Ada begitu banyak kisah bagaimana Rasulullah memaafkan kawan dan musuhnya. | Pixabay
18 Apr 2021, 03:25 WIB

Maaf dari Rasulullah

Ada begitu banyak kisah bagaimana Rasulullah memaafkan kawan dan musuhnya.

 

OLEH A SYALABY ICHSAN

Satu hari, seorang pembunuh dengan leher terikat didatangkan kepada Rasulullah SAW. Beliau pun memanggil wali orang yang terbunuh.

Rasulullah pun bertanya, “Apakah kamu mau memaafkannya?” Ia menjawab, “Tidak.”

Terkait

Beliau bertanya, “Apakah kamu mau mengambil diat?” Ia menjawab, “Tidak.”

Beliau bertanya, “Apakah kamu akan membunuhnya?” Ia menjawab, “Ya.”

Beliau pun bersabda, “Bawalah dia pergi.” 

Ketika wali itu berpaling, Rasulullah kembali menanyakan hal serupa. Hingga pada kali keempat, Nabi SAW bersabda, “Ingatlah. Sesungguhnya jika kamu memaafkannya, hal itu mengembalikan (menghapus) dosanya dan dosa temannya (orang yang terbunuh).” Wali orang yang terbunuh pun memaafkannya dengan menarik tali dari leher si pembunuh. (HR Muslim). 

Sifat pemaaf menjadi bagian dari akhlak yang mesti ditiru dari Rasulullah SAW. Ada begitu banyak kisah bagaimana Rasulullah memaafkan kawan dan musuhnya. Orang-orang musyrik dan ahlul kitab pernah mendapatkan maaf dari Rasulullah. Alih-alih dendam atas perlakuan mereka, Nabi SAW justru bersabar dan mendoakan mereka.

 
Seorang badui yang mengencingi masjid pernah membuat geram para sahabat.
 
 

Seorang badui yang mengencingi masjid pernah membuat geram para sahabat. Akan tetapi, Nabi SAW berkata, ”Biarkanlah dia dan siramkanlah setimba air ke air kencingnya karena sesungguhnya kalian diutus untuk mempermudah dan tidak diutus untuk mempersulit.” (HR Muslim). 

Demikian saat Rasulullah memaafkan Tsumamah bin Utsal, seorang raja Yamamah yang memimpin bani Hanifah. Arogansi Tsumamah menolak dakwah Rasulullah SAW. Tidak hanya menolak seruan Islam, Tsumamah bahkan berencana untuk membunuh Nabi SAW. 

Pada satu kesempatan, Tsumamah hampir membunuh Rasulullah. Namun, karena perlindungan Allah SWT, Rasulullah SAW berhasil selamat. Meski demikian, Tsumamah berhasil membunuh dan mencelakai beberapa sahabat.

Sampai pada satu waktu, Tsumamah berhasil ditangkap patroli kaum Muslimin di perbatasan Madinah saat hendak melakukan umrah di Makkah. Tsumamah pun diikat di salah satu pojok masjid. Tsumamah dihampiri Rasulullah.

Beliau SAW bertanya, “Apa yang kamu miliki wahai Tsumamah?” Pemimpin bani Hanifah itu menjawab, “Aku memiliki kebaikan, wahai Muhammad. Jika kamu membunuhku, kamu membunuh orang yang memiliki darah dan jika kamu memberi kenikmatan, kamu memberi kenikmatan kepada orang yang berterima kasih, dan jika kamu menginginkan harta, mintalah apa yang kamu inginkan.”

Rasulullah membiarkan Tsumamah. Dia pun memerintahkan para sahabat untuk memperlakukan Tsumamah dengan baik dan memberinya makanan dan susu.

 
Selama menjadi tawanan itu, Tsumamah menyaksikan betapa indah kehidupan yang dijalani kaum Muslimin.
 
 

Selama menjadi tawanan itu, Tsumamah menyaksikan betapa indah kehidupan yang dijalani kaum Muslimin. Hingga Rasulullah kembali bertanya kepada Tsumamah dengan dijawab hal yang sama.

Kali ketiga, Tsumamah menjawab, “Aku memiliki apa yang telah aku katakan kepadamu.” Rasulullah SAW pun memerintahkan untuk melepaskan Tsumamah hingga dia pergi ke sumur kecil di dekat masjid.

Dia pun mandi dan memasuki masjid untuk berikrar, “Aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah.” 

Memaafkan adalah pintu terbesar menuju terciptanya rasa saling mencintai di antara sesama manusia. Jika dicerca, perlakuan terbaik adalah membalasnya dengan memberi maaf dan perkataan yang baik. Jika ada yang berbuat jahat, balas dengan perbuatan baik. 

Berikut ini adalah hal yang diperintahkan Allah SWT dalam Alquran. “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia. Dan (sifat-sifat yang baik itu) tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Fushshilat: 34-35).

 
Menjadi pemaaf merupakan upaya seorang hamba meniru sifat al-‘Afuww dari Sang Khalik.
 
 

Menjadi pemaaf merupakan upaya seorang hamba meniru sifat al-‘Afuww dari Sang Khalik. Ibnu Atsir menjelaskan, di antara nama-nama Allah yang indah adalah al-‘Afuww yang berasal dari kata al-‘afw yang artinya membiarkan kesalahan atau dosa dan tidak memberikan sanksi atas kesalahan itu.

Makna aslinya adalah penghapusan. Imam Ghazali menjelaskan, “Al-‘Afuww adalah salah satu dari sifat-sifat Allah; artinya Zat yang menghapus kesalahan-kesalahan dan memaafkan maksiat-maksiat.” 

Al-Afuww hampir sama dengan al-Gafur tetapi tingkatannya lebih tinggi karena al-gufran memberikan arti ‘menutupi’, sedangkan, al-afw memberi arti ‘menghapus’. Menghapus lebih tinggi tingkatannya daripada sekadar menutupi. Wallahu a’lam.

(Sumber: Mahmud al-Mishri: Ensiklopedia Akhlak Muhammad SAW).


×