IMAN SUGEMA | Daan Yahya | Republika
12 Apr 2021, 03:40 WIB

Kerusakan Modal dan Tenaga Kerja

Kecepatan pemulihan ekonomi sangat bergantung pada sejauh mana kerusakan pada modal terjadi.

OLEH IMAN SUGEMA

 

Tanda-tanda akan pulihnya perekonomian semakin menguat. Hasil survei Bank Indonesia menunjukkan perbaikan dalam ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan kerja, perluasan kegiatan usaha, dan kenaikan pendapatan selama enam bulan ke depan.

Tentunya hal ini sangat terkait dengan mulai gencarnya upaya vaksinasi Covid-19. Walaupun demikian, cepat tidaknya pemulihan ekonomi nasional sangat bergantung pada beberapa hal berikut ini.

Terkait

Pertama tentunya adalah kecepatan dan efektivitas vaksinasi. Sejauh ini, efikasi vaksin adalah hal yang berada di luar kendali pemerintah dan para peneliti di dalam negeri. Sebab, virus secara alamiah terus mengalami mutasi dan tak ada satu pun negara yang memiliki kemampuan untuk memproyeksikan ke arah mana mutasi akan terjadi.

Kita juga belum mendapat kepastian sejauh mana antibodi yang terbentuk setelah vaksinasi akan bertahan dalam tubuh kita. Apakah perlu diulang sekali dalam setahun atau hanya perlu dilakukan sekali seumur hidup.

Dalam konteks ini adalah menjadi sangat penting untuk tetap mengedepankan kemandirian nasional dalam hal vaksin. Kita memiliki jumlah penduduk di atas 270 juta jiwa dan tentunya ini merupakan beban keuangan yang berat bila kita harus tergantung terus-terusan terhadap vaksin impor.

 
Dalam konteks ini adalah menjadi sangat penting untuk tetap mengedepankan kemandirian nasional dalam hal vaksin.
 
 

Bukan hanya APBN yang terbebani, tetapi juga neraca pembayaran nasional kita. Karena itu, walaupun sebagian orang mungkin menganggapnya terlambat, upaya untuk menciptakan vaksin Merah-Putih perlu didorong dan dipercepat.

Kita tidak bisa menggantungkan keselamatan jiwa masyarakat kepada pihak asing. Untuk sementara ini, vaksin impor merupakan sebuah keharusan. Tetapi, kalau Covid-19 terus berkembang melalui mutasi maka vaksin dalam negeri merupakan alternatif yang tak terbantahkan.

Kedua, pemulihan ekonomi akan sangat bergantung pada sejauh mana Covid-19 telah menciptakan kerusakan pada pasar tenaga kerja. Kita agak diuntungkan dengan struktur pasar tenaga kerja yang didominasi oleh pekerja informal.

Berbeda dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia yang sangat bergantung pada tenaga kerja terdidik dan terlatih. Kerusakan di pasar tenaga kerja justru akan terjadi jauh lebih parah di Amerika Serikat dan Uni Eropa. Spesialisasi yang dalam dan kuatnya serikat buruh akan menciptakan kesulitan bagi para penganggur untuk kembali bekerja ke pekerjaan semula.

 
Pemulihan ekonomi akan sangat bergantung pada sejauh mana Covid-19 telah menciptakan kerusakan pada pasar tenaga kerja.
 
 

Walaupun kita memiliki pasar kerja yang lebih fleksibel, rigiditas dan hambatan kerja masih akan merupakan tantangan bagi sebagian penganggur. Beberapa sektor seperti perhotelan dan pariwisata mungkin akan merupakan bidang pekerjaan yang paling belakangan mengalami pemulihan.

Transformasi pelayanan dalam bentuk digitalisasi akan menciptakan peluang bagi sebagian pekerja dan sekaligus hambatan bagi sebagian yang lainnya. Substitusi bidang pekerjaan pada umumnya bukanlah perkara mudah di negara manapun.

Ketiga, kecepatan pemulihan ekonomi juga akan sangat bergantung pada sejauh mana kerusakan pada modal sedang dan sudah terjadi. Sebagian pelaku usaha mengalami kemunduran dan kerugian. Sebagian lagi mungkin telah bangkrut.

Untuk pelaku usaha yang merupakan debitur bank, mungkin bisa ditolong melalui berbagai kebijakan relaksasi di bidang perkreditan. Berbagai inisiatif dalam program pemulihan ekonomi nasional mungkin perlu diperpanjang dan diperluas.

Akan tetapi, para pelaku usaha mikro dan kecil pada umumnya harus berjuang mempertahankan usaha agar tetap hidup dengan cara masing-masing. Selain database yang tidak akurat yang menyulitkan untuk memberikan pertolongan pertama, jangkauan birokrasi yang relatif terbatas juga merupakan kendala terbesar yang harus menjadi kenyataan.

 
Birokrasi di daerah pada umumnya tidak memiliki kemampuan untuk memberikan solusi bagi pelaku usaha mikro dan kecil yang sangat beragam.
 
 

Birokrasi di daerah pada umumnya tidak memiliki kemampuan untuk memberikan solusi bagi pelaku usaha mikro dan kecil yang sangat beragam. Karakteristik UMK yang sangat kental dengan dimensi sosial membutuhkan solusi yang spesifik wilayah, spesifik sektor, dan spesifik budaya. Tentu sulit bagi pemerintah daerah untuk memberikan pertolongan kepada mereka.

Untuk kategori UMK, kita hanya memiliki satu solusi generik saja, yaitu kebijakan dari sisi permintaan atau demand side. Itu berarti pemerintah masih tetap harus menciptakan defisit anggaran.

Dengan stimulus dari sisi permintaan, setidaknya lambat tapi pasti permintaan terhadap barang dan jasa yang diproduksi oleh UMK akan tertolong. Penggelontoran dana dari pusat ke daerah akan merupakan kunci bagi stimulus di daerah yang pada gilirannya akan menciptakan permintaan bagi pelaku di daerah.

Ada hukum ekonomi yang terdengar lucu bagi kalangan awam: penghematan merupakan hal yang paling buruk kalau dilakukan di kala resesi. Kita sebagai ekonom akan sangat maklum kalau pengeluaran pemerintah di berbagai tingkatan digenjot sampai batas maksimum. Itu merupakan cara satu-satunya yang bisa kita lakukan untuk menolong usaha mikro-kecil.

 


×