Sejumlah pekerja menyelesaikan pembuatan sepatu kulit di Pabrik Fortuna Shoes, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Rabu (31/3/2021). Berbagai jenis sepatu berbahan kulit tersebut telah menembus pasar ekspor di Belanda, Jerman, Prancis, Jepang, Korea dan S | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
16 Apr 2021, 03:50 WIB

Komoditas Dorong Ekspor Cetak Rekor

Meski nilai impor meningkat, tapi kenaikan ekspor lebih tinggi sehingga Indonesia surplus dagang.

JAKARTA -- Indonesia membukukan kinerja perdagangan yang positif pada Maret 2021. Nilai ekspor naik signifikan dibandingkan Februari 2021 (mtm) maupun Maret 2020 (yoy). Meski nilai impor turut meningkat, tapi kenaikan ekspor lebih tinggi sehingga Indonesia kembali meraih surplus dagang.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan, nilai ekspor Maret mencapai 18,35 miliar dolar AS atau tumbuh 20,31 persen dibandingkan Februari. Jika dibandingkan Maret 2020, kenaikannya mencapai 30,47 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, nilai ekspor tersebut mencatatkan rekor tertinggi sejak Agustus 2011. “Ekspor Maret ini tinggi sekali. Ini tertinggi sejak Agustus 2011. Pada waktu itu nilai ekspor kita sebesar 18,64 miliar dolar AS,” kata Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (15/4).

Suhariyanto memerinci, ekspor migas tercatat mencapai 910 juta dolar AS, naik 5,28 persen secara bulanan. Begitu pula ekspor nonmigas yang tembus 17,45 miliar atau tumbuh 21,21 persen. 

Terkait

Menurut Suhariyanto, peningkatan ekspor yang tinggi itu didorong oleh naiknya permintaan di berbagai negara. Di sisi lain, harga komoditas ekspor Indonesia ikut mengalami kenaikan. "Ekspor Maret sangat bagus bahkan lebih tinggi dari tahun 2019 ketika pandemi belum terjadi," katanya. 

Suhariyanto menambahkan, terdapat sejumlah catatan yang juga turut memengaruhi kinerja ekspor pada Maret 2021. Di antaranya, harga minyak mentah di pasar global mengalami kenaikan 5,20 persen dari bulan sebelumnya menjadi 63,5 dolar AS per barel. Harga komoditas batu bara juga mengalami kenaikan 9,43 persen dibandingkan dengan Februari 2021. Kenaikan harga juga terjadi untuk komoditas tembaga, alumunium, dan timah.

 
Ekspor Maret sangat bagus bahkan lebih tinggi dari tahun 2019 ketika pandemi belum terjadi
SUHARIYANTO, Kepala BPS
 

Adapun, kenaikan ekspor bulanan terbesar disumbang produk lemak dan minyak hewan/nabati yang mencapai 1,16 miliar dolar AS, bijih, terak, dan abu logam naik 226,3 juta dolar AS, besi dan baja naik 171,7 juta dolar AS, mesin dan perlengkapan elektrik naik naik 134,8 juta dolar AS, serta bahan bakar mineral yang naik 99,3 juta dolar AS.

Secara keseluruhan, neraca perdagangan pada Maret kembali mencatatkan surplus sebesar 1,57 miliar dolar AS. Kinerja impor mengalami kenaikan namun diikuti dengan nilai ekspor yang juga naik lebih tinggi. Nilai impor tercatat sebesar 16,79 miliar dolar AS, naik 26,55 persen dibandingkan Februari 2021 dan meningkat 25,73 persen daripada Maret 2020. Sama halnya pada kinerja ekspor, kenaikan impor terjadi baik untuk migas maupun non migas.

photo
Warga memancing saat berlangsung bongkar muat peti kemas di New Priok Container Terminal One, Jakarta Utara, Jumat (9/4/2021).  ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan. - (ANTARA FOTO)

Menurut Suhariyanto, pergerakan ekspor pada Maret 2021 sangat impresif. Begitu pula pada kinerja impor, khususnya untuk impor bahan baku yang digunakan industri dalam memproduksi barang. "Ke depan kita berharap performa seperti di bulan Maret bisa diulang di bulan-bulan berikutnya," kata Suhariyanto.

Menurut penggunaan barang, nilai impor barang konsumsi tercatat sebesar 1,41 miliar dolar AS, tumbuh 15,51 persen dari bulan sebelumnya. Sementara impor bahan baku/penolong dan barang modal masing-masing mencapai 12,97 miliar dolar AS dan 2,41 miliar dolar AS. Kedua golongan barang itu naik 31,10 persen dan 11,85 persen dari bulan Februari 2021.

