Perempuan melintasi masjid di Paris, Prancis, beberapa waktu lalu. | AP Photo/Thibault Camus

Internasional

13 Apr 2021, 03:35 WIB

Prancis Tingkatkan Penjagaan Masjid 

Penjagaan muncul setelah aksi vandalisme terhadap masjid di Kota Rennes, Prancis

PARIS -- Menteri Dalam Negeri Prancis Gerald Darmanin telah memerintahkan otoritas keamanan di negaranya meningkatkan penjagaan terhadap masjid. Perintah itu muncul setelah adanya aksi vandalisme terhadap masjid di sebuah pusat kebudayaan Islam di Kota Rennes, Prancis.  

"Coretan anti-Muslim yang telah tertulis di pusat budaya dan agama ini tidak dapat diterima. Kebebasan beribadah di Prancis adalah kebebasan mendasar," kata Darmanin saat berkunjung ke Avicenna Islamic Cultural Center (AICC) di Kota Rennes pada Ahad (11/4), dikutip laman Anadolu Agency

Darmanin mengungkapkan kunjungannya ke AICC adalah untuk menunjukkan solidaritas pemerintahan Presiden Emmanuel Macron dengan komunitas Muslim. Coretan atau grafiti yang terpampang di dinding masjid AICC menghina Islam dan Nabi Muhammad. 

Coretan dilakukan di sisi bangunan yang digunakan sebagai ruang sholat di Kota Rennes. Di antara slogan-slogan yang tertulis di gedung itu adalah "Katolik, agama negara" dan "Tidak untuk Islamifikasi". 

Darmanin menyatakan, serangan terhadap Muslim adalah serangan terhadap negara. "Serangan terhadap Muslim adalah serangan terhadap Republik," katanya.

Darmanin mengatakan, perusakan tempat ibadah ini adalah serangan yang menjijikkan terhadap kebebasan fundamental untuk percaya pada suatu agama. Dia menegaskan, Muslim berhak mendapatkan perlindungan yang sama seperti kelompok agama lain di Prancis. 

Darmanin merupakan seorang konservatif dalam pemerintahan Presiden Emmanuel Macron. Dia adalah sponsor Rancangan Undang-Undang (RUU) sekulerisme yang mengkonsolidasikan prinsip-prinsip Republik tanpa pandang bulu. Meski tak mengacu khusus kepada Muslim, RUU itu dinilai secara khusus menargetkan komunitas Muslim. 

Organisasi payung Muslim Prancis, French Council of Muslim Worship (CFCM), mengatakan insiden di Rennes terjadi dua hari setelah serangan pembakaran Masjid Arrahma di Nantes serta ancaman pembunuhan yang ditujukan kepada jurnalis Muslim, Nadiya Lazzouni. CFCM, menyebut insiden itu sebagai serangan yang tidak dapat diterima. 

"Menjelang Ramadan dan menghadapi lonjakan aksi anti-Muslim, CFCM menyerukan umat Islam di Prancis untuk waspada," cicit asosiasi itu di //Twitter//. 

CFCM memperkirakan meningkatnya tindakan anti-Muslim adalah akibat perdebatan RUU baru. CFCM mengatakan perdebatan itu "sayangnya telah menjadi forum untuk pembenci dari semua lapisan". 

CFCM menyebut slogan-slogan Islamofobia adalah bagian dari gerakan separatis yang ideologinya menginspirasi Brenton Tarrant, pelaku penembakan dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, pada Maret 2019.

CFCM menilai hal itu meupakan ancaman bagi negara dan sesama warga di dalamnya. Ia mengimbau umat Islam di sana tetap waspada dan tidak terlibat dalam "pertarungan" yang salah. 

Setelah melalui rentang sejarah yang panjang, Prancis mengikuti bentuk sekularisme yang ketat yang dikenal sebagai "laicité". Konsep ini yang dirancang untuk memisahkan agama dan kehidupan publik.

Sumber : Reuters


×