Keluarga menunggu jenazah guru sekolah dasar Oktovianus Rayo yang meninggal akibat penembakan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Timika, Papua, Jumat (9/4/2021). | SEVIANTO PAKIDING/ANTARA FOTO
15 Apr 2021, 03:50 WIB

Kabupaten Puncak Makin Rawan

Sejumlah warga menantikan dievakuasi dari Kabupaten Puncak sehubungan kondisi mencekam.

JAKARTA – Rangkaian kekerasan terus terjadi di wilayah pegunungan Papua, terutama di Kabupaten Puncak. Kejadian terkini, penembakan yang menewaskan seorang pengemudi ojek di Kampung Eromaga, Distrik Omikia, Kabupaten Puncak, pada Rabu (14/4) dini hari.

Kapolda Papua Irjen Pol Mathius D Fakhiri menyatakan, penembakan terhadap tukang ojek bernama Udin (41 tahun) itu dilakukan kelompok kriminal bersenjata (KKB). Penembakan terhadap masyarakat sipil itu terjadi di Kampung Eromaga, Kabupaten Puncak, pada Rabu (14/4) pukul 13.59 WIT.

"Pada hari dan tanggal tersebut di atas pukul 13.59 WIT, tim gabungan mendapatkan informasi telah terjadi penembakan di Kampung Eromaga, Kabupaten Puncak. Mendapati laporan tersebut, tim langsung mendatangi TKP," ungkap Fakhiri kepada Republika, Rabu (14/4).

Fakhiri melanjutkan, pukul 14.19 WIT, tim gabungan tiba di TKP. Tim kemudian mengevakuasi korban ke Puskesmas Ilaga menggunakan mobil ambulans dan melakukan visum et repertum. Korban yang diduga baru mengantar penumpang diberondong tembakan hingga mengenai dada kanan tembus punggung dan pipi kiri. Korban merupakan warga Kompleks Pasar Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua.

Terkait

photo
Jenazah pengemudi ojek yang ditembak di Kabupaten Puncak, Rabu (14/4). - (istimewa)

"Korban ditembak oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) pada saat perjalanan pulang ke Kota Ilaga setelah mengantar penumpangnya dari pedalaman," ujar Fakhiri. Menurut Fakhiri, pelaku penembakan merupakan KKB yang dipimpin Lekagak Telenggen. 

Ia menyatakan, pihaknya saat ini melakukan pengejaran dan melakukan tindakan tegas terhadap KKB tersebut tersebut. Hal itu perlu dilakukan agar tidak terjadi lagi kasus-kasus penembakan yang menimpa warga. "Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat di Kota Ilaga agar membatasi aktivitas dan tidak keluar dari Kota Ilaga guna mengantisipasi hal hal yang tidak diinginkan," ujar Fakhiri. 

Gelombang kekerasan di wilayah Kabupaten Puncak ini meningkat pada Kamis (8/4). Saat itu, kelompok bersenjata yang dipimpin Nau Waker menembak dua guru di Distrik Beoga. Pembunuhan itu dilakukan setelah kelompok bersenjata terdesak ketika diadang aparat keamanan dalam perjalanan menuju Ilaga.

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) berdalih, korban dibunuh karena ia merupakan mata-mata aparat Indonesia. Tudingan itu dibantah pihak keluarga sang guru maupun TNI-Polri.

Kemudian, pada Ahad (11/4), kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) kembali melakukan pembakaran helikopter Cooper yang terparkir di Bandara Aminggaru Ilaga, Kabupaten Puncak. Helikopter yang dibakar tersebut milik PT Ersa Air yang diparkir karena mengalami kerusakan. Sempat terjadi baku tembak selepas pembakaran, tetapi tak ada korban jiwa.

Selain membunuh dua guru, tiga bangunan sekolah juga dibakar. Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan, dan Arsip Daerah Provinsi Papua Christian Sohilait menuturkan, pembakaran sekolah pertama dilakukan pada Kamis (8/4) sore, kemudian pada Ahad (11/4). Christian Sohilait mengatakan, kerugian pembakaran itu mencapai Rp 7,2 miliar.

