak akan didukung suku-suku Arab lainnya.

Said Ramadhan al-Buthy menuturkan dalam Fiqh as-Sirah an-Nabawiyyah, Rasulullah SAW dan Muslimin setelah bertolak dari Madinah singgah sebentar di Dzul Hulaifah. Beliau lalu mengutus seorang lelaki bernama Basyar bin Sufyan untuk mencari tahu keadaan Makkah. Kemudian, perjalanan dilanjutkan lagi. Di daerah Ghadir Asythath, Basyar kembali menemui Nabi SAW untuk melaporkan tugasnya memata-matai kaum Quraisy.

“Orang-orang Quraisy telah berkumpul untuk menghadapimu. Bahkan, orang-orang Ahabisy juga telah ikut serta untuk melawanmu. Mereka akan menyerang dan menghalangimu dari Baitullah,” katanya.

 
Orang-orang Quraisy telah berkumpul untuk menghadapimu. Bahkan, orang-orang Ahabisy juga telah ikut serta untuk melawanmu.
 
 

Sesudah menerima kabar dari Basyar, Nabi SAW mengumpulkan para sahabatnya. Dari bermusyawarah, disepakatilah untuk meneruskan perjalanan. Seorang lelaki dari Bani Aslam ditugaskan untuk memandu rombongan besar ini agar tidak melewati jalan yang biasa dilalui musuh.

Mulanya perjanjian

Ketika tiba di Tsaniyyah Mirar, tiba-tiba unta yang ditunggangi Rasulullah SAW sempat mogok. Setelah beliau sendiri yang menghelanya, barulah hewan itu dapat berjalan lagi. Rombongan ini lantas sampai di kawasan Hudaibiyah, tepatnya dekat sebuah sumur. Sumber air yang sebelumnya mengering kini menjadi berlimpah air setelah dihampiri Nabi SAW, atas izin Allah SWT.

Seorang lelaki bernama Budail bin Warqa mengabarkan kepada beliau tentang ancaman Quraisy. Namun, Nabi SAW menjawab, “Sungguh, kami datang tidak untuk memerangi siapapun, tetapi kami datang untuk berziarah ke Baitullah.” Budail lalu menemui orang-orang Quraisy di Makkah untuk menyampaikan perkataan Rasulullah SAW itu.

Kaum Quraisy lantas mengutus Urwah bin Mas’ud kepada Nabi SAW. Di hadapan beliau, ia bersikap arogan sehingga sempat menyulut emosi para sahabat Rasul SAW. Walaupun begitu, tak sampai terjadi kekerasan dalam pertemuan ini.

Begitu kembali kepada kaumnya di Makkah, Urwah berkata, “Demi Tuhan, aku telah melihat begitu banyak raja, bahkan aku pernah bertemu Kisar, Kisra, dan Raja Negus. Namun, tidak pernah kutemukan seorang raja pun yang begitu diagungkan para sahabatnya seperti penghormatan yang ditunjukkan sahabat-sahabat Muhammad kepadanya!”

 
Demi Tuhan, aku telah melihat begitu banyak raja, bahkan aku pernah bertemu Kisar, Kisra, dan Raja Negus. Namun, tidak pernah kutemukan seorang raja pun yang begitu diagungkan para sahabatnya seperti penghormatan yang ditunjukkan sahabat-sahabat Muhammad kepadanya!
 
 

Ia menyarankan orang-orang Quraisy agar tidak menyerang Muslimin. Mereka masih ragu-ragu sehingga mengutus Suhail bin Amr. Ia diminta untuk mengadakan perjanjian tertulis dengan Rasulullah SAW.

Sesampainya di Hudaibiyah, Suhail berkata kepada Nabi SAW, “Izinkan aku untuk menulis perjanjian antara kami dan kalian.”

Rasulullah SAW memanggil Ali bin Abi Thalib sebagai juru tulisnya. “Tulislah, Bismillahirrahmanirrahim,” kata beliau.

Namun, Suhail langsung menyela, “Demi Tuhan, kami tidak mengenal siapa ar-Rahman itu. Tulis saja Bismika Allahumma!”

photo
Sebelum Fath Makkah, kaum Quraisy terikat Perjanjian Hudaibiyah dengan Nabi Muhammad SAW. - (EPA)

Para sahabat memprotes keinginan utusan Quraisy itu, tetapi Nabi SAW mengatakan, “Tulislah, Bismika Allahumma.”

Beliau lalu mendiktekan kepada Ali agar menulis, “Inilah perjanjian yang telah ditetapkan Muhammad Rasulullah.”

Belum tuntas perkataan Nabi SAW, lagi-lagi Suhail menukas, “Jangan tulis, ‘Muhammad Rasulullah'. Kalau mengakui bahwa kau utusan Allah, tentu kami tidak akan menghalangimu untuk datang ke Baitullah!”

“Demi Allah, sungguh aku adalah utusan Allah walaupun kalian mendustakanku,” kata Nabi SAW. Beliau lalu memerintahkan kepada Ali, “Tulislah: Muhammad putra Abdullah.”

