Pasukan militer Amerika Serikat bersiap untuk menjalani tugas di Kandahar, Afghanistan, pada 2001 silam. | John Moore/AP
16 Apr 2021, 03:40 WIB

Biden: Saatnya Akhiri Perang di Afghanistan

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani menyatakan, menghormati keputusan AS.

WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat Joe Biden, Rabu (14/4), resmi menyatakan akan menarik seluruh pasukan AS dari Afghanistan mulai 1 Mei 2021 sebagai langkah untuk mengakhiri perang terpanjang di negara tersebut. Pasukan asing di bawah komando Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) juga menarik diri dari Afghanistan yang berkoordinasi dengan AS.

Penarikan pasukan asing akan selesai 11 September mendatang. Ini tepat dua dekade setelah tragedi serangan 11 September 2001 di AS. “Itu tidak pernah dimaksudkan sebagai pekerjaan multigenerasi. Kami diserang. Kami berperang dengan tujuan yang jelas. Kami mencapai tujuan itu. Dan inilah waktunya untuk mengakhiri perang tak berkesudahan," ujar Biden.

“Saya sekarang adalah presiden Amerika keempat yang memimpin kehadiran pasukan Amerika di Afghanistan. Dua Republikan. Dua Demokrat. Saya tidak akan meneruskan tanggung jawab ini kepada yang kelima," ujar Biden.

Terkait

Biden mencatat bahwa pemimpin Alqaidah, Usamah bin Ladin, telah dibunuh oleh pasukan AS pada 2011. Biden mengatakan, Alqaidah saat ini telah menyusut di Afghanistan.

Biden menolak gagasan bahwa kehadiran pasukan AS dapat memberikan pengaruh yang dibutuhkan untuk perdamaian. Kehadiran militer AS tidak akan menentukan tercapainya perdamaian di Afghanistan. “Pasukan Amerika tidak boleh digunakan sebagai alat tawar-menawar antara pihak yang bertikai di negara lain,” kata Biden.

Keputusan Biden untuk menarik pasukan AS di Afghanistan tidak akan diundur. Dia mengenang mendiang putranya yang tewas saat bertugas di Irak. Ketika berpidato, Biden membawa data yang menunjukkan jumlah tentara AS yang terbunuh dan terluka di Afghanistan.

Namun, menarik diri tanpa kemenangan yang jelas dapat membuka kritik bahwa penarikan tersebut merupakan pengakuan de facto atas kegagalan strategi militer Amerika.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by President Joe Biden (potus)

Setelah tragedi 11 September 2001 di World Trade Center di New York dan Pentagon, Amerika Serikat dibantu Inggris meluncurkan operasi di Afghanistan dengan nama sandi Operation Enduring Freedom. Sasarannya adalah melucuti Taliban yang diyakini melindungi Alqaidah, pihak yang bertanggung jawab dalam serangan 11 September. Namun, sebagian besar pentolan militan kabur ke daerah terpencil Afghanistan atau Pakistan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyetujui pasukan keamanan International Security Assistance (ISAF) dengan misi membantu Afghanistan menciptakan keamanan di Kabul dan sekitarnya. Lebih dari 40 negara ikut dalam ISAF.

Watson Institute International and Public Affairs dalam laporan Cost of War pada 2019 menyebutkan, sekurangnya 157 ribu orang meninggal dalam perang Afghanistan sejak 2001. Lebih dari 43 ribu orang di antaranya warga sipil. Laporan Afghanistan Independent Human Rights Commission menyebutkan, 2.958 orang tewas pada 2020. 

Data terbaru PBB pada Rabu (14/4) menyebutkan, hampir 1.800 warga sipil Afghanistan tewas atau cedera dalam tiga bulan pertama 2021. Mereka menjadi korban dalam pertempuran antara pasukan Pemerintah Afghanistan dan Taliban.

Perang di Afghanistan telah merenggut nyawa 2.448 tentara Amerika dan menghabiskan sekitar 2 triliun dolar AS. Jumlah pasukan AS di Afghanistan mencapai puncaknya pada 2011, dengan lebih dari 100 ribu personel. 

Pejabat AS dapat mengklaim telah menghancurkan kepemimpinan inti Alqaidah, termasuk membunuh Usamah bin Ladin pada 2011. Namun, hubungan antara Taliban dan unsur-unsur Alqaidah tetap ada dan perdamaian serta keamanan masih sulit tercapai. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by United Nations (unitednations)

Hormati keputusan AS

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani mengatakan bahwa dia telah berbicara dengan Biden dan menghormati keputusan AS. Ghani mengatakan, Afghanistan akan berkoordinasi dengan AS untuk memastikan transisi pasukan keamanan berjalan lancar.

"Kami akan terus bekerja dengan mitra AS atau NATO dalam upaya perdamaian yang sedang berlangsung," ujar Ghani. 

Pertemuan puncak untuk membahas perdamaian di Afghanistan akan digelar pada 24 April di Istanbul. Pertemuan ini akan melibatkan PBB dan Qatar. Taliban mengatakan, mereka tidak akan berpartisipasi dalam pertemuan apa pun yang melibatkan tentang perdamaian di Afghanistan sampai semua pasukan asing pergi. 

"Sekarang setelah ada pengumuman tentang penarikan pasukan asing dalam beberapa bulan, kami perlu mencari cara untuk hidup berdampingan. Kami percaya bahwa tidak ada pemenang dalam konflik Afghanistan dan kami berharap Taliban juga menyadarinya," kata seorang pejabat tinggi perdamaian, Abdullah Abdullah. 

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan, penarikan pasukan keamanan dari Afghanistan bukanlah keputusan yang mudah dan memiliki risiko besar. Meski demikian, ia menyebut bahwa hal ini berpotensi membuat kehadiran militer secara terbuka untuk menahan ancaman kekerasan dari Taliban. 

“Ini bukan keputusan yang mudah dan mengandung risiko. Seperti yang telah saya katakan selama berbulan-bulan, kami menghadapi dilema karena alternatif untuk pergi dengan tertib adalah bersiap untuk kehadiran militer jangka panjang dan terbuka,” ujar Stoltenberg dalam konferensi pers NATO, , Kamis (15/4). 

Dalam konferensi pers tersebut, hadir Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken dan kepala Departemen Pertahanan AS Llyod Austin yang mengatakan bahwa negaranya akan menanggapi setiap serangan Taliban terhadap pasukan dan sekutu selama proses penarikan dari Afghanistan. Ia menegaskan bahwa tanggapan akan diberikan dengan paksa saat kelompok itu menargetkan serangan ke salah satu pasukan sekalipun. 

Sementara itu, Blinken mengatakan bahwa AS tetap berkomitmen untuk terus mendukung Afghanistan setelah penarikan pasukan. Kebijakan pemberian visa bagi pencari suara di bawah Program Visa Imigran Khusus juga masih dimungkinkan. 

“Kami memiliki komitmen, terutama kepada mereka yang bekerja dengan kami, yang membantu kami baik itu militer, diplomat, dan kami memiliki program yang Anda semua ketahui, yang disebut Program Visa Imigran Khusus bagi warga Afghanistan yang memenuhi syarat,” jelas Blinken.

Blinken menegaskan bahwa penarikan militer AS dari Afghanistan tidak akan mengakhiri komitmen terhadap pembangunan negara itu. Termasuk dalam hal memberikan bantuan kemanusiaan dan pasukan keamanan.

Sumber : Reuters


×