“Kami bingung mengapa KKB melakukan aksi pembakaran tersebut, pasalnya aksi tersebut bisa berakibat fatal karena anak-anak di Beoga, yang kawasan pedalaman, tidak dapat mengenyam pendidikan dengan baik," katanya lagi.

Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III Kolonel Czi IGN Suriastawa menilai serangan-serangan itu dilakukan sebagai rencana strategis satu dari tiga front dalam upaya memerdekakan Papua. "Intinya, dengan semakin terdesaknya OPM seiring berjalannya waktu, maka kegiatannya akan lebih banyak meneror rakyat yang lemah," kata Suriastawa kepada Republika, kemarin.

Ia menjanjikan penumpasan gerakan tersebut. "Aparat akan mempersempit ruang geraknya sampai pada titik terlemahnya menyerahkan diri ke NKRI dengan bersama-sama membangun Papua atau dibabat habis sampai ke akar-akarnya," kata dia.

Pada Selasa (13/4), Bupati Puncak Willem Wandik telah meminta aparatur sipil negara (ASN) dan pegawai kontrak untuk sementara tetap bertahan di Beoga. "Saya berharap ASN dan semuanya tetap berada di Beoga sampai kondisi aman, baru saya izinkan keluar, karena selaku bupati Puncak akan mengizinkan mereka selama dua atau tiga pekan meninggalkan tempat tugas," kata Bupati Wandik, Selasa.

Menurut dia, warga belum bisa keluar dari Beoga karena terkendala transportasi. Namun, bila situasi kondusif, Pemerintah Daerah Puncak akan membantu memfasilitasi mereka. Bupati mengiyakan, aparatur negara memang membutuhkan pemulihan trauma dengan keluar sementara, tetapi mereka perlu kembali lagi bertugas ke Beoga karena masyarakat sangat membutuhkan pelayanan mereka.

Kapolsek Beoga Ipda Ali Akbar secara terpisah mengatakan, sejak terjadinya kasus penembakan yang dilakukan kelompok kriminal bersenjata, Kamis (8/4), tidak ada lagi pesawat yang masuk dan mendarat di Beoga. Hanya ada pesawat yang mengevakuasi jenazah dua orang guru yang menjadi korban.

“Pesawat tersebut juga tidak membawa logistik sehingga warga bertahan dengan bahan makanan yang ada,” kata Ali Akbar. Ia menjelaskan, di Beoga memang ada 12 warung atau kios besar dan kecil, tetapi persediaan mereka juga mulai menipis.

photo
Jenazah guru sekolah dasar Oktovianus Rayo yang meninggal akibat ditembak oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) tiba di kamar jenazah RSUD Mimika, Papua, Sabtu (10/4/2021). Oktovianus Rayo dan guru SMP Yonathan Randen meninggal akibat penyerangan oleh KKB di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak dan selanjutnya jenazah diserahkan kepada keluarga di Timika. - (ANTARA FOTO / Sevianto Pakiding)

"Pintu masuk ke lapangan terbang Beoga melalui sisi utara di mana KKB bersembunyi, sehingga saat pesawat terbang rendah ketika mau mendarat dapat menjadi sasaran tembak," kata Ipda Ali Akbar. Kapolsek Beoga mengatakan, sejauh ini tercatat tiga orang mengungsi di polsek dan delapan orang mengungsi di koramil, sedangkan 31 orang memilih tetap tinggal di rumahnya. 

Sejumlah pengungsi memang berharap dievakuasi dan bila keamanan sudah kondusif akan kembali berdinas di Beoga. “Memang benar, kami mulai mengalami kesulitan karena kios atau warung tutup sejak terjadinya penembakan,” kata seorang petugas di Puskesmas Beoga yang enggan dituliskan namanya.

Sejak kasus penembakan, ia beserta rekan-rekan mengungsi ke rumah warga yang berdekatan dengan koramil dan berharap dapat segera dievakuasi keluar dari Beoga. Ia mengungsi bersama lima rekannya beserta dua anak balita. "Kami tidak mungkin bertugas dalam kondisi seperti ini karena diliputi ketakutan," kata tenaga medis yang mengaku masih berstatus honorer di Puskesmas Beoga itu.


×