Dalam riwayat Imam Muslim, disebutkan bahwa Ali berkeberatan untuk menghilangkan lafaz Rasulullah pada naskah perjanjian ini. “Tidak, demi Allah aku tidak akan menghapusnya!” seru Ali di hadapan Suhail. Namun, Nabi SAW menyuruh Ali untuk menunjukkan kepadanya di mana letak lafaz tersebut. Setelah itu, beliau sendiri yang menghapusnya.

Perundingan berlangsung alot. Bagaimanapun, tercapailah kemudian lima butir kesepakatan.

Pertama, gencatan senjata antara kedua belah pihak selama 10 tahun. Kedua, siapapun yang datang dari pihak musyrikin kepada Nabi SAW tanpa izin keluarganya, maka harus dikembalikan ke Makkah. Namun, bila ada di antara kaum Muslimin yang murtad dan mendatangi musyrikin, maka ia tidak akan dikembalikan.

Ketiga, suku-suku Arab manapun diperbolehkan mengikat perjanjian damai dan bergabung dengan salah satu dari kedua pihak.

Keempat, Muslimin pada tahun ketika kesepakatan ini dibuat tidak boleh memasuki Makkah. Akan tetapi, mereka boleh mendatangi Baitullah pada tahun depan dengan syarat, hanya bermukim selama tiga hari dan tidak membawa senjata kecuali pedang yang tersarung. Kelima, perjanjian ini diikat atas dasar kesediaan penuh untuk melaksanakannya.

photo
Fath Makkah atau Pembebasan Kota Makkah terjadi pada bulan suci Ramadhan tahun kedelapan Hijriah. - (DOK AP/Amr Nabil)

Nubuat kemenangan

Beberapa sahabat, seperti Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab, sempat kecewa dengan isi kesepakatan itu, terutama butir kedua dan keempat. Setelah perundingan selesai, Umar lalu mendekati Rasulullah SAW untuk menyampaikan kegelisahannya.

“Bukankah engkau berkata bahwa kita pasti akan mendatangi Baitullah dan melakukan tawaf di sana?” tanyanya.

“Benar, tetapi apakah aku mengatakan bahwa kau pasti akan mendatangi Baitullah pada tahun ini juga?” jawab Nabi SAW.

“Tidak.”

“Sungguh, engkau pasti akan mendatangi Baitullah dan melakukan tawaf di sana,” sabda beliau.

Umar kemudian menghampiri Abu Bakar. Sahabat yang bergelar ash-Shiddiq itu berupaya menenangkannya dengan menegaskan, Allah tidak akan mungkin mengabaikan utusan-Nya.

Tak lama berselang, turunlah surah al-Fath kepada Rasulullah SAW. Beliau lantas mengirimkan seseorang untuk membacakan surah tersebut di hadapan Umar. Sosok bergelar al-Faruq itu bergegas menemui sang Rasul dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kemenangan itu benar-benar akan terwujud?”

“Benar!” jawab beliau.

Maka tenanglah hati Umar.

Dalam perjalanan pulang ke Madinah, mungkin ada perasaan sendu di hati para sahabat. Bagaimanapun, janji kemenangan dari Allah dan Rasul-Nya menguatkan optimisme mereka. Selang beberapa waktu kemudian, barulah Muslimin dapat menangkap hikmah di balik Perjanjian Hudaibiyah.

Dengan adanya kesepakatan damai itu, sekat antara umat Islam dan musyrikin dapat luruh walaupun sejenak. Alhasil, kaum Muslimin dapat berdakwah kepada mereka tanpa dibayangi perasaan takut. Orang-orang kafir pun dapat mendengarkan Alquran berikut penjelasannya dari para dai Muslimin tanpa terhanyut stigma-stigma negatif tentang Islam.

Tentang keadaan pasca-Hudaibiyah ini, Ibnu Ishaq meriwayatkan penuturan az-Zuhri, “Ketika kesepakatan gencatan senjata (Perjanjian Hudaibiyah) berhasil dicapai dan perang urung berkobar, semua orang saling menjamin keamanan satu sama lain. Mereka saling bertemu, berbincang, dan berdebat.

Bahkan, tidak ada seorang pun yang berakal sehat dan membincangkan Islam kecuali dia akan memeluknya (menjadi Muslim). Hanya dua tahun usai Perjanjian Hudaibiyah, jumlah Muslimin telah menyamai atau bahkan melebihi jumlah sahabat yang masuk Islam sebelum perjanjian itu terjadi.”

 
Bahkan, tidak ada seorang pun yang berakal sehat dan membincangkan Islam kecuali dia akan memeluknya.
 
 

Kegemilangan itu telah ditegaskan dalam Alquran surah al-Fath ayat 27. Artinya, “Sungguh, Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, jika Allah menghendaki dalam keadaan aman, dengan menggundul rambut kepala dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan selain itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat (fathan qariiban).”

Sejarah membuktikan, fathan qariiban yang dimaksud dalam firman Allah Ta’ala itu terjadi pada bulan suci Ramadhan beberapa tahun berikutnya. Inilah mulanya Pembebasan Makkah yang penuh maslahat itu.


Terkini

×