"Pergerakan ekspor dan impor yang tinggi ini sejalan dengan beberapa indikator. Seperti PMI IHS Markit pada Maret yang di tahap ekspansif 53,2 poin," katanya.

photo
Data Ekspor-Impor Maret 2021 - (bps.go.id)

Suhariyanto mengatakan, angka PMI untuk industri manufaktur global memang cukup tinggi. Itu sejalan dengan meningkatnya aktivitas masyarakat dan bergulirnya vaksinasi serta permintaan harga komoditas yang naik dan berimbas pada kenaikan harga.

Asosiasi Pengusaha Batubara Indonesia (APBI) membenarkan bahwa dari awal tahun hingga Maret ada peningkatan permintaan batu bara dari sisi pasar global. Ini menjadi salah satu faktor pendorong peningkatan ekspor batu bara di kuartal pertama tahun ini.

"Perbaikan ekonomi dunia mendorong adanya pemulihan dari sisi industri yang berpengaruh pada permintaan batu bara. Pemulihan ekonomi global ini diharapkan juga mendorong pertumbuhan demand kedepannya," ujar Hendra saat dihubungi Republika, Kamis (15/4).

Selain faktor pemulihan ekonomi global, Hendra menjelaskan faktor pertumbuhan ekspor yang cukup baik di kuartal pertama ini didukung adanya perbaikan harga komoditas. Salah satunya komoditas batu bara. "Di kuartal I 2021 ini harga komoditas batu bara juga menguat, jauh lebih baik dibandingkan rata-rata di kuartal I 2020," ujar Hendra.

photo
Suasana bongkar muat peti kemas di New Priok Container Terminal One, Jakarta Utara, Jumat (9/4/2021). Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan menyatakan pemerintah terus berupaya meningkatkan ekspor salah satunya dengan penetrasi pasar non tradisional yang meliputi wilayah Afrika, Timur Tengah, Eurasia, Amerika latin, Asia Selatan dan Oceania. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/rwa. - (ANTARA FOTO)

Belum cukup

Kinerja surplus neraca perdagangan barang pada kuartal I 2021 dinilai belum cukup untuk membalikkan pertumbuhan ekonomi ke laju positif. Para ekonom menilai, laju pertumbuhan nasional pada kuartal pertama tahun ini masih tetap berada pada level negatif.

Ekonom Center of Reform on Economics Yusuf Rendy Manilet mengatakan, kontribusi ekspor dan impor terhadap produk domestik bruto (PDB) relatif kecil dibandingkan konsumsi dan investasi. Sementara, perkembangan konsumsi masyarakat dan pemerintah serta realisasi investasi belum menunjukkan perbaikan pada tiga bulan pertama 2021.

"Dari sisi konteks kontribusi ke pemulihan ekonomi, tampaknya belum terlalu terlihat. Kami melihat pertumbuhan masih kisaran -1 sampai -2 persen," kata Yusuf kepada Republika, Kamis (15/4).

photo
Data Ekspor-Impor Maret 2021 - (bps.go.id)

Kendati demikian, Yusuf menilai kinerja ekspor dan impor Indonesia selama kuartal pertama menunjukkan perbaikan. Peningkatan ekspor menunjukkan adanya kenaikan permintaan barang dari pasar luar negeri. Sementara itu, pasar dalam negeri juga mencerminkan adanya peningkatan permintaan.

Itu terlihat dari naiknya impor bahan baku oleh para industri untuk meningkatkan produksi. "Memang kita lihat data akumulatif tunjukkan ada terjadi tren perbaikan pemulihan ekonomi," kata Yusuf.

Senada dengan Yusuf, Direktur Institute for Development of Economics and Finance, Tauhid Ahmad, mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama masih akan berada di kisaran minus 1 persen. Menurutnya, surplus perdagangan yang diperoleh juga belum begitu sehat.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Badan Pusat Statistik (bps_statistics)

"Surplus lebih terjadi karena impor bahan baku dan modal yang berkurang karena industri mengurangi utilisasi. Sementara ekspor bahan baku seperti sawit dan batubara cenderung normal. Ya pasti akan terjadi surplus," kata Tauhid.

Di sisi lain, angka Purchasing Manager's Index (PMI) dari IHS Markit yang menunjukkan level 53,2 poin tidak sepenuhnya menunjukkan level ekspansi dari industri. Pasarlnya, indeks tersebut hanya menunjukkan aktivitas pembelian, bukan tingkat utilisasi industri.

Tauhid mengatakan, kemungkinan besar belum banyak sektor ekonomi yang pulih pada kuartal pertama tahun ini. Pasalnya, pembiayaan perbankan masih mengalami macet. Dengan kata lain, dibutuhkan restrukturisasi pembiayaan dari perbankan yang lebih untuk menolong sektor industri.


×